nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

FOKUS: Jakarta Banjir Lagi, Fenomena La Nina atau Lumpuhnya Drainase?

Amril Amarullah, Jurnalis · Minggu 28 Agustus 2016 21:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 08 28 338 1475203 fokus-jakarta-banjir-lagi-fenomena-la-nina-atau-lumpuhnya-drainase-ibNcgDjcxz.jpg Banjir di Jakarta (foto: Okezone)

JAKARTA - Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya, Sabtu 27 Agustus 2016 menyebabkan banjir di sejumlah titik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, banjir terkonsentrasi di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Masyarakat Jakarta tidak menyangka, karena biasanya banjir di wilayahnya lebih disebabkan karena kiriman Bogor. Kasus ini berbeda, sejumlah titik di Jakarta tergenang, ada yang mencapai 90-100 centimeter (cm).

Data yang dihimpun Okezone dari BPBD DKI Jakarta terdapat 39 RW di 15 kelurahan, delapan kecamatan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur terendam banjir. Sebanyak 10.538 KK atau 31.622 jiwa terdampak langsung oleh banjir.

Adapun titik banjir di Jakarta Selatan meliputi Kecamatan Kebayoran Baru, Cilandak, Cipete Selatan, Pasar Minggu, Mampang Prapatan, dan Pesanggrahan. Sedangkan di Jakarta Timur banjir di Kecamatan Pasar Rebo, Ciracas, dan Kramat Jati. Banyak rumah dan mobil-mobil mewah harus direlakan terjebak oleh banjir.

Pemandangan tersebut memang bukan hal baru dan yang pertama bagi warga Jakarta. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah ini lebih disebabkan oleh fenomena alam La Nina atau ada kesalahan dalam sistem tata letak perkotaan, terutama drainase saluran air ?

Juni 2016, Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) pernah mengimbau masyarakat agar selalu waspada mengahadapi banjir yang sewaktu-waktu akan datang. Hal itu, menurut BNPB bisa disebabkan karena fenomena La Nina diperkirakan akan memberikan pengaruh meningkatnya hujan. Dan diperkirakan hingga September, pada saat musim hujan diperkirakan curah hujan meningkat lebih besar sehingga potensi banjir di Jakarta akan meningkat.

Terlebih, sejumlah lembaga prakiraan cuaca di beberapa negara memprediksi fenomena La Nina akan datang lebih cepat pada tahun ini. Bahkan, Biro Meteorologi Australia menyatakan perubahan terkini terlihat di wilayah tropis Samudera Pasifik.

Jika dikombinasikan dengan prediksi model yang iklim pandangan saat ini, menunjukkan kemungkinan La Nina pada tahun 2016 telah meningkat menjadi sekitar 50 persen.

Melihat potensi tersebut, sudah seharusnya pemerintah daerah memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan dan menjadikan ini sebagai ancaman serius. Sebab apa yang terjadi Sabtu kemarin, pernah juga terjadi pada Februari 2015, dan Maret 2016. Ini bukan yang pertama.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan, hujan dari Jakarta saja sudah terendam dan ini menunjukkan lumpuhnya sistem drainase di Jakarta. “Ini sungai masih aman. Kalau sampai sungai meluap ditambah hujan di tempat lain (kota penyangga), maka genangan akan terasa lebih lama," kata Yayat saat berbincang dengan Okezone.

Menurut Yayat, melihat fakta tersebut fakta tersebut menekankan kepada pemerintah untuk tidak mengklaim berhasil mengantisipasi banjir di Jakarta. Apalagi dengan sistem drainase yang buruk dinilai salah satu biang dari bencana musiman yang meresahkan warga ini.

Kemang Jadi Sorotan

Masih menurut Yayat, terendamnya Kemang pada Banjir Sabtu kemarin, bukanlah sesuatu yang baru. Kawasan ini kerap menjadi langganan banjir ketika hujan deras mengguyur selatan Jakarta.

Menurutnya, Jakarta Selatan khususnya Kemang merupakan salah satu daerah yang peruntukannya sebagai daerah resapan air dengan pembangunan hunian terbatas.

Namun nyatanya pada saat ini Kemang menjadi salah satu pusat komersil di Jakarta. Padahal, daya dukung Kemang sebagai pusat komersil tidak siap.

Akibatnya pengembangan yang dilakukan di Kemang menimbulkan masalah lingkungan, salah satunya banjir. Menurut Yayat, banyak bangunan baru di Kemang yang tidak membuat resapan airnya.

"Kemang ini sebenarnya wilayah resapan air sesuai RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) 2005, karena terjadi pembiaran dan pelanggaran akhirnya diputihkan jadi kawasan komersil pada 2010," kata Yayat.

Dia mengatakan, karena semakin sedikitnya resapan air, menyebabkan run of water atau larian air ke daerah tersebut menjadi tinggi. Akibatnya ketika hujan deras mengguyur, kawasan tersebut tak kuasa menampung air yang datang.

 Artinya ada masalah di tata ruangnya, karena bisnis lebih kenceng ya sudah yang terjadi adalah pembiaran yang puncaknya itu adanya pemutihan tadi.

Saat ini hampir 70 persen kawasan Kemang yang dahulunya adalah ruang hijau dengan permukiman terbatasa kini punya tampilan baru sebagai daerah bisnis yang potensial.

Tentu pemandangan seperti ini, seperti mitos yang abadi, dimana Jakarta dan wilayah penyangga lainnya, Tangerang, Depok dan Bekasi selalu menjadi langganana banjir.

Ini menunjukkan bahwa selain hujan deras, banjir juga disebabkan saluran drainase tidak mampu menampung dan mengalirkan aliran permukaan dari hujan. Hujan berintensitas tinggi seringkali menimbulkan banjir dan genangan di wilayah Jakarta.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini