nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sekjen Bang Japar Menolak Diperiksa Polisi

Badriyanto, Jurnalis · Selasa 30 Januari 2018 16:47 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 30 338 1852248 sekjen-bang-japar-menolak-diperiksa-polisi-07iST9Eukv.jpg Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo (foto: Okezone)

JAKARTA - Sekjen Lembaga Bantuan Hukum Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Bang Japar), Eka Jaya menolak diperiksa penyidik terkait kasus dugaan ancaman terhadap salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Joko Widodo, Sidarto Danusubroto melalui pesan elektronik.

"Tadi kami klarifikasi, tapi yang bersangkutan menyampaikan penolakan, jadi kami tidak tanyain, menolak untuk diklarifikasi," ungkap Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Kendati begitu, Argo enggan menjelaskan alasan Eka yang tidak mau memberikan keterangan sebagai terlapor dalam kasus tersebut. Argo hanya memastikan pihaknya akan menjadwalkan ulang terkait pemeriksaan Eka.

"Nanti kami (panggil ulang) untuk klarifikasi," kata mantan Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur itu.

 (Baca juga: Diduga Ancam Watimpres, Sekjen Bang Japar Diperiksa Polisi)

Berkaitan dengan kasus tesebut, penyidik telah memeriksa Sidarto sebagai korban dalam kasus dugaan ancaman tersebut. Selain itu, polisi juga akan memeriksa ahli untuk menentukan apakah ada indikasi tindak pidana terkait pesan yang diduga berisi ancaman yang dikirim Eka ke telepon seluler pribadi Sidarto.

"Nanti saksi ahli dong, nanti saksi ahli yang bicara, kita belum memeriksa saksi ahli. Nanti saksi ahli yang menentukan, ada ahli bahasa, ahli pidana," kata dia.

 

Eka dilaporkan oleh tim kuasa hukum, Sidarto atas kasus dugaan ancaman ke Polda Metro Jaya pada 7 November 2017 lalu. Laporan itu telah diterima polisi dengan nomor LP/5431/XI/2017/PMJ/Dit.Reskrimsus.

Pasalnya, Sidarto merasa terancam dengan dengan pesan yang dikirim Eka ke telepon seluler pribadi Sidarto yang mempersoalkan pelaksanaan acara Festival Pantun Betawi yang digelar di Kampung Pela Mampang, Jakarta Selatan pada Oktober 2017 lalu.

"SMS ada nomornya, masuk kemudian isinya bahwa 'jangan gunakan jabatan anda untuk melawan rakyat Jakarta', kemudian 'kami bukan patung yang hanya bisa diam'. Dengan adanya itu pelapor melalui kuasa hukumnya ke Polda Metro Jaya melaporkan, pengancaman," demikian Argo mengutip SMS tersebut.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini