KontraS Gelar Perkara Kasus Pidana Jakarta

Awaludin, Okezone · Kamis 19 November 2015 20:48 WIB
https: img.okezone.com content 2015 11 19 338 1252515 kontras-gelar-perkara-kasus-pidana-jakarta-c71K9h6vGH.jpg Foto: Illustrasi Okezone

JAKARTA - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), melakukan gelar perkara kriminalisasi beberapa kasus pidana yang menimpa warga di Jakarta.

Gelar perkara tersebut, seperti kasus hilangnya uang di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM), para petugas kebersihan di kasus JIS, Sulton sebagai aktivis buruh, Opung Widadi dengan kasus supporter bola dan Maulana seorang yang sedang menjalani pengobatan ketergantungan narkoba. Acara itu, KontraS telah menghadirkan ahli hukum seperti Ganjar L. Bondan, pakar hukum UI dan mantan Direktur LBH Jakarta, Febi Yonesta.

Pakar hukum Universitas Indonesia, Ganjar L Bondan mengatakan, tindak kriminalisasi sering terjadi dan memiliki beberapa indikator.

 "Tindak kriminalisasi mudah terlihat, dari proses penyelidikan yang cepat, tidak transparan dan dengan kekerasan," kata Ganjar di Jakarta, Kamis (19/11/2015).

Tindak kriminalisasi, sambung Ganjar, dapat dilakukan oleh penegak hukum kepada siapa saja. Salah satunya, bila para penegak hukum tidak bertujuan untuk mencari kebenaran materi dari suatu kasus.

"Proses hukum acara itu bisa menunjukkan kepada kita, apakah dasar untuk proses hukum itu benar atau tidak. Ini termasuk menjadi alat ukur untuk menemukan kebenaran substansi," tegasnya.

Hal ini bisa terlihat dari kasus yang dialami oleh enam orang petugas kebersihan PT ISS di Jakarta Intercultural School (JIS) yang dituduh melakukan kekerasan seksual terhadap MAK, murid sekolah TK pada 2014.

"Di dalam kasus JIS, betul telah terjadi proses hukum yang tidak prudent bahkan terjadi pelanggaran hukum yang serius. Sejak awal kasus, informasi ini sangat tertutup, karena itu patut dicurigai sejak awal tidak proper atau tidak prudent dalam proses penyelidikan," paparnya.

Lalu mantan Direktur LBH Jakarta, Febi Yonesta menilai dalam kasus JIS dan kasus yang terindikasi tindak kriminalisasi, para penegak hukum tidak berusaha mencari kebenaran meteriil. Mereka mengabaikan semua fakta dan alat bukti yang ada.

"Kasus ini sangat tinggi tuntutan publik yang menunggu pelakunya cepat ditemukan sehingga cenderung memaksakan seseorang menjadi tersangka," tuturnya.

Diketahui, kasus dugaan pelecehan seksual terhadap MAK, telah menyeret enam pekerja kebersihan PT ISS yang ditempatkan di JIS. Mereka adalah Azwar, Agun Iskandar, Zainal Abidin, Firgiawan Amin, Syahrial, dan juga menyeret Afriska yang merupakan satu-satunya petugas perempuan. Mereka menjalani proses penyelidikan dengan kekerasan tanpa didampingi penasehat hukum.

Pada akhir 2014, kelima petugas kebersihan ini harus menerima vonis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan selama delapan tahun penjara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini