17 Tahun Reformasi di Mata Ahok

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Jum'at 22 Mei 2015 04:08 WIB
https: img.okezone.com content 2015 05 22 338 1153407 17-tahun-reformasi-di-mata-ahok-0K8DPmbgT2.jpg

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengakui pasca 17 tahun berjalannya reformasi masih banyak terjadi praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Oleh karenanya, mantan Bupati Belitung Timur ini menyarakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberantas para koruptor yang telah memakan uang rakyat.

"Potong-potong saja. Kita lagi pikirkan sebetulnya di Jakarta itu (agar tidak ada korupsi) bisa juga nasional dengan Pak Presiden ya," ujar Ahok usai meresmikan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Bahari, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2015).

Suami VeronicaTan itu menjelaskan, salah satu cara mengurangi korupsi di ibu kota yakni dengan mengeluarkan pelarangan menarik uang kontan di atas Rp25 juta. Jika cara juga dilakukan, sambungnya, maka dapat dipastikan mengurangi bentuk peraktek korupsi. "Pembatasan menarik uang kontan itu idenya. Pasti ini akan ada perlawanan keras sama koruptor-koruptor, pasti keras ini perlawanan," jelas Ahok.

"Di DKI kan dibatasi (tarik tunai) Rp25 juta. Harusnya juga di seluruh Indonesia, orang Indonesia tarik kontan gak boleh lebih dari satu kali UMP. Jadi semua orang mesti transkasi ada rekening bank. Dengan cara seperti itu ketahuan duitnya siapa. misal kamu mau nyogok Rp1 miliar nariknya gimana? Narik uang berulang-ulang pasti nanti ketahuan," lanjutnya.

Suami Veronica Tan ini berharap, pola pemikiran pemerintah kedepan dapat senada dengan Pemprov DKI Jakarta. "Harusnya mau mengarah ke situ negara ini, tapi kan Presiden lagi ngukur juga (dengan cara apa menghilangkan korupsi). Maknya saya mau coba di Jakarta, tapi cari celah, caranya dulu," tandasnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini