Rayakan Paskah, Gereja Katedral Mengusung Tema Kebhinekaan dan Pengamalan Pancasila

Fahreza Rizky, Okezone · Minggu 01 April 2018 14:52 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 01 338 1880639 rayakan-paskah-gereja-katedral-mengusung-tema-kebhinekaan-dan-pengamalan-pancasila-5MIdnavDUn.jpg Telur Paskah Bernuansa Merah Putih di Gereja Katedral, Jakarta (foto: Fahreza Rizky/Okezone)

JAKARTA - Gereja Katedral menggelar empat sesi Misa dalam perayaan Paskah 2018. Dalam ibadat itu, perayaan Paskah mengusung tema 'Kita Bhineka Kita Indonesia'.

Humas Gereja Katedral Susyana Suwadie mengatakan, tema tersebut diambil untuk menggambarkan tema persatuan dan pengamalan Pancasila. Sementara dekorasi Paskah dibuatkan Telur Paskah dengan ukuran dua meter dengan warna merah putih yang terdapat peta Indonesia berwarna emas.

Telur Paskah di Gereja Katedral, Jakarta (foto: Fahreza Rizky/Okezone)

(Baca Juga: Tim Gegana Siaga di Gereja Katedral Jaga Misa Paskah)

Susyana menjelaskan, Telur Raksasa juga dibuatkan bentuk api yang melambangkan harapan dan berkah melimpah juga terdapat banyak burung merpati.

"Menggambarkan Bhineka Tunggal Ika. Karena tahun 2018 itu tahun kesatuan, kami mengajak umat untuk mengamalkan Pancasila. Burung merpati lambang perdamaian, membawa 34 lambang Provinsi. Juga bunga mawar sebagai lambang cinta kasih. Ini semua mencerminkan kebhinekaan," ujar Susyana di lokasi, Minggu (1/4/2018).

Uskup Agung Gereja Katedral Ignasius Suharyo mengatakan, salah satu penyalahgunaan agama dengan memanfaatkannya untuk mendapat kekuasaan.

Telur Paskah di Gereja Katedral, Jakarta (foto: Fahreza Rizky/Okezone)

Sebab itu, tema Kebinekaan diambil dalam perayaan Paskah 2018. Dia meminta agar agama tidak terlalu mementingkan unsur duniawi karena menyalahgunakan tri tunggal dalam ajaran katolik.

(Baca Juga: Telur Raksasa Merah-Putih Meriahkan Malam Paskah di Gereja Katedral)

"Tri tunggal yang tidak kudus, uang, kekuasaan dan gengsi. Itu yang dicari dengan cara tipu suap, korupsi, ujaran kebencian, kekerasan dan agama yang disalahgunakan untul capai keinginan itu," ucap Ignasius Suharyo.

Menurut dia, keserahkaan tersebut membuat orang-orang yang memanfaatkan agama dalam untuk urusan politik. "Keserakahan itu sama dengan sembah berhala. Ini sangat nyata, berhala bukan batu atau pohon tapi keserakahan untuk mendapat segala hal," tandasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini