Teroris "Tukang Mainan" Itu Sering Baca Buku

Catur Edi Purwanto, SUN TV · Sabtu 23 April 2011 13:20 WIB
https: img.okezone.com content 2011 04 23 338 449127 nW7WKttJys.jpg Dok. Okezone

JAKARTA - Tak banyak yang diketahui warga dari aktivitas keseharian lima orang tersangka teroris yang mengontrak di rumah milik Bambang di Desa Rawadas RT 01/02, Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Sepengetahuan warga, kelima tersangka teroris berinisial A, D,M, R dan A tampak seperti warga biasa lainnya meski jarang bergaul dengan lingkungan sekitar.

Tak ada yang ganjil. Namun, salah satu tersangka teror bom buku M yang biasa menjajakan mainan anak-anak punya kebiasaan lain dari pedagang mainan kebanyakan. "Dengar-dengar dari tukang dagangan yang lain, dia (M) kalau lagi sepi sering baca buku," kata tetangga yang tak mau disebut namanya kepada okezone, Sabtu (23/4/2011).

Pemilik warung kecil ini pun sempat menaruh curiga dengan M yang tak ramah layaknya penjaja mainan biasa bersikap. Meski di lingkungannya banyak anak-anak yang berkerumun bermain, M hanya berlalu, dia memilih mangkal di SD Nurul Islam dan SDN 03 Malaka, Pondok Kopi.

"Anak saya waktu itu nangis minta dibelikan mainan, tapi saya panggil-panggil dia (M) tidak mau menjawab dan langsung balik ke kontrakkannya," cerita ibu ini.

Mengenai kebiasaan M membaca buku di waktu senggang juga dibenarkan Ketua RT Murofik. Dia pernah menanyakan gelagat M ke sejumlah pedagang lain. "Kalau enggak ada yang beli suka baca buku," ujarnya.

Kemarin, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam menyebut 20 tersangka pelaku bom buku dan bom Gereja Christ Cathedral Serpong mempelajari proses pembuatan bom secara otodidak melalui buku. "Mereka ini kelompok baru, walaupun dengan pola lama. Mereka ini belajar dari buku-buku saja," ujar Anton.

Soal pola doktrinasi jihad secara otodidak juga pernah disebutkan Peneliti senior International Crisis Group Sidney Jones. Pola baru ini kata Sidney lebih efektif untuk membuat gerakan teroris dengan sel kecil sehingga tidak mudah teridentifikasi.

"Ada ide-ide radikal, dianjurkan berjihad dengan kelompok kecil daripada orang besar karena sulit dideteksi. Jadi cukup satu-dua orang saja berjihad," jelasnya

(fer)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini