OKEZONE STORY: 50 Tahun PRJ! Kisah Pasar Gambir hingga Jakarta Fair yang Mengundang Kekaguman Presiden Amerika

Randy Wirayudha, Okezone · Minggu 11 Juni 2017 16:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 10 338 1712901 okezone-story-50-tahun-prj-kisah-pasar-gambir-hingga-jakarta-fair-yang-mengundang-kekaguman-presiden-amerika-TkqGjWzaua.jpg Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair di era 1970-an (Foto: Troppenmuseum)

SETENGAH abad Jakarta Fair alias Pekan Raya Jakarta (PRJ). Setengah abad atau 50 tahun PRJ selalu hadir di tengah-tengah Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta yang jatuh setiap 22 Juni.

Total selama 39 hari, PRJ edisi yang ke-50 akan digelar lagi di Kemayoran, Jakarta Pusat. Tepatnya dimulai pada Kamis 8 Juni 2017 lalu sampai nanti 16 Juli 2017.

So far, ini salah satu rentang waktu gelaran PRJ terpanjang sepanjang sejarah (selain 1969 selama 71 hari). Ngomong-ngomong soal sejarahnya, festival tahunan ini ternyata awalnya bukan di Kemayoran lho, melainkan di Gambir.

Namanya juga bukan Jakarta Fair atau PRJ. Tapi Pasar Malam Gambir yang ternyata, sudah eksis sejak 1898. Dihelatnya berlokasi di Lapangan Gambir atau dulu namanya Koningsplein selama seminggu penuh oleh Pemerintah Kota Praja Jakarta.

Tema festival dan keramaiannya, mulai dari para pedagang kaki lima hingga tontonan, tergolong sama dengan PRJ sekarang. Bedanya kalau PRJ kan untuk memperingati HUT Jakarta, tapi kalau Pasar Gambir digelar tahunan sebagai sambutan HUT Ratu Belanda, Wilhelmina pada 31 Agustus.

Puncak kejayaannya terjadi di 1920-an. Kalau menengok laporan surat kabar lawas Bataviaasch Nieuwsblad 23 September 1921, gelaran Pasar Gambir di tahun itu mencapai 334.985 orang, baik masyarakat Jakarta maupun luar Jakarta dengan pendapatan hampir 19 juta gulden!

Sebagaimana PRJ sekarang juga, tentunya Pasar Gambir ada HTM-nya (harga tiket masuk). Untuk pribumi atau masyarakat Asia lainnya (Tionghoa, Arab) 10 sen, sementara orang Belanda justru lebih mahal, 25 sen.

Tapi masuknya Jepang ke Hindia Belanda pada 1942 turut mengakhiri riwayat Pasar Gambir. Sempat ada upaya menghidupkan kembali Pasar Gambir pasca-Perang Dunia II di lokasi berbeda, tapi kemudian tak lagi hidup.

Baru pada 1967, muncul gagasan menggelar festival tahunan serupa yang kemudian dirancang H Syamsudin Mangan (Haji Mangan) yang kala itu, menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri). Haji Mangan ingin gelaran festival atau pasar akbar tahunan itu juga jadi ajang pameran beragam produk dalam negeri, sekaligus membangkitkan kembali ekonomi domestik pasca-Tragedi 30 September-1 Oktober 1965.

Cetusan ide yang didukung Gubernur DKI Jakarta saat itu, Letjen (Purn) Ali Sadikin, untuk kemudian festival dengan nama Djakarta Fair dengan payung legalitas Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 1968. Djakarta Fair pertama dihelat setahun berselang, yakni 5 Juni-20 Juli 1968.

Pembukaannya turut dihadiri Presiden kedua RI Soeharto dengan melepas burung merpati pos sebagai simbolis peresmiannya. Edisi PRJ pertama yang sukses dengan catatan menyedong pengunjung hingga 1,4 juta orang.

Kemeriahan Djakarta Fair juga lantas mengundang rasa penasaran Richard Nixon, Presiden Amerika Serikat pertama yang menyambangi Indonesia, pada 1969. Dia bahkan turut “menyisipkan” rasa kagumnya dengan keragaman budaya Indonesia yang dilihatnya di Djakarta Fair, ketika tengah berpidato dalam Gala Dinner di Istana Negara, 27 Juli 1969.

Catatan pidato dalam rangka merespons pidato dan tawaran bersulang dari Presiden Soeharto, sebagaimana dikutip situs The American Presidency Project:

“...Hari ini, kami diingatkan tentang kekayaan (Indonesia) saat kami mengunjungi Djakarta Fair. Kami melihat banyak, banyak orang. Tapi kami juga melihat keanekaragaman tradisi dan budaya masa lalu dan perbedaan negara ini yang memberikan kekayaan yang begitu besar,”

Terlepas dari itu, Jakarta Fair atau PRJ pada akhirnya berpindah lokasi, dari Lapangan Monas ke Kemayoran sejak 1992. Pun begitu, Presiden Soeharto tak pernah absen untuk datang meresmikan pembukaan.

Dari tahun ke tahun nampaknya ada penurunan, dari yang diresmikan presiden, wakil presiden, hingga pada 2016 lalu hanya diresmikan pembukaannya oleh pejabat sekelas menteri. Semoga hal itu tak mengurangi animo masyarakat untuk meramaikan gelaran tahunan bersejarah itu.

Oh iya, untuk tahun ini tiket masuknya Rp20 ribu per kepala pada hari Senin, Rp25 ribu di hari Selasa-Kamis, serta Rp35 ribu di hari Jumat-Minggu serta libur nasional. Kecuali bagi Anda yang berusia 65 tahun ke atas, masuknya gratis!

Pas banget buat muda-mudi Jakarta dan sekitarnya untuk jadi tempat ngabuburit sebelum buka puasa. Karena PRJ-nya sendiri baru buka sore hari, yakni pukul 15.30-22.00 WIB selama bulan puasa Senin-Kamis. Sementara di hari Jumat buka sampai sejam lebih lama.

Adapun di akhir pekan (Sabtu-Minggu), PRJ sudah dibuka sejak pukul 10.00-23.00. Nah, pas lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah (H) juga tetap buka kok, yakni jam 15.30-23.00 WIB.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini