nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Larangan Sepeda Motor di Jalur Sudirman dan Senayan, Ini Kata Pengamat

Fransiskus Dasa Saputra, Jurnalis · Minggu 24 April 2016 14:29 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 04 24 338 1371274 larangan-sepeda-motor-di-jalur-sudirman-dan-senayan-ini-kata-pengamat-TtcrL1P4GR.jpg Ilustrasi

JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan memberlakukan pelarangan sepeda motor melintas kawasan Sudirman hingga Senayan pada 1 Mei 2016.

(Baca juga: 1 Mei, Jalur Sudirman dan Senayan Terlarang untuk Motor)

Melihat hal ini, Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), Edo Rusyanto mengatakan, pembatasan sepeda motor di Jakarta jilid dua (Sudirman dan Senayan), semestinya juga berkaca pada pembatasan jilid pertama, yakni pada kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, yang terlebih dahulu diberlakukan beberapa waktu lalu.

“Maksudnya, apakah pembatasan di ruas tersebut (MH. Thamrin), sepanjang 2014-2015 cukup efektif mencapai target yang ditetapkan?” ujarnya kepada Okezone, Minggu (21/4/2016).

Edo menambahkan, pada prinsipnya, jika memang sepeda motor hendak dibatasi lagi di sepanjang ruas Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, maka Pemprov DKI harus membeberkan apa saja tujuan dari kebijakan tersebut.

“Bila tujuannya untuk meningkatkan arus perjalanan kendaraan bermotor, khususnya mobil, seperti apa yang ingin dicapai?” kata dia.

Menurut Edo, di sisi lain, ketersediaan kendaraan pengganti berupa angkutan umum bus Transjakarta juga harus bisa dipastikan tingkat pelayanannya memenuhi standar pelayanan minimal (SPM).

“Berapa menit head way antar bus? Maklum, lewat angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, terintegrasi, dan ramah lingkungan, pemanfaatan kendaraan pribadi akan lebih mudah ditekan,” tuturnya.

Sebelumnya, dalam blog pribadinya, Edo Rusyanto juga telah mempertanyakan kebijakan larangan sepeda motor di kawasan Sudirman dan Senayan ini kepada Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Andri Yansyah.

Menurut Andri, pembatasan sepeda motor punya banyak tujuan. Paling utama adalah melindungi kesehatan pengendara sepeda motor. Artinya, jika pengendara sepeda motor beralih ke angkutan umum, seperti bus Transjakarta, maka pengendara sepeda motor akan lebih bugar. Lantaran, tidak terlalu capai dibandingkan dengan mengendarai roda dua.

“Intinya, dengan pembatasan kami memaksa orang pindah ke angkutan umum. Ini untuk mengubah pola pikir juga. Kalau tidak dipaksa, mau ditambah banyak bus tetap saja kemacetan muncul,” ujarnya dikutip dari blog edorusyanto.wordpress.com.

Lalu, sedikit banyak juga membantu pengurangan kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta. “Apalagi, jumlah motor saat ini ada sekira 15 juta,” kata Andri.

Selain itu, menurut Andri, pelarangan sepeda motor di kawasan tersebut juga untuk membantu penghematan biaya atas pembelian bahan bakar minyak (BBM).

Di sisi lain, kata Andri Yansyah, tanggung jawab pemerintah adalah menyediakan angkutan umum yang memadai. Saat ini, Jalan Jenderal Sudirman adalah jalur koridor satu bus Transjakarta. Pemprov DKI Jakarta akan menambah bus di koridor tersebut menjadi 122 dari 89 bus.

Selain di koridor satu, kata Andry, ada penambahan di 12 koridor lainnya sebanyak 400 unit. Harapannya, head way atau waktu tunggu di koridor satu dapat lebih cepat, yakni sekira lima menit. Penambahan armada di koridor satu akan direalisasikan Senin, 25 April 2016.

“Seminggu setelah itu kami akan uji coba pembatasan sepeda motor,” tutur Andry.

Saat disinggung apakah pembatasan sepeda motor itu dapat mengurai kemacetan secara signifikan, Andri Yansyah mengaku, dampaknya tidak serta merta mengurai kemacetan. “Sedikit banyak akan berdampak mengurai kemacetan,” kata dia.

Justru, tegasnya, ada rangkaian lain dari pembatasan sepeda motor ini, yaitu penerapan Electronic Road Pricing (ERP), yakni pungutan bagi pengendara mobil yang melintas di jalan tertentu. “Pembatasan dan penerapan ERP itu satu rangkaian,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini