nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjalanan Erupsi Gunung Sinabung, dari Tertidur hingga Renggut Korban Jiwa

Erie Prasetyo, Jurnalis · Kamis 03 Agustus 2017 16:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 08 03 338 1749263 perjalanan-erupsi-gunung-sinabung-dari-tertidur-hingga-renggut-korban-jiwa-iYnfQYsCHM.jpg Foto: Antara

JAKARTA – September 2013, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara kembali meletus hebat setelah tahun 2010 terjadi hal serupa. Letusan pada tahun itu kemudian diikuti letusan-letusan lain hingga kemarin letusannya kembali membuat gempar. Padahal sebelum 2010, Sinabung merupakan gunung aktif tipe B, yang dalam kurun waktu ratusan tahun, tak pernah meletus.

Gunung terbesar kedua di Sumatera Utara ini diketahui tidak pernah meletus sejak tahun 1600. Namun secara mendadak, Sinabung aktif dan meletus kembali 2010 lalu. Sebanyak 12 ribu warga harus dievakuasi ke wilayah aman setelah tiga hari berturut-turut mulai 27–29 Agustus 2010 gunung itu mengeluarkan asap dan lava.

Setelah diketahui mulai aktif kembali, Sinabung dinaikkan statusnya menjadi Awas. Warga yang berada di wilayah Karo diminta tidak mendekati gunung tersebut. Pasalnya letusan bisa sekali-kali terjadi tanpa kenal waktu.

Sejak saat itu, letusan Sinabung berulang kali terjadi. Letusan yang sangat menyita perhatian terjadi medio akhir 2013 hingga awal 2014. Meski sempat turun status menjadi Siaga, beberapa kali letusan hingga keluarnya lava dari puncak Sinabung membuat statusnya kembali naik menjadi Awas.

Abu vulkanik hingga lava pijar yang dihasilkan dari letusan Sinabung terus terjadi hingga 2014. Bahkan sejak 4 Januari 2014 rentetan gempa, letusan dan luncuran awan panas dari erupsi terus berlangsung. Bahkan 20 ribu warga di sekitar gunung terpaksa mengungsi agar terhindar dari bahaya erupsi.

Sebanyak 14 warga merenggang nyawa akibat abu vulkanik yang terjadi pada Januari 2014. Seluruh korban ditemukan di Desa Suka Meriah, Kecamatan Payung. Mereka ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa setelah terkena debu panas tersebut. Petugas juga kesulitan dalam mencari dan menemukan korban. Pasalnya debu vulkanik yang tebal membuat proses evakuasi berjalan lamban.

Erupsi Sinabung yang memakan korban tidak hanya terjadi 2014 lalu. Terakhir 21 Mei 2016 sekitar pukul 16.48 WIB. Letusan Gunung Sinabung menghasilkan awan panas. Awan tersebut menyelimuti Desa Gember, Kecamatan Simpang, Kabupaten Karo. Akibatnya tujuh orang meninggal dunia dan dua warga alami luka bakar.

Debu vulkanik dan awan panas kembali dimuntahkan Sinabung , kemarin. Gunung itu meletus hingga mengeluarkan abu vulkanis setinggi 4,5 kilometer dan luncuran awan panas yang panjangnya juga lebih 4 kilometer. Saking pekatnya material letusan, kamera pepantau CCTV tak dapat merekam wujud Sinabung. Warga di zona bahaya juga langsung diungsikan ke lokasi aman.

“BPBD Karo sudah membagikan masker. Info yang saya dapat, sekolah-sekolah di Kabanjahe yang terdampak abu diliburkan, ada juga yang disuruh pulang cepat. Tidak hanya sekolah-sekolah yang berada di Kota Kabanjahe, berbagai kegiatan yang berkaitan di luar ruangan, yang terdampak abu Sinabung juga diliburkan. Debunya berbahaya bagi pernapasan,” kata Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Sinabung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Isadana, Kamis (3/8/2017).

Hari ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo bersama Dinas Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran Karo melakukan pembersihan abu vulkanik di lima kecamatan. Meski begitu warga masih diminta waspada letusan susulan yang bisa terjadi kapan saja.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini