Share

Berakhirnya "Surga Dunia" Alexis yang Tumbang di Tangan Anies

Qur'anul Hidayat, Okezone · Rabu 20 Desember 2017 18:12 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 20 338 1833531 berakhirnya-surga-dunia-alexis-yang-tumbang-di-tangan-anies-OVJHP9dcsl.jpg Alexis ditutup.

ALEXIS, sebuah nama yang tak asing di telinga orang Indonesia, khususnya warga DKI Jakarta. Nama hotel di dekat Ancol, Jakarta Utara itu kerap jadi perbincangan hangat, terutama tentang rahasia di balik gedung yang diduga jadi tempat esek-esek kalangan atas itu.

Sejumlah cerita muncul di pemberitaan, mulai dari ucapan ‘surga dunia’ Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga penepatan janji Anies Baswedan tak memperpanjang izin Alexis.

Alexis mulai ramai dibicarakan saat Ahok berkata, “surga dunia di Alexis bukan di telapak kaki ibu, tapi lantai 7”. Ucapan Ahok ini pun membuat publik penasaran setengah mati, apa sebenarnya yang disediakan Alexis, khususnya di lantai 7 itu?

Nah, saat tiba ke lantai 7 griya dan spa Hotel Alexis yang bikin penasaran itu, pengunjung harus membayar biaya sebesar Rp150 ribu, hanya untuk fasilitas. Identitas pengunjung juga kemudian didata.

Melihat Lebih Dekat Ruangan-Ruangan di Hotel dan Griya Pijat Alexis

Setelahnya barulah para tamu masuk ke ruangan lewat pintu sebelah kiri untuk berganti pakaian. Tamu kemudian diberi kunci loker dan satu handuk untuk berendam. Di sana terdapat alat berendam dan jacuzzi berbentuk bulat di tengah ruangan yang dibuat terbuka area outdoor.

(Baca juga: Katanya Surga Dunia Ada di Lantai 7 Hotel Alexis, Ini Dia Penampakannya)

Setelah berendam, pengunjung langsung menuju kamar untuk melakukan pemijitan. Di dalam kamar berukuran 2 meter x 6 meter tersebut ada fasilitas seperti kasur, TV dan bathtub untuk berendam.

Melihat Lebih Dekat Ruangan-Ruangan di Hotel dan Griya Pijat Alexis

"Di dalam kamar ini ada tulisan dilarang berbuat asusila, Jadi tidak ada yang namanya prostitusi disini. Sedangkan kamar untuk griya pijat ini ada 26 kamar," klaim Staf Legal dan Juru Bicara Alexis Group, Lina Novianti kala itu, Selasa 31 November 2017.

Melihat Lebih Dekat Ruangan-Ruangan di Hotel dan Griya Pijat Alexis

Di Alexis, fasilitas “surgawi” bukan hanya di lantai 7 yang populer itu. Di sana juga ada bar yang disebut 4Play, restoran, tempat karaoke bernama XiS. Tempat-tempat itu menurut penelusuran sejumlah media juga menyimpan ‘rahasia’ yang dekat dengan bisnis esek-esek.

Alexis Akhirnya Ditutup

Sejumlah laporan adanya dugaan praktek prostitusi di Alexis membuat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan gerah dan dengan tegas tak memperpanjang izin hotel tersebut. Pada 30 November 2017, Anies mengatakan pihaknya tak akan berkompromi dengan praktik prostitusi.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

“Jangan coba-coba. Kalau Anda coba-coba, maka kami akan tindak dengan tegas. Siapa pun, di mana pun, siapa pun pemiliknya, berapa lama pun usahanya, bila melakukan ini praktik-praktik amoral, apalagi menyangkut prostitusi, kami tidak akan biarkan,” kata Anies.

Sikap tegas Pemprov DKI diwujudkan dengan tidak memperpanjang izin Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP). Surat ini ditandatangani oleh Kepala Dinas Penanaman Modan dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DKI Jakarta, Edy Junaedy. Surat itu ditujukan kepada PT Grand Ancol Hotel. Surat itu membuat Alexis tak bisa lagi beroperasi karena izinnya sudah habis per tanggal 27 Oktober 2017, saat Edy menandatangi surat tersebut.

Setidaknya, terdapat tiga pertimbangan yang melatarbelakangi keputusan Pemprov. Pertimbangan pertama, sesuai dengan yang tercantum dalam surat tembusan Pemprov DKI bernomor 6866/-1.858.8 itu adalah Pemprov mengaku mendapat banyak laporan masyarakat terkait operasionalisasi usaha Alexis yang dianggap terlarang.

Pertimbangan kedua, setiap penyelenggara usaha pariwisata berkewajiban turut serta mencegah segala bentuk perbuatan yang melanggar kesusilaan dan kegiatan yang melanggar hukum di lingkungan tempat usahanya. Ketiga, pemerintah berkewajiban mengawasi dan mengendalikan kegiatan pariwisata dalam rangka mencegah dan menanggulangi berbagai hal negatif yang dapat mendampaki masyarakat luas.

(Baca juga: Ditutup Pemprov DKI, Jubir Alexis: Hotel & Griya Pijat Kami Tidak Pernah Ditemukan Pelanggaran)

Lalu bagaimana tanggapan pihak Alexis terkait penutupan tersebut? Lina Novita dalam konferensi persnya membantah tudingan adanya praktik prostitusi di tempatnya. Dia mengkalaim pihaknya selalu mematuhi segala ketentuan yang berlaku terkait perizinan, termasuk yang menyangkut operasional.

Lebih lanjut, Lina mengatakan, selama beroperasi, Alexis telah memberikan kontribusi cukup signifikan bagi keuangan daerah. Menurut Lina, sebagai badan usaha, Alexis selalu taat pajak. Bahkan, besaran pajak yang dibayarkan Alexis setiap tahun bernilai cukup besar, yakni Rp30 miliar.

"Kami taat pajak penyumbang pajak nyata. Kalau tidak salah Rp30 miliar per tahun," kata Lina

Berdasar data pajak Alexis, Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI Jakarta memaparkan, terdapat tiga jenis rincian pajak yang dikenakan terhadap Alexis, yakni pajak hotel, karaoke dan pajak spa. Data tahun 2016 menunjukkan, untuk pajak hotel, Alexis dibebankan dengan nilai pajak sebesar Rp 5.508.400.457.

Kemudian, untuk pajak spa, nilai pajak Alexis adalah sebesar Rp 10.435.168.625. Adapun beban pajak terbesar Alexis datang dari pajak karaoke yang mencapai Rp 11.238.914.904. Artinya, nilai keseluruhan pajak Alexis sepanjang tahun 2016 adalah Rp 27.182.483.986.

Terkait itu, Anies tak goyang. Bagi Anies, nilai pajak yang disetorkan sejatinya tergolong kecil dan tak begitu signifikan.

Anies menegaskan, pihaknya tak khawatir dengan hangusnya pajak dari Alexis. Menurut Anies, Jakarta memiliki banyak potensi pajak yang belum teroptimalkan.

"Sebenarnya banyak potensi pajak kita yang belum dioptimalkan, dari mulai PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), kemudian dari retribusi, banyak sekali," kata Anies.

Adapun hal lain yang menjadi perhatian Alexis adalah terkait tenaga kerja. Akibat tak diperpanjangnya izin, Alexis terpaksa merumahkan seribu tenaga kerjanya. “Pegawai tetap berjumlah 600 orang, sementara pegawai lepas 400 orang,” papar Lina.

Alexis Jadi Al Ikhlas?

Wakil Gubernur DKI Sandiaga Salahuddin Uno menyarankan agar pekerja tempat hiburan malam itu bergabung dengan anggota gerakan OK OCE. Hal tersebut dikatakan Sandi dengan merujuk akan dibukanya hotel syariah oleh gerakan OK OCE.

"Ada beberapa (anggota OK OCE) yang ingin membuka hotel syariah yang sekarang lagi marak sekali," ujar Sandi di Jakarta Teather, Rabu 1 November 2017.

Dengan demikian, pekerja Alexis bisa bekerja sesuai bidangnya. "Jadi bagaimana hotel-hotel (syariah) itu jadi lahan pekerjaan bagi para pekerja Alexis yang dirumahkan," kata dia.

(Baca juga: Wagub DKI Sandiaga: Alexis Diubah Jadi Al Ikhlas, Insya Allah)

Selain hotel, rencana OK OCE juga akan membuka beberapa bidang usaha lainnya. Oleh karena itu pekerjja Alexis takkan menganggur jika bergabung.

"Ada teman-teman OK OCE yang ingin membuka restoran, butuh tentunya pegawai yang andal. Kan mereka pernah bekerja di Alexis, pasti andal melayani," tandasnya.

Saat menyambangi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Minggu 5 November 2017, Sandiaga Uno menegaskan komitmennya untuk membangun wisata halal di Ibu Kota. Sandiaga pun mengungkapkan gagasannya untuk mengubah Alexis menjadi Al Ikhlas. "Alexis diubah jadi Al Ikhlas, Insya Allah," kata Wagub DKI Sandiaga.

"Kan sekarang banyak sekali dorongan daripada halal tourism yang ingin masuk ke Jakarta. Di Kuala Lumpur sudah sangat maju, di Jepang, Korea. Kalau teman-teman ingin mengkonversi kita sudah ada pendampingannya," papar Sandi.

Hotel Alexis kembali jadi sorotan setelah diisukan mengubah nama menjadi 4Play. Isu tersebut diembuskan dari akun Facebook Ferry Samuel Sitanggang. Mendengar hal ini, Anies Baswedan sempat panas dan mengatakan pihaknya bakal melakukan tindakan tegas bila Hotel dan Griya Spa Alexis, Jakarta Utara kembali beroperasi. Pihaknya pun tak segan-segan langsung menutup lokasi itu bila terbukti masih buka.

"Kalau hotel dan spa buka lagi kami akan serbu, tutup paksa kalau itu yang terjadi," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin 27 November 2017.

Juru Bicara Alexis Group, Lina Novita membantah ocehan Ferry Samuel Sitanggang soal restoran, bar, karaoke dan live musik Alexis yang juga menyajikan hiburan bersifat pornografi tidaklah benar. Dia menuturkan kalau konsep restoran, bar, karaoke dan live musik di Alexis yang masih beroperasi sejak awal masih sama.

"Semua enggak benar. Dan namanya bar itu belum ada perubahan," tegas Lina kepada wartawan di Jakarta, Senin 27 November 2017.

(Baca juga: FOKUS: Habis Alexis Terbitlah 4Play, Apakah Ini Bentuk Transformasi?)

Lina menambahkan, kalau yang tidak diperpanjang Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah Hotel Alexis dan Griya Pijat Alexis.

Sementara, izin unit usaha lain seperti restoran, bar, karaoke dan live music izinnya masih terdaftar. Dia membantah semua tudingan warganet tersebut.

"Jadi mengenai Alexis dapat saya jelaskan sebagai berikut. Dua izin yang statusnya belum dapat diproses adalah griya pijat dan hotel. Sementara izin unit usaha lainnya seperti restaurant, bar, karaoke dan live music, izinnya statusnya valid," lanjutnya.

Maka itu, Lina menjelaskan, yang perlu dipahami warganet adalah bahwa keempat izin TDUP lain selain hotel dan griya pijat tidak ada masalah atau notice apapun dari Dinas PTSP Pemprov DKI Jakarta. Sehingga, menurutnya, kegiatan usaha lain di sana yang masih terdaftar sepertinya tak perlu dipergunjingkan warganet.

Di hari yang sama, Anies mengklarifikasi bahwa pihaknya memang tak menutup izin 4Play. Kata dia, dari dulu izin tempat itu memang sudah diberikan dan bukan suatu perubahan nama dari Hotel Alexis.

"Memang tidak pernah ada perubahan izin. Kalau itu (4Play) memang ada izin dari kemarin juga," kata Anies, di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (27/11/2017).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menjelaskan pihaknya hanya memberhentikan izin usaha hotel dan griya pijatnya saja. Sementara, untuk aktivitas lainnya masih diperbolehkan.

"Pokoknya dua itu (hotel dan griya pijat), kalau kegiatan yang lain kita enggak ngatur. Izinnya masih ada," jelasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini