Jerit Hati Warga Bekasi Tetap Bayar Rp300-400 Ribu per Bulan untuk Air Tak Layak Konsumsi

Wijayakusuma, Okezone · Rabu 25 April 2018 10:19 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 25 338 1891183 jerit-hati-warga-bekasi-tetap-bayar-rp300-400-ribu-per-bulan-untuk-air-tak-layak-konsumsi-0GeCNUmEYe.jpg Warga Bekasi mengalami krisis air layak konsumsi dari PDAM (Foto: Wijayakusum/Okezone)

BEKASI - Keprihatinan masih terus mendera warga Perumahan Bumi Bekasi Baru Utara (BBBU) di Kelurahan Sepanjang Jaya dan Kelurahan Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat. Krisis air bersih yang berkepanjangan, seolah tak mencapai ujungnya.

Hingga saat ini keluhan mereka enggan digubris baik oleh pihak PDAM Bhagasasi cabang Rawalumbu maupun PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi. Warga seakan terus dibiarkan berkutat dengan keruhnya air, yang bahkan penyebabnya belum juga diketahui.

Tercatat sudah dua kali warga mengadu ke pihak PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi terkait hal ini. Surat pertama dilayangkan tahun 2015 dan kedua pada Juli 2017, dengan nomor 01/KRW se-BBBU/VII/2017 perihal pelayanan air minum. Namun pihak PDAM belum juga memberi kejelasan mengenai perubahan kualitas air PDAM yang menjadi keruh kecoklatan dan tak layak konsumsi itu.

Dan kini warga yang tergabung dalam Komunitas RW Perumahan BBBU, kembali melayangkan surat aduan ketiga kepada pihak PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi, 01/KRW-BBBU/VII/2018 tertanggal 19 April 2018. Pengaduan ketiga ini merupakan kesepakatan bersama warga 3 RW di Kelurahan Sepanjang Jaya, serta 3 RW di Kelurahan Pengasinan.

"Surat yang ketiga ini menindaklanjuti surat awal yang kami layangkan ke pihak PDAM. Ada tiga poin yang disepakati bersama. Pertama, masih soal kualitas air. Kedua ketersediaan genset. Dan yang ketiga agar dilakukan pengerukan secara rutin oleh pihak PDAM per tiga bulan sekali," kata Sekretaris RW 08, Kelurahan Sepanjang Jaya, Suryanto, Selasa (24/4/2018) malam.

Ia menjelaskan, tak hanya dibelit krisis air bersih, problem warga makin diperparah dengan ketidaktersediaan fasilitas genset PDAM Bhagasasi cabang Rawalumbu. Pasalnya, jika listrik sedang mati, maka air PDAM juga ikut mati. Hal ini tentunya ironi bagi sebuah perusahaan besar yang sudah beroperasi selama kurang lebih 30 tahun itu.

"Genset kan sangat perlu untuk pengganti listrik. Jadi di saat listrik padam, warga masih tetap bisa menggunakan air. Air tidak ikut mati kalau listrik mati," ujar Suryanto.

Selain itu, kata dia, PDAM juga pernah berjanji akan mengeruk kali yang berada di samping Tol Jakarta-Cikampek, yang selama ini berfungsi sebagai saluran pembuangan air. Kali tersebut diketahui jarang sekali dikeruk, hingga memicu terjadinya pendangkalan, lantaran oleh PDAM Bhagasasi cabang Rawalumbu kerap dijadikan tempat pembuangan limbah lumpur, saat tengah membersihkan bak besar air.

Dan lagi-lagi, hal ini menambah panjang daftar keluhan warga, akibat limbah lumpur yang terus meninggi menyebabkan aliran air menjadi tidak lancar.

"Selain itu juga pembuangan masuk ke pipa saluran air PAM yang mengalir ke rumah warga. Sesuai komitmen Kepala Cabang PDAM Rawalumbu beberapa waktu lalu, kalau akan dikeruk 3 bulan sekali," paparnya.

Keluhan senada juga dilontarkan Wakil Ketua RW 09 Sepanjang Jaya, Warto. Ia bahkan mempertanyakan apakah air PDAM benar-benar bisa dikonsumsi sesuai dengan kepanjangannya Perusahaan Daerah Air Minum, atau hanya sekedar Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB).

"Karena kenyataannya air sering keruh. Malah kadang cenderung di bak mandi ada cacing kecil, itu sering sekali. Kalau soal banyak itu kan entah dua, satu, itu ada sering sekali," katanya.

Untuk membuktikan apakah air benar-benar layak untuk dikonsumsi, Warto bahkan berencana membawa sampel air ke sebuah lab, agar diketahui kandungan apa saja yang terdapat di dalamnya.

"Saya maunya nanti ambil sampel dan bawa ke lab. Hasilnya seperti apa, apa betul-betul memang sudah layak untuk diminum? Kita tunggu saja. Nanti kita rapatkan lagi untuk mengambil langkah selanjutnya," terangnya.

Menurutnya, selama masih bisa digunakan untuk keperluan mencuci dan MCK, warga mengaku pasrah dan menerima kondisi air yang sejak dulu kualitasnya sudah seperti ini.

"Jadi ya sudah damai-damai saja, karena memang selama ini begitu airnya, sebentar keruh, sebentar bersih. Ya kita terima apa adanya," paparnya.

Warto mengaku, untuk biaya pemakaian air, warga dikenakan harga progresif. Ia sendiri dalam sebulan bisa membayar antara Rp300 ribu-Rp400 ribu. Nilai tersebut dirasa cukup besar untuk pemakaian air yang kondisinya bahkan sering mati saat listrik padam.

"Saya sampai heran, pemakaian apa yang besar. Sampai waktu itu saya cek, apa pipa saya yang bocor, tapi tidak. Begitu saya matikan, semua meteran tidak jalan. Tapi setiap bulan seperti itu," ujarnya.

"Untuk cuci dan sebagainya memang pakai air PDAM. Pompa air tanah disini kan memang tidak bagus, dan kita memang tidak memakai air tanah," ujarnya lagi.

Warto bersama warga lainnya berharap, agar pihak PDAM Bhagasasi cabang Rawalumbu dapat segera memperbaiki kualitas air menjadi layak untuk dikonsumsi, sesuai dengan namanya.

Sementara itu, Humas PDAM Tirta Bhagasasi, Ahmad Fauzi menolak sebutan krisis air bersih bagi warga di Perumahan Bumi Bekasi Baru Utara.

"Bahasanya jangan krisis lah. Kalau krisis, dari dulu warga tidak dapat air," katanya melalui pesan singkat kepada Okezone.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini