Share

Warga Kampung Apung Lelah Hidup 'Mengapung'

Griska Laras Widanti, · Sabtu 10 Februari 2018 08:14 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 10 338 1857525 warga-kampung-apung-lelah-hidup-mengapung-3RPGZ3HrwW.jpg Kondisi permukiman warga di Kampung Apung (Foto: Griska/Okezone)

JAKARTA — Bau busuk tak lagi tercium saat memasuki perkampungan padat penduduk Kampung Apung Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Air yang menggenangi perkampungan itu pun bebas dari eceng gondok dan rumput liar. Area permukiman ini tampak lebih rapi pasca-pembersihan genangan air dari tumbuhan eceng gondok dan sampah pada 20 Juli-10 Agustus 2017.

Rumah-rumah panggung berdinding triplek yang menjadi tempat tinggal warga berjejer di atas air disangga tiang kayu dan beton. Namun, fondasi rumah panggung itu banyak yang keropos karena terlalu lama terendam air. Para warga pun sudah beberapa kali menguruk dan mengecor rumah mereka.

Salah satunya Aini (63) yang tinggal di kampung itu sejak lahir. Ia telah tiga kali merenovasi rumahnya. “Ini udah tiga kali nguruk, terus dikeramik, diuruk lagi, dikeramik lagi. Sekarang udah nggak dikeramik kerena udah enggak ada duit,” keluhnya saat disambangi Okezone belum lama ini.

Aini mengatakan, kondisi tempat tinggalnya kini jauh berbeda dibandingkan saat ia masih kanak-kanak. Ia ingat betul betapa asri Kampung Kapuk Teko dulu.

“Dulu mah enak, tanahnya kering dan banyak puun (pohon) gede. Siang-siang saya dan temen-temen pada maen di kuburan, ngadem. Tiap malem juga ramai orang pacaran ngedekem di situ. Biarpun kuburan masih basah juga enggak ada yang takut,” kenangnya.

Menurut cerita Aini, kampungnya mulai banjir saat perumahan dan industri dibangun di sekitar pemukiman pada 1980-an. Pabrik-pabrik dan jalan raya dibangun lebih tinggi dari kawasan rumah penduduk. Secara perlahan, kontur wilayah mereka berubah menjadi seperti kuali.

Kontur wilayah yang rendah dan buruknya sistem drainase membuat pemukiman tergenang air setiap kali hujan. Air limbah industri yang ikut mengalir ke pemukiman semakin memperburuk keadaan. Puncaknya pada 1988, hujan deras menenggelamkan rumah warga dan membuat daerah itu banjir permanen.

Pemprov DKI sempat berencana merelokasi penduduk, namun warga menolak. Mereka mengatakan bahwa wilayah tempat tinggalnya bukanlah pemukiman liar. Mereka pun memiliki bukti kepemilikan tanah yang sah.

Sementara itu, faktor kenyamanan juga menjadi alasan kuat yang membuat warga bertahan. Mereka enggan memulai hidup dari nol lagi mulai dari beradaptasi di lingkungan baru maupun mencari pekerjaan baru.

”Mau gimana lagi, kita udah betah di sini biar banjir juga. Sama warga yang lain juga udah deket banget seperti keluarga. Kalau pindahnya rame-rame sih enggak apa-apa, kalo sendiri enggak mau,” katanya.

Aini dan warga Kampung Apung lainnya hanya bisa berharap pemerintah mau meninggikan area pemukiman setara dengan pabrik-pabrik dan badan jalan agar rumah mereka tak lagi tergenang air.


Minimnya Fasilitas Publik (Hal.2)

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Minimnya Fasilitas Publik

Genangan air di Kampung Apung tidak hanya menghambat ruang gerak masyarakat tetapi juga menghambat pengembangan tata wilayah kampung. Fasilitas dan ruang publik sedikit, bahkan nyaris tidak ada.

Salah satu warga bernama Farid Iqbal, mengatakan, sulitnya akses pelayanan kesehatan di kampungnya.

“Kalau mau berobat jauh harus ke puskesmas di (Jakarta) utara dulu. Itu kan sudah beda wilayah. Di sini ada puskesmas sih, tapi kecil dan fasilitasnya enggak lengkap. Paling adanya cuma dokter gigi doang," paparnya.

Selain itu, Iqbal juga mengeluhkan minimnya area berkumpul dan bermain anak-anak.

“Mau ngapa-ngapain susah. Mau main bola enggak ada lahan jadi harus nyewa lapangan dulu di Kapuk Muara. Anak-anak mau main gasing dan lari-larian juga susah, takut kecebur,” imbuh lelaki yang sedang berkuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta ini.

Pada 2015, banjir di Kampung Apung ini surut setelah air disedot menggunakan mesin pompa. Beberapa orang kemudian datang mengukur tanah untuk pembangunan rusun. Namun, warga tak menyetujui hal tersebut. Mereka mengatakan lebih membutuhkan bangunan lain yang lebih bermanfaat, seperti puskesmas, area bermain, dan sekolah.

“Maunya sih setelah air dipompa dibangun sekolah. Di sini sekolah dasar saja enggak ada. Kalau ada sekolah di sini kan enak, anak-anak enggak kejauhan,” papar Aini.

Satu-satunya ruang publik yang mereka miliki adalah taman baca. Bangunan tersebut dibangun atas sumbangan beberapa pihak. Dindingnya terbuat dari papan dan bercat biru. Pagar kayu dipasang mengelilingi bangunan itu. Uniknya, di bawah lantai bangunan dipasangi drum-drum. Gunanya untuk membuat bangunan terapung saat hujan deras sehingga buku-buku, komputer dan fasilitas lain di dalamnya tidak rusak. Bangunan ini kerap kali menjadi ruangan serba guna, yakni sebagai tempat belajar dan bermain anak-anak juga sebagai tempat mengaji para ibu.

Pembangunan fasilitas umum di Kampung Apung tak kunjung terealisasikan. Saat musim hujan datang, area pemakaman Kapuk Teko kembali tergenang--tenggelam bersama harapan warga yang menginginkan kehidupan lebih baik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini