nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Macao Po, Lokalisasi Pertama dan Terbesar di Ibu Kota

Risna Nur Rahayu, Jurnalis · Rabu 16 Maret 2016 20:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 03 16 338 1337846 macao-po-lokalisasi-pertama-dan-terbesar-di-ibu-kota-E0VLp8raYB.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Pada Februari 2016, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menertibkan kawasan Lokalisasi Kalijodo di Jakarta Utara. Namun penertiban diprediksi tidak akan membunuh praktik prostitusi di Ibu Kota.

Hal ini berkaca dari sejarah prostitusi ibu kota. Berulang kali lokalisasi ditertibkan, tetap saja muncul lokalisasi baru. Mulai dari yang bertarif receh hingga puluhan juta rupiah.

Bahkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengamini hal itu. "Bagi saya bukan mempermasalahkan menghilangkan prostitusi di Jakarta. Enggak mungkin. Nabi turun saja enggak bisa hilang," kata Ahok di Jakarta.

Sementara itu, pemerhati sejarah Wenri Wanhar mengatakan, sejarah menunjukkan praktik prostitusi di Jakarta selalu dipayungi pemerintah. Sejak zaman Belanda hingga Indonesia merdeka praktik itu berjalan.

"Sejak jaman Batavia dipimpin Jan Pieterszoon (JP) Coen, jaman kemerdekaan hingga Gubernur Ali Sadikin, prostitusi dilegalkan," kata pemerhati sejarah Wenri Wanhar.

Penulis Buku Sejarah Gedoran Depok itu berkisah, awal mula persemaian lokalisasi terletak di dekat barak-barak militer. Hal ini terungkap dalam buku Liesbeth Hesselink berjudul Prostitution: A Necessary Evil, Particularly in the Colonies.

Di Abad ke-17, kata dia, terdapat rumah bordil besar yang menjadi cikal bakal prostitusi ibu kota. Namanya, Macao Po. Pelacur-pelacur di sana didatangkan germo-germo dari Portugis dan Tiongkok.

"Pelacurnya dari Macau, makanya namanya Macao Po. Kebanyakan mereka memuaskan hasrat tentara Belanda yang kala itu menguasai Batavia, Posisinya di sekitar stasiun Jakarta Kota sekarang," kata dia.

Tentu saja, letak Macao Po dekat dengan barak militer Belanda, Binnenstadt yang sekarang berada di sekitar jembatan Kota Intan, Kota Tua. Tapi, Macao Po hanya diperuntukan untuk kalangan militer dan 'kelas atas'.

Seiring perkembangan Macao Po, pemerintah Hindia Belanda kemudian mengatur prostitusi di DKI Jakarta. Tujuannya untuk memisahkan prostitusi untuk kalangan militer dan sipil.

"Tahun 1852 pemerintah Hindia Belanda menerbitkan aturan yang mengatur pemisahan rumah bordil tentara (gouvernementskaten) dengan rumah bordil lainnya," ujar Wenri.

Sejak saat itulah bisnis prostitusi berkembang. "Muncul pelacuran baru seperti Gang Mangga, sekarang dekat Stasiun Jayakarta, sebelah timur Macao Po. Saking terkenalnya, sampai hari ini penyakit sipilis sering disebut dengan nama Penyakit Mangga, karena kebanyakan 'main' di gang Mangga," kata dia.

Penyakit Mangga sempat mewabah di DKI Jakarta pada tahun 1874. "Karena mewabah, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru. Intinya, pelacur harus daftar ke polisi. Selain itu, tiap sepekan sekali, pelacur diwajibkan memeriksa kesehatan mangga," ujar Wenri.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini