NEWS STORY: Ternyata Beos Bukan Stasiun Tertua di Ibu Kota Lho!

Randy Wirayudha, Okezone · Sabtu 10 Desember 2016 08:10 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 09 338 1563319 news-story-ternyata-beos-bukan-stasiun-tertua-di-ibu-kota-lho-Id1y7XRuzp.jpg Di sebelah Stasiun Jakarta Kota itulah yang kini jadi Gedung BNI Kota, yang dulunya jadi situs stasiun pertama di Jakarta (Foto: Randy Wirayudha)

BAGI kita para pegulat kehidupan dengan beragam kegiatan mencari nafkah, terutama yang menggunakan transportasi kereta api, Stasiun Jakarta Kota jadi salah satu stasiun utama di Ibu Kota. Dengan bentuk bangunannya yang mempesona, stasiun peninggalan zaman kolonialisme Hindia Belanda ini pun jadi salah satu ikon Kota Jakarta.

Tapi tahukah Anda bahwa Stasiun Jakarta Kota ini ternyata bukan stasiun kereta yang tertua di Ibu Kota? Penelusuran ini didapati Okezone ketika berbincang dengan penggiat sejarah perkeretaapian yang pernah tiga tahun jadi karyawan kontrak PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Heritage Adhitya Hatmawan.

Dalam mengungkit sejarah transportasi “ular besi” di kawasan Kota Tua beberapa waktu lalu, Adhitya memaparkan bahwa stasiun tertua di Jakarta itu adalah Stasiun Batavia. Stasiun yang didirikan perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij).

Mulai dibangun pada akhir abad 19, tepatnya tahun 1869, stasiun ini resmi beroperasi pada 1871 dengan jalur Batavia-Buitenzorg (Bogor). Letaknya kalau sekarang ada di belakang Gedung Bank BNI 46 Jakarta Kota.

“Kalau cerita soal sejarah kereta di Jakarta itu sebenarnya yang pertama itu bukan Stasiun Beos, tapi Stasiun Batavia dengan operatornya NIS pada 1869. Jalurnya menghubungkan Batavia dengan Bogor,” terang Adhit kepada Okezone.

Meski begitu, stasiun ujungnya di sebelah utara bukan di Stasiun Batavia itu. Melainkan ada sebuah “halte” atau stasiun kecil di Pasar Ikan Jakarta Utara dan jalur Batavia-Buitenzorg (kini Bogor) ini baru selesai dan resmi dibuka pada 1871.

Nah, kalau Stasiun Beos yang jadi Stasiun Jakarta Kota dan bentuk bangunannya sudah seperti sekarang, baru terjadi pada 1926 dan selesai 1929. Yang membangun adalah perusahaan kereta swasta lainnya saingan NIS, yakni Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (BEOS).

Stasiun Batavia Noord & Stasiun Batavia Zuid

Tapi bentuk bangunannya belum seperti saat ini dan pada 1870 baru didirikan BEOS. Jalur awalnya pun mengarah ke timur, tepatnya Batavia-Bekasi. Sejak ada Beos itu pun, stasiun yang hanya berjarak sekitar 200 meter itu punya sebutan berbeda, yakni Stasiun Batavia Noord (utara) milik NIS dan Batavia Zuid (selatan) milik Beos.

“Beos kemudian dibeli SS (Staatsspoorwegen), perusahaan kereta pemerintah Hindia Belanda karena memang awalnya mereka enggak punya stasiun di Batavia. Dibeli pada 1898 dan barulah mereka punya stasiun, ya stasiun Beos itu dengan membuat jalur Batavia-Duri-Angke-Tangerang-Merak,” tambahnya.

SS juga kemudian mengakuisisi NIS, pemilik jalur Batavia Noord-Bogor karena pada awal abad ke-20, NIS rugi besar. “Akhirnya dijuallah itu ke SS pada 1913 dan sejak saat itu, SS jadi pemilik dua stasiun tersebut (Batavia Noord dan Zuid),” imbuh mantan pegawai PT KAI Divisi Heritage dan penggiat sejarah Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) tersebut.

Tentu akan mubazir jika SS mengoperasikan dua stasiun yang berdekatan itu sekaligus. Maka diputuskanlah membangun stasiun yang lebih besar dan lahan yang dipilih ya di lahan berdirinya Stasiun Batavia Zuid.

Pembangunannya dipercayakan pada arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, yakni Frans Johan Louwrens Ghijsels dengan desain bergaya art deco.

“Akhir 1925, Stasiun Batavia Zuid sudah mulai dirobohkan untuk persiapan pembangunan selama tiga tahun. Sementara untuk operasional, semua jalur dipindahkan ke Batavia Noord sampai stasiun yang baru selesai dibangun 1929 dan sejak itulah, Stasiun Batavia Noord dibongkar,” sambung Adhit.

Oh iya, tentu juga tak lengkap rasanya jika tidak menyingkap dari mana sebutan “Stasiun Beos” yang banyak dikatakan masyarakat kita. Ada dua versi mengenai penyebutan ini.

Versi pertama, penyebutan Beos ya tidak lepas dari kependekan nama perusahaan Belanda Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij. Sedangkan versi kedua menyatakan kata “Beos” berasal dari Batavia En Omstreken atau jika diterjemahkan, “Batavia dan Sekitarnya” (Kini Jabodetabek).

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini