nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemda DKI Segera Berlakukan Moratorium Izin Mal

Fitriyah Tri Cahyani, Jurnalis · Rabu 13 Juli 2011 19:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2011 07 13 338 479546 N10OuuXc6a.jpg

JAKARTA - Pesatnya pembangunan pusat perbelanjaan di ibu kota, membuat Gubernur DKI Fauzi Bowo berencana melakukan moratorium penerbitan izin bagi pusat perbelanjaan yang luasnya lebih dari 5000 meter.

Direncanakan moratorium tersebut bakal diumumkan dalam waktu dekat dan berlaku hingga akhir 2012 mendatang.

“Dalam waktu dekat saya akan mengumumkan moratorium pemberian izin pendirian mal, untuk sementara waktu,” kata Fauzi, usai membuka Musyawarah Daerah Real Estate Indonesia (REI) VII DKI Jakarta di Hotel Nikko, Jakarta Pusat, Rabu (13/7/2011).

Dikatakan Fauzi moratorium perlu dilakukan, menginggat saat ini masih ada pusat perbelanjaan yang tidak terisi penuh. “Saya mendapat masukan cukup banyak dan hampir merata dari teman-teman pengembang bahwa perizinan untuk pusat perbelanjaan atau pertokoan yang lebih dari 5.000 meter perlu dievaluasi,” jelas Foke sapaan akrabnya.

Tambah Fauzi, selama masa evaluasi yakni hingga akhir 2012 mendatang, pihaknya tidak akan mengeluarkan izin pendirian mal baru. Sementara yang saat ini ada akan tetap berjalan seperti biasanya. "Yang ada akan tetap berjalan dan kita evaluasi. Sementara yang baru tidak dikeluarkan izinnya," tegasnya

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia, Handaka Santosa menyambut baik rencana moratorium pembangunan mal di Jakarta.  “Kalau ada moratorium, bisa jadi penguatan pondasi dalam bisnis mal karena untuk sementara waktu itu tak ada suplai,” ungkapnya.

Handaka juga tak menampik keberadaan pusat-pusat perbelanjaan yang masih belum terisi secara optimal seperti yang diungkapkan oleh Gubernur Fauzi Bowo. “Memang ada beberapa trade center yang masih kosong, nah mudah-mudahan dengan moratorium sampai 2012 ini yang kosong-kosong dapat kita isi,” tandas Handaka

Kendati Handaka juga meminta agar moratorium tidak dilakukan untuk jangka waktu yang terlalu lama. Pasalnya, dengan pendapatan per kapita warga Jakarta yang mencapai USD 10 ribu dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5 persen, pasar masih bisa menyerap keberadaan pusat-pusat belanja baru.

Saat ini, Handaka menyebut ada 68 pusat perbelanjaan di Jakarta yang meliputi mal dan trade center dengan berbagai kelas. Ia memperkirakan jumlah pusat perbelanjaan di Jakarta masih bisa tumbuh sekira lima sampai 10 persen dari total yang ada saat ini. “Saya kira dari jumlah itu masih bisa tumbuh 5 sampai 10 persen lagi," tandasnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini