Guru British International School Tangerang Mogok Kerja

Hasan Kurniawan, Okezone · Rabu 06 April 2011 12:51 WIB
https: img.okezone.com content 2011 04 06 338 443035 tEG6WcFCEv.jpg ilustrasi

TANGERANG- Puluhan guru dan karyawan British International School yang tergabung dalam Serikat Pekerja (SP) British International School (BIS), menggelar aksi mogok kerja selama tiga hari terhitung hari ini hingga dua hari ke depan.

Aksi mogok kerja puluhan guru dan karyawan itu dilatarbelakangi pemecatan Sari Putri, Ketua Serikat Pekerja BIS, yang sudah bekerja selama hampir 13 tahun dan beberapa pengurus SP BIS lainnya.

Akibat mogok kerja puluhan guru dan karyawan ini, kegiatan belajar mengajar BIS terganggu. Namun, tidak sampai menghentikan kegiatan belajar mengajar di sekolah yang sudah berdiri sejak 13 tahun dan memiliki 1.300 siswa berkebangsaan Inggris, Asia, dan negara-negara Eropa itu.

"Kita mogok kerja tiga hari. Kita lakukan ini dengan persiapan 3,5 tahun ada guru manager IT, manager data base, maintenence, asisten guru, guru, dan pengawal murid," ujar Sari kepada Okezone, Rabu (6/4/2011).

Dia menceritakan, dalam PHK tersebut para guru dan karyawan tidak diberi uang pesangon. "Ini merupakan bentuk penjajahan. Ada diskriminasi pemberian upah kerja pribumi dan asing," keluhnya.

Untuk karyawan kontrak, Sari menambahkan, pekerja tidak dapat tunjangan dan pembayaran upahnya dilakukan perhari. Namun, dibayarkan setiap bulan. Dalam sebulan, pegawai kontrak BIS dapat upah sesuai UMP sampai Rp 30 juta. Sesuai dengan bidang dan keahliannya. Sedang pekerja asing kontrak mendapat upah USD2.000-3.000.

"Saya pernah bekerja di luar negeri, di sana tidak ada perbedaan pembayaran mata uang. Semua pekerja dibayar dengan mata uang yang sama," tegasnya.

Sementara itu Kemal Siregar, penasehat hukum BIS, membantah semua tudingan pekerja yang melakukan mogok. Menurutnya, para pekerja terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan.

"Mogok karyawan di depan itu tidak sah, PHK yang kami keluarkan sudah sesuai dengan Undang-Undang. Total pekerja yang di PHK berjumlah lima orang," bebernya.

Dia juga menjelaskan, tidak ada diskriminasi dalam pemberian upah pekerja. Semua sudah dilakukan sesuai dengan kompetensinya masing-masing.

"Sebelumnya kita sudah berunding dan para pekerja minta semua tuntutan mereka dipenuhi. Itu tidak mungkin, pekerja yang sudah di PHK tidak bisa dipekerjakan kembali," tegasnya.

Aksi mogok guru dan karyawan ini dilakukan di pinggir Jalan Raya Jombang, depan gerbang BIS dengan memasang spanduk dan tenda. Mereka juga menggelar orasi yang isinya mengecam tindakan sepihak sekolah yang melakukan PHK.

(ugo)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini