nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Iklan Rokok Dalam Bioskop Masih Marak, Pemrov DKI Diminta Ambil Tindakan Tegas

Fahmy Fotaleno, Jurnalis · Rabu 27 September 2017 06:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 26 338 1783275 iklan-rokok-dalam-bioskop-masih-marak-pemrov-dki-diminta-ambil-tindakan-tegas-jvtyZOuZ9r.jpg

JAKARTA - Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) bersama Solidaritas Advokat Publik untuk Pengendalian Tembakau (Sapta) Indonesia meminta Pemprov DKI Jakarta menghentikan iklan rokok di dalam bioskop.

Ketua Fakta, Azas Tigor Nainggolan mengatakan sebagai salah satu kota yang mempunyai peraturan tentang KTR (kawasan tanpa rokok) maka sudah seharusnya dalam pelaksanaan penyelenggaraan reklame dan iklan agar tidak melanggar kaidah-kaidah KTR.

"Salah satu regulasi KTR yang dibangun kota Jakarta adalah menjadikan Jakarta kota yang bebas dari keberadaan iklan rokok, di dalam ruang maupun di luar ruang. Artinya semua iklan rokok dilarang ada di kota Jakarta," ujarnya.

Ia menjelaskan, Jakarta telah mempunyai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 244 tahun 2015 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaran Reklame sebagai pelaksanaan regulasi Kawasan Tanpa Rokok tersebut.

"Peraturan yang telah berlaku pada tahun 2015 ini memuat aturan yang melarang reklame/iklan produk yang mengandung zat adiktif, terutama pada Pasal 45 Ayat 1 yang isinya adalah larangan untuk menyelenggarakan reklame rokok atau zat adiktif baik dalam ruangan (indoor) dan di luar ruangan (outdoor)," ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Sapta Indonesia Tubagus Haryo Karbyanto menilai bahwa ada penyusutan reklame atau iklan produk yang mengandung zat adiktif setelah aturan ini berlaku terutama untuk rokok. Meskipun demikian tidak menafikan masih ada beberapa iklan rokok di pinggiran jalan kota Jakarta.

"Salah satu contoh iklan rokok yang sangat cenderung tersembunyi yaitu maraknya di dalam bioskop," katanya.

Kata dia, sekarang ini sebelum menyaksikan film, di beberapa bioskop akan dimulai dengan menyiarkan iklan rokok dalam durasi cukup lama. Keberadaan iklan rokom ini justru mempunyai dampak bahaya yang lebih besar. Dimana bahaya iklan rokok itu tentu menyasar penonton film di bioskop tersebut.

"Menurut pengamatan kami di Jakarta hampir 80 % berumur 12 tahun hinggga 35 tahun. Angka ini menerangkan bahwa penonton bioskop cenderung masih banyak anak muda atau remaja yang menjadi target perusahaan rokok sebagai objek perokok baru," jelasnya.

Ia menilai, permasalahan maraknya iklan rokok di bioskop ini menandakan bahwa ketidak-telitian dan tidak ketegasan pemerintah dalam menjalankan aturan yang mereka buat sendiri. Sikap pembiaran atau tanpa pengawasan ini sangatlah tidak konsisten dengan regulasi larang iklan rokok.

"Padahal aturan ini sangat penting untuk mencegah anak-anak agar tidak terpapar pengaruh yang diiklankan oleh iklan rokok itu," pungkasnya.

Olehnya itu pihaknya meminta kepada Pemprov Jakarta agar melakukan penegakan atas peraturan larangan iklan tersebut secara konsisten. Selain itu diminta melakukan sosialisasi secara masif regulasi larangan iklan rokok di Jakarta.

"dan meminta pemprov Jakarta agar melakukan sosialisasi bahaya asap rokok dan merokok di Jakarta, termasuk di bioskop-bioskop," tutupnya.(fin)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini