Share

Wisata Kota Tua, "Peninggalan" Belanda yang Eksotis di Jakarta

Odia Rogata, · Senin 18 Desember 2017 13:45 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 18 338 1832088 wisata-kota-tua-peninggalan-belanda-yang-eksotis-di-jakarta-FP99dBkPH3.jpg (Foto: Odia Rogata/M)

ESTER terlihat asyik berfoto bersama temannya di depan patung maskot Asian Games Jakarta-Palembang 2018 di Lapangan Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat. Di depan kamera ponsel, ia memperagakan beberapa gaya.

Datang bersama temannya Dewi yang membawa anak kecil, Ester mengaku suka dengan nuansa eksotis Kota Tua, terlebih sekarang tampak lebih bersih. Dewi pun mengabadikan gambar dirinya di objek wisata itu. “Tempatnya terbuka, santai untuk foto-foto,” katanya, Rabu 6 Desember 2017.

Kota Tua merupakan salah satu objek wisata favorit di Jakarta. Banyaknya bangunan klasik dan bersejarah peninggalan kolonial Belanda berdiri di sana sehingga tampak menjadi pemandangan yang eksotis.

Setiap hari selalu ada warga yang datang ke Kota Tua, baik untuk berwisata, membuat penelitian, atau sekadar bersantai ria.

Mengenal Museum di Kota Tua

Beberapa bangunan klasik yang menjadi daya tarik bagi turis di Kota Tua adalah Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, serta Museum Seni Rupa dan Keramik.

Museum Fatahillah berada tepat di seberang Cafe Batavia. Berbeda dari sebelumnya, museum ini memiliki berbagai macam pose patung Soekarno—presiden pertama Indonesia—di halaman depannya. Gedung yang dibangun pada 1707-1712 ini dulu digunakan sebagai Balai Kota Batavia.

Bangunan dengan nama resmi Museum Sejarah Jakarta ini berisi peninggalan zaman Belanda, seperti penjara bawah tanah, penjara wanita, dan ruang etnografi.

Jika ingin mencari tahu budaya Indonesia, turis dapat mengunjungi Museum Wayang yang terletak di seberang sebelah kiri Museum Fatahillah, gedung yang terdapat papan dengan warna biru mencolok yang tertera.

Awalnya, museum ini dibangun di atas tanah bekas reruntuhan Gereja Lama Belanda pada 1640. Museum itu kemudian diperbaiki pada 1732. Namun, pada 1808, bangunan itu hancur karena gempa bumi. Barulah pada 13 Agustus 1975 bangunan ini diresmikan sebagai museum.

(Koleksi di Museum Wayang. Foto: Odia Rogata/M)

Museum Wayang menampilkan beragam jenis boneka, khususnya boneka khas Indonesia, boneka wayang. Saat memasuki bangunan ini, pengunjung akan disuguhkan dengan boneka ondel-ondel khas daerah Betawi, Jakarta.

Selain itu, pengunjung akan melihat wayang kulit, topeng khas, tokoh-tokoh boneka unyil, cerita wayang berbentuk lukisan, dan macam-macam boneka khas dari beberapa negara.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Di Kota Tua, juga terdapat Museum Bank Mandiri. Museum ini berdiri pada 2 Oktober 1998. Awalnya, museum ini adalah perusahaan dagang Belanda, kemudian berkembang hingga bergerak di bidang perbankan.

(Museum Bank Mandiri. Foto: Odia Rogata)

Saat masuk ke museum ini, pengunjung akan dapat mengetahui kedatangan VOC ke Nusantara. Museum Bank Mandiri pun memiliki koleksi yang berkaitan dengan keuangan, seperti saham dan buku besar.

Bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri, terdapat Museum Bank Indonesia. Dibangun pada 1828, sebelumnya museum ini adalah kawasan bekas gedung Bank Indonesia Kota dan juga cagar budaya peninggalan De Javasche Bank.

Gedung ini menampilkan berbagai koleksi jenis uang dari dalam negeri, seperti uang Republik Indonesia atau Oeang Republik Indonesia (ORI) dan uang Republik Indonesia Daerah atau Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA). Di Museum Bank Indonesia, pengunjung bisa melihat metamorfosis logo BI dan serba-serbi uang.

(Museum Bank Indonesia. Foto: Odia Rogata/M)

Terakhir, ada Museum Seni Rupa dan Keramik. Sebelum menjadi museum pada 1990, bangunan ini digunakan sebagai Balai Seni Rupa Jakarta. Ciri khas gedung ini memiliki delapan tiang besar di bagian depannya. Museum dua lantai itu berisi berbagai ruang, seperti ruang sejarah museum dan ruang lukisan tradisonal.

Mayoritas museum di Kota Tua buka pada Selasa hingga Minggu sejak pukul 08.00-17.00 WIB, Senin libur. Berbeda dengan museum lainnya, Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri buka sampai pukul 15.30 WIB.

Tarif masuk ke museum yang ada di Kota Tua terhitung murah. Untuk bisa mengunjungi museum, pengunjung cukup membeli karcis dengan harga Rp5.000 orang.

Sementara mahasiswa dan pelajar cukup membayar Rp3.000 atau Rp2.000 per orang. Namun, untuk Museum Bank Indonesia, pelajar atau mahasiswa tidak dipungut biaya alias gratis. Sementara itu, Musem Bank Mandiri mematok tarif Rp10.000 khusus untuk turis asing.

Tak hanya museum, Kota Tua juga menyediakan sepeda ontel yang dapat disewa oleh pengunjung. “Seru ada sepeda ontelnya, sekarang kan udah jarang ada sepeda seperti ini,” ujar Bertha, pengunjung Kota Tua yang sedang menikmati kendaraan roda dua itu.

Sepeda ontel dengan aksesori topi ala perempuan Belanda zaman dulu dihias semenarik mungkin dengan beragam warna selaras dengan sepedanya. Pengunjung dapat menyewa sepeda ontel dengan biaya Rp20.000 untuk jangka waktu 30 menit.

Selain museum dan sepeda ontel, Kota Tua memiliki berbagai tempat yang bisa dijadikan sebagai latar belakang untuk berfoto. Dengan background meriam Belanda, patung-patung Presiden Soekarno yang berada di depan halaman Museum Fatahillah, burung dara yang beterbangan bebas di lapangan, dan gedung-gedung klasik, dapat menjadi latar foto yang menarik.

“Di sini banyak tempat yang bisa jadi background foto-foto. Tidak habis-habis,” kata Anton, pengunjung yang terlihat sibuk membidik gambar itu. Anton mengarahkan kamera yang dibawanya ke berbagai macam tempat, salah satunya lapangan Fatahillah, saat pengunjung sedang memberi makan remah-remah roti ke sekelompok burung dara di sekitarnya.

(Baca Juga: Menengok Kalijodo, Tempat Esek-Esek yang Kini Berubah Total)

Dikutip dari Thetripcorner.com, Kota Tua adalah sebuah kawasan kota peninggalan Belanda yang dulunya sebagai pusat perdagangan di Asia. Berawal dari nama Batavia yang dibangun lengkap dengan segala prasarana, mulai dari Bank Java (saat ini Bank Indonesia), kantor pusat VOC lengkap dengan kanal dan gaya arsitektur Belanda di zaman itu, dan akhirnya berganti nama menjadi Jakarta.

Di Jakarta, kawasan Kota Tua ini merupakan salah satu area yang masih cukup dijaga kekhasan tempatnya hingga Gubernur Jakarta Ali Sadikin mengeluarkan dekret (1972) yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan era kolonial Belanda. Keputusan ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di Jakarta. (erh)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini