nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Pilu 59 Pegawai Rumah Sakit yang Kena PHK Massal Jelang Lebaran

Hambali, Jurnalis · Kamis 07 Juni 2018 10:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 06 07 338 1907626 kisah-pilu-59-pegawai-rumah-sakit-yang-kena-phk-massal-jelang-lebaran-wMwHvzWBWW.jpg

TANGERANG SELATAN - Puluhan pegawai Rumah Sakit Aria Sentra Medika, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), menggelar aksi unjuk rasa terkait kebijakan tentang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mereka alami secara bertahap, sejak April 2018 lalu.

Karena diduga surat PHK yang ditetapkan manajemen sebagai keputusan sepihak, mereka pun berkali-kali menggelar protes dan unjuk rasa. Bahkan pada Rabu 6 Juni, puluhan mantan pegawai RS Aria Sentra Medika itu kembali mengulang aksinya di depan gerbang Rumah Sakit.

"Ada cara-cara yang tak logis dilakukan oleh manajemen dan yayasan, dengan mem-PHK total saat ini sebanyak 59 karyawan. Kenapa kami terus berunjuk rasa, karena ada hak-hak yang tak kunjung ditunaikan oleh manajemen rumah sakit, termasuk pesangon, dan BPJS Ketenaga Kerjaan yang selama kami bekerja rupanya tak dibayarkan," ujar Anto Sudarmianto, Koordinator Aksi Mantan Pegawai RS Aria Sentra Medika kepada wartawan.

Dijelaskan Anto, mereka yang terkena PHK rata-rata telah bekerja dan mengabdi cukup lama. Beberapa ada yang bertugas di bidang legal, maintenance, kasir, customer service, bahkan hingga petugas sekuriti. Dikatakannya, surat pemberitahuan PHK pun hanya dikirim melalui email yang terkesan melecehkan para pegawai.

"Kami di-PHK melalui sebuah email yang kami terima. Betapa sakit hati kami, karena kami telah bekerja disini sudah ada yang 7 tahun, bahkan lebih, produktivitas kami juga baik. Sementara alasan perusahaan tak masuk akal, dibilang efisiensi, dibilang merugi, tapi kenyataannya kenapa justru sudah merekrut pegawai baru pengganti kami. Atau sebenarnya ini hanya akal-akalan memberhentikan kami agar tak membayarkan THR menjelang lebaran ini," imbuh Anto.

Diantara sebagian pengunjuk rasa juga terdapat sejumlah mantan pegawai perempuan, mereka mengusung poster bertuliskan tuntutan terhadap hak-hak pesangon yang tak mendapat kejelasan.

Salah satu pendemo perempuan, menceritakan nasib keluarganya usai di-PHK. Dari mulai kesulitan membiayai sekolah anak, membayar sewa rumah, bahkan hingga untuk konsumsi sehari-hari, mengingat untuk mendapat pekerjaan baru sangatlah sulit, apalagi menjelang lebaran seperti saat ini.

"Setelah di-PHK itu, kita praktis nggak kerja apa-apa. Kalau ada pesangon masih mending, karena bisa jadi modal untuk dagang sementara waktu. Sekarang ya makin tertekan batin, anak sekolah perlu biaya, belum kebutuhan lain. Saya mohon yayasan dan manajemen peka terhadap kondisi ini," keluh mantan pegawai perempuan yang tak mau disebut namanya itu.

Sementara, Kepala Divisi Legal RS Aria Sentra Medika, Djenny Suharso, mengungkapkan, penyebab PHK itu lebih dikarenakan karena pihak rumah sakit selalu merugi selama 5 tahun terakhir, sehingga pihak Yayasan Fatmawati tidak lagi sanggup untuk memberikan subsidi.

"Prinsipnya begini, rumah sakit ini milik Yayasan Fatmawati, lima tahun ini mengalami kerugian sekira Rp51 miliar. Terus disubsidi Yayasan sebanyak Rp47 miliar. Di tahun ke lima kolaps, Yayasan sudah tidak bisa apa-apa. Tutup, atau akhirnya pilihannya dilakukan restrukturisasi," ungkap Djenny.

"Perusahaan-perusahaan sekarang kan trennya begitu. Kita juga begitu, ada beberapa yang dioutsourcingkan. Antara lain bagian teman-teman dari sekuriti, teman-teman dari OB dan teman-teman dari maintenance driver," imbuh dia.

Pihak RS menyadari jika melakukan PHK, harus diikuti pula dengan membayarkan hak pekerjanya, seperti pesangon dan hal lain. Namun, Djenny tidak bisa menjamin waktu yang jelas terkait pemberian hak-hak itu. Dia hanya mengatakan, semua hak karyawan akan diberikan saat kondisi keuangan RS telah memungkinkan.

"Ya pada saatnya kita harus membayar, kita bayar, sesuai dengan kemampuan keuangan kita," tukasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini