NEWS STORY: Kisah Para Jago Silat Acak-Acak Konvoi Inggris di Kranji

Randy Wirayudha, Okezone · Minggu 04 Juni 2017 10:14 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 02 338 1706273 news-story-kisah-para-jago-silat-acak-acak-konvoi-inggris-di-kranji-eDrK4qNC6R.jpg Serdadu Inggris yang tengah bersiaga dekat Stasiun Kranji (Foto: IWM)

EPOS rakyat Indonesia dalam menangkal rongrongan agresor di masa revolusi fisik menyimpan aneka cerita terpendam. Mulai dari para pemuda yang berbondong-bondong gabung tentara, hingga jawara dan pendekar berbekal jurus silat dan sekadar senjata-senjata tajam (sajam).

Sebuah perlintasan kereta api (KA) di Rawa Pasung, dekat Stasiun Kranji, Bekasi, jadi saksi sekelompok pesilat asal Subang yang berbekal takbir, jurus silat hingga golok dalam mengacak-acak konvoi kendaraan tempur (ranpur) Inggris, 29 November 1945.

Konvoi ini pula yang kemudian dihantam Laskar Rakyat pimpinan KH Noer Ali di Sasak Kapuk, Pondok Ungu, Bekasi Utara. (Baca: Heroisme KH Noer Ali Hantam Sekutu di Pondok Ungu)

Perjuangan fisik negeri kita terhadap agresor, memang tidak sedikit diramaikan para jago silat. Tapi kebanyakan beraksi secara sporadis dan tak terorganisir.

Salah satu kisah yang terekam jelas tentang sekelompok jago bela diri pencak silat yang ikut andil bertarung di medan revolusi dan terorganisir, adalah kelompok Pesilat Subang pimpinan H Ama Puradiredja. Kisah heroisme yang tertuang di buku ‘Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min’.

Mereka dengan keikhlasan hati dan nyali yang mantap, awalnya mendatangi komandan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Resimen V/Cikampek Letkol Moeffreni Moe’min. Datang meminta izin ikut bergabung dalam upaya perjuangan tampil di front terdepan.

Front terdepan yang dimaksud adalah Front Bekasi. Front dengan garis demarkasi di Kali Cakung pasca-kesepakatan sekutu dengan pemerintah RI, bahwa Jakarta sebagai kota diplomasi, wajib dikosongkan tentara republik mulai 19 November 1945.

(Baca juga: Catatan Tentara Republik Tinggalkan Jakarta, Sebar Intel dari Kebon Sirih hingga Priok)

Izin yang diterima Moeffreni dengan satu syarat. Mereka harus mau dididik dasar-dasar kemiliteran terlebih dulu, agar spirit dan bara bela negara mereka tak sia-sia jika berhadapan dengan musuh macam NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie) atau Inggris yang jelas-jelas, pemenang Perang Dunia II.

“Saudara boleh di (front) depan, tapi sebelumnya saudara diberikan beberapa pengetahuan militer dulu, supaya serangan itu efektif,” cetus Moeffreni dalam buku yang disusun keluarga besar Moeffreni terbitan 1999.

Selain dilatih kemiliteran oleh para instruktur dari organik Resimen V, para jago silat itu juga sedikitnya dibekali granat. Setidaknya itu yang bisa disumbangkan tentara republik, lantaran senjata api masih jadi barang yang terbatas persediaannya.

Para jago silat itu juga tetap dengan pakaian seadanya mereka bak petani pada umumnya di zaman itu. Hingga tiba satu rombongan konvoi ranpur Inggris yang dikuntit serdadu Belanda merangsek ke wilayah republik hingga ke Rawa Pasung, Kranji, 29 November 1945.

Para jago silat “menyamar” layaknya rakyat biasa. Beragam sajam mereka sembunyikan di balik pakaian dan ketika beberapa yang ditugaskan menutup pintu perlintasan kereta merampungkan “blokade”, lantang suara takbir “Allahu Akbar...Allahu Akbar!”, jadi pengawal serangan mendadak.

Ya, konvoi Inggris dan serdadu Belanda itu mendapat surprise attack yang tak disangka. Pertarungan jarak dekat menjamah, sebagian meloncat ke atas panser-panser, tank, truk dan hanya sedikit serdadu Inggris serta Belanda yang siap dengan senjata modern mereka.

Kebanyakan terkejut dan tidak siap hingga bertumbangan setelah menghadapi pertarungan man-to-man. Tidak dipaparkan detail berapa serdadu Inggris-Belanda yang tewas, hanya tercatat 6 anggota Pesilat Subang tinggal nama alias meninggal.

Hasilnya? 12 senapan mesin dan 10 senapan laras panjang jadi “buah tangan”. Memang aksi mereka mengacak-acak formasi konvoi itu, hanya kemenangan kecil- selevel serangan kecil semacam raid, tapi sungguh berarti.

Berarti karena mengurangi kekuatan konvoi itu yang dalam upaya mundur ke arah Pondok Ungu, justru mendapati lagi sergapan mendadak Laskar Rakyat pimpinan KH Noer Ali, dibantu TKR sektor Bekasi pimpinan Mayor Sambas Atmadinata dan TKR Laut pimpinan M Hasibuan.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini