nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Aman Abdurahman Memilih Jadi Mayat Dibanding Kompromi dengan Pemerintah

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Jum'at 25 Mei 2018 17:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 25 338 1902773 aman-abdurahman-memilih-jadi-mayat-dibanding-kompromi-dengan-pemerintah-UmCoZ7FivV.jpg Terdakwa Teror Bom Thamrin, Aman Abdurrahman (foto: Antara)

JAKARTA - Terdakwa kasus bom Thamrin Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma alias Aman Abdurahman menegaskan memilih keluar penjara dalam keadaan mayat daripada harus kompromi dengan pihak pemerintah.

Dalam pembacaan Pleidoinya, Aman mengungkapkan saat berada di dalam tahanan, dirinya pernah didatangi oleh seseorang untuk menawarkan damai dengan pemerintah dengan janji-janji indah yang ditawarkan.

Sidang Pledoi, Aman Abdurrahman Tunjuk Jari ke Atas

(Baca Juga: Aman Abdurahman ke Hakim: Silakan Vonis Mati Saya, Jangan Ragu)

Aman menyatakan, perwakilan Pemerintah Indonesia diwakili oleh seorang peneliti bidang kajian Islam bernama Prof Rohan asal Srilangka yang bekerja untuk Pemerintah Singapura sekaligus Pemerintah Indonesia.

"Bila ustadz Aman mau berkompromi maka akan langsung dibebaskan dan bila tidak mau berkompromi, maka akan dipenjara seumur hidup," kata Aman yang menirukan gestur Rohan di dalam nota pembelaannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (25/5/2018).

Mendegar itu, Aman menekankan, tidak akan pernah kongkalikong dengan pihak Pemerintah sedikitpun. Aman sendiri diketahui mendalami kepercayaan soal sistem pemerintahan Khilafah.

"Saya tidak akan mau berkompromi dengan pemerintah ini, saya InsyaAllah akan keluar dari penjara berupa mayat sebagai Syahid atau keluar dalam keadaan hidup sebagai pemenang dalam prinsip ini," jelas Aman.

Lebih dalam, Aman menjelaskan awal mula adanya cobaan kompromi tersebut. Menurutnya hal itu bermula ketika Rohan mewawancarai Aman di sel isolasi Gegana Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada 21 Desember 2018.

Sidang Pledoi, Aman Abdurrahman Tunjuk Jari ke Atas

Saat itu, Rohan menanyai Aman tentang tauhid, kesyirikan dan sistem pemerintahan demokrasi, Khilafah Islamiyah dan Hijrah, dan hal-hal yang berkaitan dengan pemikirannya.

Keesokan harinya, Rohan kembali mewawancarai Aman tentang buku-buku dan rekaman kajian yang disebarkan selama di penjara dan di luar penjara. Kali ini, wawancara Aman direkam oleh Rohan dan timnya.

Dalam pertemuan selanjutnya, Rohan datang melobi Aman melalui tiga pertanyaan. Pertanyaan pertama, Rohan menawarkan kepada Aman untuk berkompromi dengan pemerintah, dan jika dirinya mau berkompromi dengan pemerintah maka hukumannya akan diperingan.

(Baca Juga: Aman Abdurahman: Saya Tak Takut dengan Hukuman Zalim Kalian)

Lalu Rohan mengajak Aman jalan-jalan ke Museum Indonesia. Ajakan tersebut langsung ditolak oleh Aman. Rohan lalu mengajak Aman untuk makan malam di luar penjara. Ajakan tersebut kembali ditolak oleh Aman.

"Saya jawab, saya tidak mau. Saya tidak akan keluar dari penjara kecuali berupa mayat sebagai syahid InsyaAllah atau keluar masih hidup sebagai pemenang," tutur Aman.

Aman meyakini, pertanyaan dari Rohan tersebut merupakan jebakan agar dirinya mau keluar dari prinsipnya. Dia mengaku, sangat bahagia bisa menolak tawaran dari Rohan tersebut.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini