Alami Krisis Air Menahun, Kondisi Warga Rawalumbu Bekasi Memprihatinkan

Wijayakusuma, Okezone · Sabtu 14 April 2018 05:27 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 14 338 1886569 alami-krisis-air-menahun-kondisi-warga-rawalumbu-bekasi-memprihatinkan-Y4J17mrQGP.jpg Warga Bekasi alami krisis air bersih (Foto: Wijayakusuma)

BEKASI - Ribuan warga di 6 RW Perumahan Bumi Bekasi Baru, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, alami kondisi memprihatinkan. Air dari PDAM Bhagasasi Rawalumbu yang biasa mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari telah berubah menjadi keruh dan berwarna kecokelatan.

Kondisi air yang tak laik konsumsi ini, membuat warga mengalami krisis air bersih. Mirisnya lagi, krisis air ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, tanpa ada penanganan sekali pun dari pihak PDAM Bhagasasi.

Sedikitnya ada 6 RW di 2 kelurahan yang terdampak krisis air, di antaranya RW 08, 09, 10 di Kelurahan Sepanjang Jaya, serta RW 06, 08, 12 di Kelurahan Pengasinan. Air PDAM yang berubah menjadi cokelat keruh dan tidak lagi laik konsumsi, membuat mereka menjadi kesulitan menjalankan rutinitas sehari-hari.

Jika dulu air PDAM biasanya digunakan dalam setiap aktivitas, kini warga hanya menggunakannya untuk kegiatan MCK dan mencuci pakaian saja. Namun, untuk menggunakan air, warga harus mendiamkannya terlebih dahulu selama berjam-jam, agar kotoran mengendap dan air menjadi bening.

"Warga saya mengeluhkan air kotor, padahal airnya mau digunakan untuk mencuci pakaian. Terpaksa harus menunggu air bening selama 2 sampai 3 jam. Sudah tahunan kondisi airnya begini," kata Ketua RW 08 Kelurahan Sepanjang Jaya, Ajat Jatnika kepada Okezone di Bekasi, Jumat (13/4/2018).

 

Sementara untuk memenuhi kebutuhan air minum dan memasak, Ajat dan warga lainnya terpaksa merogoh kocek lebih untuk membeli air mineral dan isi ulang. Hal tersebut dilakukan demi menghindari resiko mengkonsumsi air yang tak layak.

"Mau tidak mau beli air galon isi ulang untuk kebutuhan memasak nasi, sayur dan lainnya," ujarnya.

Ajat mengaku, dalam seminggu ia beserta keluarga dapat menghabiskan 2 air galon mineral, dengan biaya mencapai Rp34 ribu. Sedangkan untuk biaya air PDAM, Ajat bisa mengeluarkan biaya berkisar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu dalam sebulan.

"Satu galon harganya Rp17 ribu. Saya biasa seminggu beli 2 galon, untuk minum dan masak sehari-hari. Kalau cuci beras kadang-kadang pakai air PDAM yang diendapkan dulu sampai bening," katanya.

Meski sudah diendapkan hingga bening, namun ia dan keluarga masih kerap mengalami gatal-gatal di sekujur tubuh usai mandi memakai air PDAM. Selain itu, kata Ajat, hal yang paling membuatnya terkejut, yakni kemunculan koloni cacing-cacing halus yang bercampur dengan endapan kotoran dibawah air.

"Saat menguras bak mandi, ada cacing-cacing halus kecil. Kadang jadi sugesti gitu, takutnya bahaya ke manusia. Air juga membuat bak jadi kuning. Tapi yah mau tidak mau mandi tetap menggunakan air PDAM," ungkapnya.

Terkait hal ini, warga sudah pernah melayangkan surat ke PDAM Tirta Bhagasasi di Kavling 1 Jalan KH Noer Ali, Jakasampurna, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat. Namun, hingga saat ini belum ada tindaklanjut dari pihak PDAM pusat itu.

"Saat melayangkan surat ke PDAM Bhagasasi pada Juli 2017, air memang sudah kotor. Tapi PDAM tidak pernah memberikan tanggapan maupun imbauan ke warga soal ini," ujarnya.

 

Warga pun berharap PDAM Bhagasasi dapat secepatnya melakukan penanganan serius untuk memperbaiki kualitas air menjadi layak konsumsi kembali. "Ada perbaikan kualitas air saat listrik mati, air tidak ikutan mati," imbuhnya.

Hal senada juga dikeluhkan Sartimin (63), warga RT 03 RW 08 Kelurahan Sepanjang Jaya, yang merasa terganggu dengan perubahan kualitas air PDAM di jam-jam tertentu.

"Airnya jernih di jam-jam tertentu. Antara pukul 09.00 WIB-11.00 WIB, kurang jernih. Sore menjelang malam, agak jernih. Nah jernihnya sekitar pukul 21.00 WIB sampai subuh, saat warga beristirahat," katanya.

Untuk aktivitas sehari-hari, Sartimin menggunakan sanyo. Sementara untuk memasak, ia memakai air PDAM yang ditampung di jam-jam malam, saat kondisi air sedang jernih.

Lelaki yang juga menyewakan kos-kosan itu mengaku, dirinya membeli air isi ulang untuk para penyewa kos. Dalam seminggu bisa menghabiskan 3 galon air isi ulang.

"Satu minggu beli 3 galon untuk 5 anak kos yang menyewa tempat saya. Satu galonnya hanya Rp 5 ribu," papar Sartimin.

Terpisah, Humas PDAM Bhagasasi Bekasi, Ahmad Fauzi mengaku, pihaknya sudah menindaklanjuti laporan warga terkait keluhan kualitas air PDAM Bhagasasi Rawalumbu, dengan rutin melakukan kegiatan washout.

"Saat ini sedang dalam tahap pemantauan kualitas. Silakan laporkan ke cabang Rawalumbu dengan mengisi form pelaporan, lengkap dengan alamat dan nomor telefon. Nanti petugas akan cek lokasi. Laporkan manakala petugas tidak datang ke lokasi," ucapnya.

Meski kondisi air kotor sudah terjadi menahun, namun Fauzi mengklaim, jika hasil sidak oleh bagian produksi dan cek lapangan, menunjukkan bahwa tidak ada masalah dengan kualitas air PDAM cabang Rawalumbu. Ia juga membantah lambannya penanganan oleh pihaknya, sebagaimana yang diadukan warga.

"Kita tidak memperlambat penanganan. Kalaupun masih ada warga yang kualitasnya kurang baik, silahkan melaporkan. Sesuai alamat lengkap, agar petugas datang langsung untuk menguras jaringan," imbuhnya.

Sekadar diketahui, warga terdampak di Kelurahan Sepanjang Jaya dan Kelurahan Pengasinan, berencana akan melayangkan surat kembali ke pihak PDAM Bhagasasi Bekasi, untuk meminta kejelasan terkait krisis air bersih yang mereka alami.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini