Share

Iyang dan Bambu Penyelamat Nyawa Pengendara

Hotlas Mora Sinaga, · Sabtu 10 Februari 2018 10:09 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 10 338 1857545 iyang-dan-bambu-penyelamat-nyawa-pengendara-rt3obCKmqi.jpg Iyang dengan bambunya menjaga perlintasan kereta tanpa palang pintu (Foto: Hotlas/Okezone)

SINAR matahari begitu terik siang itu. Debu beterbangan tanpa mampu terhalau. Riuh rendah suara kendaraan bersahutan dengan obrolan orang-orang di jalan. Semua bergegas melintasi jalur ganda kereta api antara Jalan Pal Meriam dan Jalan Kayu Manis, Matraman, Jakarta Timur. Ketergesaan ini masuk akal mengingat tidak ada portal penghalang rel tersebut dengan jalan di kedua sisi sehingga pengguna jalan berisiko hilangnya nyawa karena tersambar kereta.

Di pinggir rel, seorang pria asyik nongkrong sambil memainkan peluit. Kaos dan celananya tampak lusuh berkalang debu, demikian juga sandal jepit yang dikenakannya. Sepasang kacamata hitam dan dua helai topi yang dipakai bertumpuk melengkapi penampilannya, sekaligus menjadi senjata penghalau panas.

Saat suara kereta terdengar dari kejauhan, Iyang, demikian ia biasa disapa, sontak bangun. Ia memasang bambu sebagai penghalang di mulut jalan menuju perlintasan. Para pengendara pun dengan tertib menunggu.

Sehari-hari, pria 67 tahun itu memang mangkal sebagai penjaga perlintasan kereta api tidak resmi. Iyang memilih pukul 11.00-17.00 sebagai masa kerjanya. Sementara pagi dan malam hari, ada beberapa orang lagi yang melakoni peran tersebut.

"Kalau siang begini, mana ada yang mau jaga. Enggak ada yang kuat," ungkap Iyang, saat berbincang dengan Okezone.

Untuk mengisi waktu, Iyang menyibukkan diri dengan menghancurkan batu hingga menjadi kerikil kecil. "Buat nambal lintasan supaya orang (pengendara) bisa lewat. Kalau hujan kan longsor," ucap Iyang.

Bertahun-tahun melakoni profesi tersebut, Iyang mengaku kesal karena warga hanya lewat tanpa mau merawat. Para pelintas pun sering mengabaikan larangannya untuk berhenti sejenak. Bahkan, kata Iyang, ada pejalan kaki yang asyik bermain ponsel pintar meski kereta sedang mendekat.

"Tiba-tiba (kereta) deket gimana? Emang suka gitu orang-orang, mah," katanya.

Sehari-hari, Iyang menyambung hidup dari sumbangan orang-orang yang melintas. Ember bekas cat 1 kilogram ia gantung di salah satu sisi pintu agar orang tidak perlu repot menghampirinya.

"Pak, ini," kata seorang perempuan sembari memberi selembar uang Rp2.000 kepadanya.

Perempuan memang seperti pahlawan bagi Iyang. "Panas-panas begini sedikit yang ngasih, kecuali perempuan," katanya.

Insting dan Pendengaran Jadi Modal Utama (Hal. 2)

Insting dan pendengaran Iyang menjadi modalnya memantau lintasan. Kakek 4 anak dan 4 cucu ini tetap fokus memantau kereta meski diajak bicara. "Mundur dikit, mundur. Awas dua," katanya mengingatkan dengan suara yang tak terlalu keras, terkikis termakan usia.

Selain pengendara roda dua dan pejalan kaki, sesekali Iyang membantu gerobak menyeberangi lintasan kereta. Rutinitas itu terus berulang selama delapan tahun terakhir saat ia mulai melakoni peran penjaga perlintasan kereta selepas di-PHK dari sebuah pabrik percetakan.

Iyang mengaku tidak mendapatkan perhatian dari otoritas berwenang seperti PT Kereta Api Indonesia atau Kementerian Perhubungan. Padahal risiko kecelakaan seperti terserempet kereta terus mengintainya, juga pengendara maupun warga.

Menanggapi kondisi Iyang, Humas PT KAI DAOP 1 Jakarta, Edy Kuswoyo, mengklaim pihaknya sama sekali tidak melakukan pembiaran. Pasalnya Iyang bukanlah petugas penjaga perlintasan kereta api resmi hasil pendidikan dan pelatihan (diklat) dari KAI.

"Ada diklatnya selama seminggu. Tapi tidak termasuk kakek-kakek tadi (Iyang-red)," kata Edy saat dihubungi Okezone lewat sambungan telefon, belum lama ini.

Sementara soal lintasan, Edy menyebut, PT KAI tidak memiliki wewenang atas perlintasan tersebut karena tidak pernah membukanya. "PT KAI tidak punya kewenangan untuk membuat perlintasan," kata Edy.

Kewenangan membuat pos perlintasan kereta api sendiri berada di bawah koordinasi Kementerian Perhubungan. Meski begitu, menurut Edy, pihaknya akan menutup berbagai jalur perlintasan tidak resmi seperti itu secara bertahap. Porses ini dilakukan PT KAI melalui kerja sama dengan Dinas Perhubungan (Dishub), Pemerintah Daerah (Pemda), dan Kepolisian setempat.

Untuk diketahui perlintasan yang dijaga oleh Iyang, masuk ke Wilayah Daerah Operasi (DAOP) 1 Jakarta. Di wilayah ini ada 309 perlintasan tidak resmi menurut data KAI DAOP 1 Jakarta. Sementara yang resmi hanya 172 lokasi.

Selama perlintasan kereta itu belum ditutup, Edy meminta warga mematuhi rambu-rambu perlintasan. Siapa pun yang mau melintas sebaiknya menengok kanan dan kiri kanan saat mau melintas, serta jangan menerobos palang pintu perlintasan kereta api apa pun alasannya.

"Hindari juga menggunakan ponsel atau headset saat berkendara, apalagi ketika melintas di perlintasan," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini