Diusia ke-488, Kriminalitas Ibu Kota Masih Mengerikan

Awaludin, Okezone · Senin 22 Juni 2015 09:49 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 22 338 1169139 diusia-ke-488-kriminalitas-ibu-kota-masih-mengerikan-88Q69wKMs8.jpg Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Hari ini Jakarta genap berusia 488 Tahun, namun angka kriminalitas di Ibu Kota Jakarta terbilang tinggi. Hampir setiap hari ada saja aksi kriminalitas di Jakarta. Belakangan aksinya cenderung sadis dan mengerikan. 

Salah satunya pembunuhan dengan cara mutilasi yang sempat menghebohkan masyarakat pada 2013. Pelaku membuang potongan tubuh korban di jalan tol Cawang menuju Cikampek. Perampokan dan pencurian juga kian marak, para pelaku juga kian sadis dengan menghabisi nyawa korbannya.

Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya tahun 2014, wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Timur menjadi wilayah di DKI yang paling rawan kriminalitas. Di Jakarta Pusat meliputi kawasan Monumen Nasional (Monas), Tanah Abang, Gelora Bung Karno, Pasar Senen dan Gunung Sahari. Sedangkan Jakarta Timur seperti di Cipayung, Cibubur, Cipinang, Kampung Rambutan dan Rawamangun.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tak memungkiri hal itu. Menurutnya, kriminalitas tinggi karena kawasan kumuh masih ada di Jakarta.

"Solusinya ya, bebaskan semua kawasan kumuh. Jadi dia tidak ada tempat untuk ngumpet. Kawasan kumuh dibongkar, mereka dipindahkan ke rusun yang manusiawi sehingga saya bisa kontrol," kata Ahok.

Ahok mengatakan, tempat tinggal yang layak akan mempengaruhi perilaku seseorang untuk tidak berbuat jahat atau tindakan kriminalitas. Tempat tinggal layak membuat pemerintah daerah bisa mengontrol.

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Ade Erlangga Masdiana, menilai maraknya aksi kejahatan di Jakarta dikarenakan polisi tidak mampu mengantisipasi untuk mencegah aksi kejahatan.

"Tidak memiliki data yang kuat, dan akurat tentang perilaku orang di basis potensi konflik. Strategi kemampuan pencegahan masih kurang, dan hanya menerapkan sistem lama," ujar Erlangga saat berbincang dengan Okezone, Senin (22/6/2015).

Oleh karena itu, sambung dia, pemerintah harus mempunyai teknologi yang canggih untuk mendeteksi aksi kriminalitas di Ibu Kota Jakarta.

"Harus mempunyai alat yang canggih untuk bisa mendeteksi, kalau mengandalkan polisi, mereka sudah kewalahan. Polisi itu terbatas dan bekerja hanya di ujung, artinya kalau ada kejahatan, semua orang melimpahkan ke polisi," sambungnya.

Dia juga menegaskan, pemerintah harus gerak cepat untuk mengantisipasi tingginya angka kriminalitas, dengan cara tidak ada perbedaan antara masyarakat dengan pemerintah.

"Sistem yang dibangun harus yang efektif. Hubungan masyarakat dan pemerintah jangan ada perbedaan yang sangat tinggi, dan libatkan masyarakat dalam mengantisipasi kejahatan," tutupnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini