nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Siswa Korban Bully Minta Pindah Sekolah, KPAI Sarankan Direhabilitasi

Ahmad Sahroji, Jurnalis · Sabtu 04 November 2017 06:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 03 338 1808063 siswa-korban-bully-minta-pindah-sekolah-kpai-sarankan-direhabilitasi-lHpTKwnEeF.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ssiswa SD Negeri 16 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur berinisial JS menjadi korban bully karena wajahnya mirip dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bahkan ia sempat mengalami tindak kekerasan, ditusuk-tusuk dengan balpoin oleh temannya.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Hendy F Kurniawan menyampaikan pihak sekolah sudah melakukan mediasi antara keluarga pelaku dan orangtua korban, yang turut disaksikan oleh petugas Dinas Pendidikan. Namun JS tetap mengalami trauma dan minta pindah sekolah.

"Hasil koordinasi kita, dari keluarga maupun anaknya sendiri pengennya untuk pindah sekolah, meminta pindah sekolah lain dan nanti dari pihak Dikbud akan menjembatani bantu proses kepindahannya," kata Hendy di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, beberapa hari lalu.

Melihat itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, meminta anak korban bullying tersebut tidak hanya sekadar dipindahkan sekolah, tetapi harus direhabilitasi. Sebab, anak tersebut diyakini mengalami trauma akibat perilaku bullying.

"Anak yang kemaren kan pindah ke sekolah lain. Kita melihat korban ini tidak mendapatkan apa-apa. Artinya kan semua pihak menyayangkan, semua pihak berteriak, tapi kita minta juga korban ini direhabilitasi dengan baik. Karena saya yakin anak tersrebut mengalami trauma," kata dia kepada Okezone, Sabtu (4/11/2017).

Korban tentunya juga harus tetap didampingi dengan tuntas, agar tidak mengganggu proses belajarnya di sekolah baru. "Tentu ini kalau tidak didampingi dengan tuntas bisa khawatir kelanjutan pendidikannya bisa tidak maksimal," tambahnya.

Untuk itu, Jasra menghimbau tenaga pengajar agar lebih sensitif terhadap sekecil apapun perubahan-perubahan prilaku yang terjadi di sekolah.

"Karena lagi-lagi kan, ketika anak itu ditaruh di sekolah, itu menjadi tanggung jawab sekolah, maka guru harus bagaimana caranya dia harus bisa melihat tradisi ini tumbuh dengan baik," pungkasnya.

(fin)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini