Datangi Bareskrim, Lulung Ngaku Ingin Ketemu Tetangga

Bayu Septianto, Okezone · Selasa 15 Maret 2016 11:13 WIB
https: img.okezone.com content 2016 03 15 338 1336180 datangi-bareskrim-lulung-ngaku-ingin-ketemu-tetangga-jVpLwO8C8T.jpg Haji Lulung (Foto: Bayu/Okezone)

JAKARTA - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana alias Haji Lulung untuk kesekian kalinya mendatangi Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Kedatangannya untuk diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan korupsi dalam pengadaan alat uninterruptible power supply (UPS) dalam APBD-P DKI Jakarta tahun 2014.

Namun, Lulung yang datang di Bareskrim pukul 10.20 WIB itu tak mau mengakui kehadirannya untuk diperiksa penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri. Bakal calon gubernur DKI Jakarta itu malah menyebut kehadirannya untuk bertemu dengan tetangganya yang bernama Sugeng.

"Silaturahmi sama Pak Sugeng, sudah lama enggak silaturahmi," ujar Lulung di Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (15/3/2016).

Lulung membantah bila dirinya ke Bareskrim untuk memenuhi agenda pemeriksaan sebagai saksi. Menurutnya, penyidik telah selesai memanggil politikus PPP itu sebagai saksi dalam kasus korupsi UPS ini.

Lulung mengaku ingin berbincang dengan seseorang yang bernama Sugeng yang bekerja di Bareskrim. Namun, Lulung tak mengetahui di bagian apa Sugeng bekerja di Bareskrim.

"Saya enggak tahu bagian apa di sini. Dia tetangga saya di belakang rumah. Cuma lain RW. Ketemunya di sini beliau enggak sempat di rumah. Sama lah, beliau sibuk saya sibuk," celoteh Lulung.

Sementara itu, Direktur Dittipidkor Bareskrim Polri Brigjen Ahmad Wiyagus saat dikonfirmasi menuturkan, Lulung akan diperiksa sebagai saksi meringankan yang diajukan tersangka Fahmi Zulfikar, anggota DPRD DKI Jakarta.

Wiyagus menjelaskan selain Lulung, ada dua anggota DPRD DKI Jakarta lainnya yang turut diperiksa sebagai saksi untuk Fahmi Zulfikar. Namun, Wiyagus tak merinci siapa saja anggota DPRD yang dipanggil tersebut.

"Iya, diperiksa kasus UPS, ada tiga anggota DPRD yang diperiksa sebagai saksi yang meringankan atas permintaan saudara Fahmi," terang Wiyagus.

Seperti diketahui, dalam kasus ini, penyidik menetapkan lima tersangka, yakni Alex Usman yang merupakan Kepala Seksi Sarana dan Prasarana pada Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat. Pekan lalu, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi DKI Jakarta telah menjatuhkan vonis enam tahun penjara terhadap Alex Usman.

Tersangka lainnya, Zaenal Soleman selaku Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Pusat. Kemudian mantan anggota DPRD DKI Jakarta, Firmansyah dan anggota aktif DPRD Fahmi Zulfikar dan terakhir Dirut PT Offistarindo Adhiprima Hari Lo (HL).

Kasus ini dianggap telah menimbulkan kerugian negara kurang lebih Rp81 miliar untuk di Jakarta Barat. Sementara di Jakarta Pusat merugikan negara sekira Rp78 miliar.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini