Hati-Hati... Ada Upaya Gembosi Suara Anies-Sandi di Putaran Kedua Pilgub DKI 2017

Feri Agus Setyawan, Okezone · Kamis 23 Maret 2017 09:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 03 23 338 1649746 hati-hati-ada-upaya-gembosi-suara-anies-sandi-di-putaran-kedua-pilgub-dki-2017-oTtI7dnoJN.jpg (Foto: Arie Dwi Satrio/Okezone)

JAKARTA - Berbagai cara dilakukan, termasuk melakukan serangan black campaign untuk menggembosi suara pasangan calon pada gelaran pemilihan kepala daerah. Seperti yang kini menerpa pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 3, Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pilgub DKI 2017.

Anies-Sandi diserang kontrak politik palsu yang dibubuhkan tanda tangan dengan perwakilan sejumlah Ormas Islam. Dalam kontrak palsu itu, Anies-Sandi berjanji akan menerapkan syariat Islam bila dipercaya memimpin Ibu kota lima tahun ke depan.

Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, serangan kontrak politik palsu itu tujuan utamanya untuk menggembosi suara pemilih Anies-Sandi. Apalagi, dalam sejumlah survei terakhir Anies-Sandi selalu unggul dari Ahok-Djarot.

"Kontrak palsu pada ujungnya adalah dalam rangka menggembosi suara Anies-Sandi," kata Pangi ketika berbincang dengan Okezone, Kamis (23/3/2017).

Pangi menyebut, pada putaran kedua ini, strategi yang dilakukan bukan untuk meningkatkan elektabilitas pasangan calon, melainkan bagaimana menggembosi suara lawan. Seperti serangan yang dilakukan untuk menggembosi suara Anies-Sandi.

"Sekarang tidak lagi target bagaimana meningkatkan elektabilitas, namun strategi berfikir keras bagaimana cara menggembosi suara Anies-Sandi," tuturnya.

Namun demikian, Pangi menyayangkan pertarungan merebut kursi DKI 1 ini harus ternodai dengan serangan black campaign serta isu berbau Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). Seharusnya, kata Pangi, pilkada menjadi ajang untuk mempersatukan masyarakat di tengah perbedaan pilihan politik.

"Ini sering dilupakan, pilkada itu mestinya mempersatukan, bukan mencerai-beraikan. Ia mempersatukan perbedaan-perbedaan suku, agama, ras, antargolongan dalam panggung kontestasi politik yang sehat, poin nilai utama fair play terkadang diabaikan," tandasnya.

(fas)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini