Share

Sebelum Disodomi, 41 Korban Babeh Dipaksa Telan Gotri

Chyntia Sami B, Okezone · Jum'at 05 Januari 2018 18:21 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 05 338 1840753 sebelum-disodomi-41-korban-babeh-dipaksa-telan-gotri-LajVrv2VTi.jpg Pelaku Sodomi Babeh bersama Kak Seto (foto: Chyntia/Okezone)

TANGERANG - Puluhan korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh guru honorer Wawan Sutiono alias Babeh (49) dipaksa menelan butiran besi kecil atau gotri sebelum mereka disodomi oleh pelaku.

Kapolda Banten Brigjen Listyo Sigit Prabowo mengatakan, gotri tersebut diyakini oleh pelaku untuk memperlancar proses masuknya ilmu kebal yang akan diajarkan oleh pelaku kepada anak-anak.

(Baca Juga: Ngaku Ustadz dan Kuasai Ilmu Kebal, Ini Motif Babeh Sodomi 25 Anak)

"Mereka dalam sekali melakukan hubungan seksual harus meminum gotri sekitar 4 sampai 7 butir dan seterusnya, pokoknya bila lakukan itu mereka harus minum gotri," ujar Listyo, Jumat (5/1/2018).

Lanjut Listyo, menurut pengakuan para korban, usai meminum gotri mereka merasa lebih tenang dan melayang. Mereka mengaku tak memiliki rasa sakit saat disodomi oleh pelaku.

"Untuk meminum gotri ini, kami dan dinas perlindungan anak melakukan koordinasi dengan pihak kesehatan terkait kondisi si anak. Karena ada banyak butiran gotri yang ada di tubuhnya," ungkap Listyo.

Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Putu Elvina mengatakan, dari total 41 anak yang telah melapor menjadi korban Babeh, dari tiap anak telah lebih dari sekali disodomi oleh pelaku.

"Jadi, tiap anak yang mau diberi ilmu kekebalan disuruh nelen biji gotri. Mereka bukan cuma sekali, tapi sudah berkali-kali disodomi ada yang sampai 7 kali lebih. Ini memiliki efek samping karena biji gotri kita tidak tau steril atau tidak. Untuk itu, perlu mendapat perhatian," tandasnya.

(Baca Juga: Terus Bertambah, Korban Sodomi Babeh Si Guru Honorer Jadi 41 Anak)

Sebagaimana diketahui, polisi berhasil meringkus Babeh di kediamannya di Kampung Sakem, Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang pada 20 Desember 2017 lalu.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dalam paling lama 15 tahun.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini