nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Senator Desak Ahok Hapus Jakarta Jadi Tujuan Trafficking

Misbahol Munir, Jurnalis · Senin 06 April 2015 16:58 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 04 06 338 1129873 senator-desak-ahok-hapus-jakarta-jadi-tujuan-trafficking-zlQoFCPxUo.jpg

JAKARTA - Terbongkarnya dugaan perdagangan orang yang dialami remaja 14 tahun asal Bogor yang dipekerjakan di diskotek wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara, semakin membuka tabir bahwa tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau trafficking yang merupakan kejahatan kemanusiaan kini semakin mudah dilakukan.

Kota-kota besar seperti Jakarta yang identik dengan ramainya kehidupan malam dan tempat-tempat hiburan menjadi tujuan perdagangan orang. Karena itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) diminta dengan tegas mencegah Ibu Kota dijadikan tujuan trafficking.

Di Jakarta, selain dipekerjakan di tempat hiburan malam sebagai pekerja seks komersial (PSK), korban juga dijadikan pembantu rumah tangga (PRT), pengemis, buruh, dan pengedar narkoba. Wilayah seperti Mangga Besar, Rawa Bebek, Blok M, Kali Jodo, dan Ciracas menjadi konsentrasi atau tempat penerimaan korban trafficking. Mayoritas korban adalah anak dan perempuan.

"Saya harap Pak Ahok tegas dalam pemberantasan trafficking di Jakarta setegas saat dia bicara korupsi," kata Fahira Idris, Wakil Ketua Komite III DPD RI yang membidangi perlindungan anak, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta Senin (6/4/2015).

Fahira mengatakan, perdagangan orang adalah pelanggaran hak asasi manusia yang bersifat kejahatan kriminal luar biasa sehingga mulai pencegahan, penanganan, hingga sanksi hukumnya juga harus luar biasa agar membuat orang takut melakukan tindakan pidana ini. Tetapi yang terjadi sekarang, kelihatannya perdagangan orang semakin mudah dan terjadi di sekitar kita.

Jika tidak ingin diidentikkan sebagai kota tempat tujuan perdagangan manusia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus punya rencana aksi pencegahan trafficking, salah satunya rutin melakukan razia di tempat-tempat hiburan malam dan menindak tegas tempat hiburan malam yang memperkerjakan anak di bawah umur.

Fahira juga menyoroti minimnya aksi intelijen dalam mengendus perdagangan manusia. Padahal, Badan Intelijen Negara (BIN) adalah salah satu anggota Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

"Jadi selain narkoba, yang dirazia juga ada-tidak indikasi trafficking, terutama di tempat hiburan malam. Jika ada, tutup tempat hiburannya. Seret pemiliknya ke pengadilan. Ini kejahatan luar biasa. Masa depan anak-anak kita rusak. Polisi harus bisa bongkar sindikat perdagangan orang ini," tegas senator asal Jakarta ini.

Jika melihat kronologi yang yang dipaparkan KPAI, mulai proses, cara, hingga tujuan oknum yang membawa korban ke Jakarta, Fahira memastikan apa yang menimpa remaja Bogor ini sudah bisa dikelompokkan sebagai TPPO.

"Kalau dilihat dari prosesnya ada tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, dan pemindahan. Kalau melihat caranya juga ada bujuk rayu, penipuan, dan pemalsuan dokumen. Tujuannya juga memenuhi TPPO yaitu ada eksploitasi dalam hal ini pelacuran dan kekerasan seksual. Terakhir, korban di bawah 18 tahun. Jadi, ini jelas TPPO. Saya sangat mengapresiasi gerak cepat KPAI membongkar kejahatan ini," ungkap perempuan yang juga aktivis perlindungan perempuan dan anak ini.

Menurut Fahira, saat ini pelaku perdagangan manusia menggunakan berbagai cara untuk melancarkan aksinya. Modusnya mulai yang mudah diidentifikasi, misalnya pengiriman tenaga kerja ke luar kota maupun luar negeri dan penculikan hingga kedok melalui kegiatan-kegiatan resmi seperti duta seni budaya, kontes kecantikan, ajang pencarian bakat, pertukaran pelajar, pengangkatan anak hingga berpura-pura berbaik hati mencarikan pekerjaan menarik dengan gaji menggiurkan sampai tawaran perjalanan wisata gratis.

"Ini menjadi kompleks, karena semua orang bisa menjadi pelaku TPPO. Bahkan, orang terdekat sekalipun yang seharusnya melindungi. Makanya, sosialisasi dan advokasi menjadi penting dan ini tugas negara," tegas Ketua Yayasan Anak Bangsa Berdaya dan Mandiri (ABADI) ini.

Fahira Idris mensinyalir masih banyak tempat hiburan malam di Jakarta yang mempekerjakan anak-anak perempuan korban perdagangan orang. Ini sesuai pengakuan remaja asal Bogor yang menyatakan bahwa selain dirinya ada beberapa remaja lain di tempat penampungan.

(hol)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini