YLKI Temukan Pembalut Wanita Mengandung Klorin

Rizka Diputra, Okezone · Selasa 07 Juli 2015 15:44 WIB
https: img.okezone.com content 2015 07 07 338 1177727 ylki-temukan-pembalut-wanita-mengandung-klorin-NNsHRWWND2.jpg ilustrasi (Foto: Ist)

JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menemukan beredarnya pembalut wanita dan pantyliner yang mengandung klorin atau bahan kimia yang biasa dijadikan sebagai bahan pemutih.

Temuan ini berdasarkan pengujian kadar klorin pada pembalut wanita dan pantyliner. YLKI menguji setidaknya sembilan merek pantyliner yang dijual bebas di pasaran.

"Dari sembilan merek tersebut, ada tujuh merek pantyliner mengandung klorin dengan rentang lima hingga 55 ppm. Kandungan klorin paling tinggi pada pembalut merek Charm dengan 54,73 ppm, sedangkan pantyliner kandungan klor tertinggi pada merek V Class 14,68 ppm," ujar Anggota Harian YLKI, Ilyani Sudrajat dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa (7/7/2015).

Selain melakukan uji laboratorium, YLKI juga menganalisa label produk pembalut dan pantyliner. Hasilnya, sebanyak 52 persen produk tidak mencantumkan komposisi pada kemasan produk dan 57 persen produk tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa.

"Dari hasil pengujian serta analisa label bahwa pembalut dan pantyliner yang berasal dari kertas memiliki kadar klorin lebih tinggi dibandingkan yang berasal dari kapas," tuturnya.

Efek dari klorin yang ada pada pembalut dan pantyliner, sambung Ilyani, dapat menimbulkan gangguan kesehatan di antaranya seperti gangguan alat reproduksi, keputihan, gatal-gatal, iritasi bahkan dapat menyebabkan kanker.

Menurutnya, pembalut berklorin ini sangat jelas melanggar Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Di mana disebutkan bahwa hak yang mendasar bagi konsumen adalah hak atas keamanan produk, hak atas informasi, hak untuk memilih, hak untuk didengar pendapat dan keluhannya, hak atas advokasi, pembinaan dan pendidikan, serta hak untuk mendapatkan ganti rugi.

Sementara itu, Ketua Harian YLKI, Tulus Abadi menyarankan agar pemerintah membuat Standard Nasional Indonesia (SNI) yang menyangkut kadar klor pada pembalut. Pelaku usaha juga sebaiknya memerhatikan aspek keamanan produk yang dibuatnya, apalagi untuk daerah sensitif bagi wanita.

"Konsumen harus berhati-hati memilih produk pembalut karena menyangkut keamanan dan kesehatan alat reproduksinya," ujar Tulus.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini