Cerita di Balik Penggerebekan Satu Ton Sabu: "Papa Pulang Enggak Malam Ini? Aku Ulang Tahun"

Apriyadi Hidayat, Okezone · Minggu 16 Juli 2017 04:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 15 338 1737312 cerita-di-balik-penggerebekan-satu-ton-sabu-papa-pulang-enggak-malam-ini-aku-ulang-tahun-Sn3illyKFD.jpg

DEPOK - “Papa pulang ga malam ini? Aku ulang tahun…” ketika mendengar kalimat itu, AKP Malvino langsung menunduk sayu. Meski tak bisa menahan tetes air mata, ia berusaha terlihat tegar. Vino pun berusaha melempar senyum dihadapan buah hatinya meski hatinya sedang sedih harus meninggalkan istri dan kedua anaknya demi tugas yang diemban.

Ya, kesuksesan anggota Polri dari Satgas Merah Putih mengungkap serta mengagalkan peredaran sabu seberat 1 ton asal Taiwan di Anyer, Banten, mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Namun di balik itu semua, banyak kisah haru yang dialami oleh sejumlah anggota di lapangan. Salah satunya, dirasakan pula oleh Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Malvino Edward Yusticia Sitohang.

AKP Malvino dengan hangat menerima Okezone untuk berbincang santai. Pria lulusan Victoria University of Wellington, New Zealand jurusan Master of Strategic Studies itu bercerita, seputar keberhasilan tim dalam mengungkap banda sabu jaringan internasional yang masuk ke wilayah Indonesia melalui jalur air di kawasan Anyer, Banten.

“Wah, sangat senang. Terbayar semua capek kurang lebih dua bulan (pengintaian). Karena bisa berkontribusi besar kepada bangsa. Yang lebih bahagia karena ini bisa menyelamatkan nyawa orang banyak dari bahaya narkoba,” ujar Vino, sapaan akrabnya, membuka obrolan, Sabtu (15/7/2017).

Rasa bangga usai mengungkap kasus tersebut juga sekaligus sedikit bisa membayar ketegaran hati istri dan kedua anaknya yang masih balita. Maklum, selama hampir dua bulan pengintaian, Vino belum sempat meluangkan waktu berkualitas bersama mereka. Bahkan hingga detik ini. Laataran ia dan tim harus bertolak menuju luar kota dan luar negeri dalam mengembangkan kasus yang sama.

“Saat Hari Raya Lebaran pun tim berada di Anyer untuk memantau gerak-gerik pelaku penyelundupan sabu 1 ton,” tandasnya.

Momen yang paling haru dan menguras emosional Malvino ketika Hari Bhayangkara ke-71, 1 Juli 2017 lalu. Karena tanggal tersebut juga bertepatan dengan ulang tahun putra pertamanya. Saat itu, situasi Malvino tidak memungkinkan untuk meninggalkan pengintaian, sekedar menengok keluarganya di rumah sesaat.

“Saat itu saya dapat video call dari istri. Yang paling sedih itu saat anak saya nanya ‘papa pulang ga malam ini? Aku ulang tahun hari ini’. Mau nangis rasanya hati. Pasti sedih karena memang jarang bertemu,” kata pria kharismatik kelahiran Medan, 9 Agustus 1985 itu.

Sewaktu mendengar kalimat itu, Malvino langsung menunduk sayu. Meski tak bisa menahan tetes air mata, ia berusaha terlihat tegar. Nampak, Vino berusaha senyum di hadapan meski hatinya sedang sedih akan berpisah dengan istri dan kedua anaknya dalam waktu yang cukup lama.

Harapan keluarganya untuk bertemu Malvino harus pupus, ketika ia ditunjuk kembali untuk bergabung bersama tim dalam mengungkap kasus pengeroyokan dan penganiayaan atas nama korban Hermansyah (Pakar Telematika ITB).

“Dan sampai sekarang saya belum rayakan ultah anak saya dan belum smepat bertemu karena harus tugas lagi. Setelah kasus Hermanysah saya langsung ke Batam. Masih pengembangan. Kami kejar terus ke atasnya (bandar sabu 1 ton),” jelas jebolan Akademi Kepolisian 2006 itu.

Vino bercerita, ditinggalkan dalam tugas sudah dirasakan buah hatinya sejak lahir. “Dia sudah bisa rasakan sejak lahir. Hari pertama dia lahir, keesokan harinya saya sudah berangkat ke Aceh untuk penugasan dan baru lihat anak pertama saya itu setelah tiga bulan berikutnya. Anak saya sedikit mengerti tugas orangtuanya karena selalu diceritakan tentang polisi. Dia suka dengan peran papanya menangkap orang jahat,” kata mantan Kepala Unit Subdit Keamanan Negara pada Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

“Untuk istri, untungnya bapak mertua saya adalah polisi. Jadi istri saya sudah bisa rasakan bagaimana jadi anak polisi. Sehingga dia sudah punya gambaran bagaimana menjadi istri polisi. Dia mengerti bagaimana risiko jadi polisi. Apalagi mengemban fungsi reserse yang banyak dilibatkan dalam tugas-tugas khusus,” tambahnya.

Untuk melepas rindu di waktu senggang dalam bertugas, Vino biasanya menelefon anak dan istrinya. “Seperti barusan telefon. Dalam penugasan, bila ada kesempatan saya akan menelefon anak-anak dan istri. Untung sekarang teknologi sudah canggih, bisa facetime atau video call. Jadi bisa liat wajah anak-anak. Semua capek hilang begitu liat wajah mereka meskipun via video call,” ujar pehobi lari dan baca itu.

Vino berharap, masyarakat agar lebih bijak di tengah personalan bangsa yang kompleks akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan ingin mengadudomba masyarakat Indonesia. “Tantangan bangsa kita sekarang ini sangat kompleks. Kita harus smart dalam menyikapi keadaan. Jagan mudah terpicu emosi. Check and recheck semua informasi yang ada. Saya melihat dari sisi geopolitical strategy, Indonesia ini punya banyak peluang untuk maju menjadi negara dan bangsa yang besar. Dan Polri akan selalu mencoba berubah menjadi lebih baik,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini