nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi Amankan 'Mami' dan Pemandu Lagu Karaoke Berstatus Pelajar di Bogor

Wahyu Muntinanto, Jurnalis · Senin 23 April 2018 11:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 23 338 1890200 polisi-amankan-mami-dan-pemandu-lagu-karaoke-berstatus-pelajar-di-bogor-QZUY5aId9I.jpg Ilustrasi.

DEPOK - Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Depok mengamankan delapan pemandu lagu atau (LC) dan mucikari yang dipanggil 'Mami' saat menggerebek sebuah tempat karaoke di wilayah Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat. Mirisnya, dua dari empat pemandu lagu berstatus pelajar. Selain mengamankan para pelaku, polisi turut menyita sejumlah miniman keras dan buku hasil rekapan penjualan dari lokasi.

Kanit Krimsus Polresta Depok AKP Firdaus mengatakan, pihaknya menerima laporan dari masyarakat bahwa ada kegiatan perdagangan manusia yang mempekerjakan wanita di bawah umur.

"Unit PPA melakukan penyelidikan berdasarkan laporan dari masyarakat erktait adanya dugaan anak-anak di bawah umur dipekerjakan sebagai pemandu karaoke sebuah tempat hiburan, di Bojonggede, diamankan 9 orang dari lokasi tersebut, Minggu (22/4) dini hari, " kata Firdaus di Polresta Depok, Minggu 22 April 2018 malam.

Para wanita tersebut bertugas melayani tamu yang datang dengan memberikan pelayanan dengan menuangkan minuman dan berjoget bersama. Nantinya pengunjung karaoke yang biasanya didatangi pria hidung belang itu memberikan imbalan sejumlah uang tip.

(Baca juga: Ketika Wanita Pemandu Lagu Gugup Didatangi Ditresnarkoba Polda Jateng)

"Korban bekerja dari jam 20.00 WIB sampai 02.00 WIB dengan melayani tamu dan menawarkan minuman, setiap melayani tamu korban akan mendapat bayaran Rp100 ribu dan fee penjualan minuman Rp5 ribu per botol," tuturnya.

Ilustrasi pemandu lagu diamankan.

Setelah mengamankan pemandu lagu dan sang mucikari ke Polresta Depok, pihak kepolisian mendapati 4 orang wanita di bawah umur berinisial T (15), L (16), E (16), N (17) dan seorang mucikari bernama Evi (56). Lalu polisi langsung menetapkan tersangka terhadap sang mucikari dengan ancaman Pasal 88 UU 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

"Berdasarkan keterangan para korban, bahwa 2 orang sudah tidak sekolah sedangkan 2 orang lagi masih berstatus sebagai siswa SMK kelas 2, mereka mau bekerja di tempat tersebut karena faktor ekonomi dan salah satu korban mengaku bekerja untuk membantu orang tuanya yang sakit kanker rahim," ujar Firdaus.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini