nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hati-Hati, Banyak Obat Kadaluarsa yang Diperjualbelikan

Regina Fiardini, Jurnalis · Senin 05 September 2016 14:57 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 09 05 338 1481608 hati-hati-banyak-obat-kadaluarsa-yang-diperjualbelikan-A47CF7HH7k.jpg Obat Kadaluarsa yang Masih Diperjualbelikan di Pasar Pramuka (Foto: Regina/Okezone)

JAKARTA - Bagi Anda para konsumen yang membutuhkan obat, sebaiknya lebih berhati-hati saat membeli. Pasalnya, baru-baru ini polisi meringkus penjual obat berinisial M lantaran menjual obat-obatan yang sudah kadaluarsa di Pasar Pramuka dan Jalan Kayu Manis, Matraman, Jakarta Timur.

Modus yang dilakukan pelaku adalah menghapus tanggal kadaluarsa di obat tersebut dan menggantinya dengan tanggal yang lebih lama.

"Pelaku menyimpan obat-obat yang telah kadaluwarsa, selanjutnya dihapus dan diubah tanggal kadaluwarsanya untuk diperdagangkan kembali di Pasar Pramuka," kata Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Fadil Imran dalam press release di kantornya, Jakarta, Senin (5/9/2016).

Saat menjalankan aksinya, M melakukannya seorang diri tanpa dibantu siapapun. Caranya, dengan menggunakan nail polish remover dan cotton but. Selanjutnya dikirim ke toko mamar guci untuk diperjualbelikan.

"Dia sudah satu tahun beroperasi. Menjualnya selalu dalam jumlah banyak. Selama ini obat kadaluarsa juga selalu ditampung di rumahnya," tukas dia.

Dari tangan tersangka, polisi mengamankan 1963 strip obat kadaluwarsa berbaga merek, 49 botol obat cair kadaluwarsa berbagai jenis dan merek, 24 karung obat kadaluwarsa berbagai macam dan merek, 122 strip obat kadaluwarsa berbagai macam dan jenis yang telah dihapus dan diganti tahuunnya, tiga botol nail polish remover dan cotton but.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 Miliar.

Dan UU RI No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman hukuman penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp2 Miliar.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini