nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alasan Jaksa Tuntut Peremas Payudara di Depok 4 Bulan Tanpa Bui hingga Kontroversi Penerapan Pasal

Wahyu Muntinanto, Jurnalis · Jum'at 03 Agustus 2018 10:55 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 03 338 1931188 alasan-jaksa-tuntut-peremas-payudara-di-depok-4-bulan-tanpa-bui-hingga-kontroversi-penerapan-pasal-m2gThaqWFl.jpg Ilustrasi Persidangan (foto: Shutterstock)

DEPOK - Kejaksaan Negeri Depok menuntut terdakwa Ilham Sinna Tanjung (30) peremas payudara seorang wanita berinisial RA (22) di Depok, Jawa Barat hanya 4 bulan pidana tanpa dilakukan penahanan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Depok Putri Dwi Astrini mengatakan, hukuman itu sudah sesuai dengan pasal yang diterapkan yakni Pasal 281 ayat 1 KUHP tentang Kesusilaan, serta ancamanya di bawah 5 tahun sehingga menurut KUHAP terdakwa hanya dikenakan wajib lapor dan tidak dilakukan penahanan.

"Kami tuntut sekian itu ada pertimbangan-pertimbangannya. Itu memang viral. Mungkin orang yang enggak tahu persis fakta di persidangan itu. Ini asumsi saya sendiri. Jadi ada cewek lagi jalan terus ditelanjangi. Pokoknya pelecehan banget. Hanya nyolek saja itu memang masuk unsur pelecehan ya. Versi terdakwa memang enggak meremas banget, itu versi terdakwa. Tapi dia mengakui perbuatannya," kata Putri saat dihubungi wartawan, Jumat (3/7/2018).

Sidang Kasus Peremas Payudara di Depok (foto: Wahyu/Okezone) 

Menurut Putri, dari fakta persidangan, terdakwa mengaku tidak sepenuhnya meremas payudara korban. Namun, terdakwa mengakui perbuatanya meremas payudara saat berada di muka umum.

Selain itu, Putri menjelaskan jika pihak terdakwa sudah beberapa kali meminta maaf dan memiliki bukti rekaman permintaan yang dipaparkan dalam persidangan.

"Dari pengacara korban juga bilang kalau istilahnya sudah memaafkan. Sudah enggak mau nuntut dan sudah enggak peduli lagi dengan hukuman. Kasarnya seperti itu," lanjut Putri.

Saat ditanya soal pasal tunggal yang didakwakan terhadap terdakwa yaitu Pasal 281 ayat 1 KUHP tentang Kesusilaan tanpa adanya pasal alternatif, Jaksa Putri memiliki pertimbangan sendiri. "Kita sudah punya pertimbangan, kalau enggak ya enggak mungkin kita P21. Memang unsurnya melanggar kesusilaan. Kalau ada pendapat lain yang menyatakan itu pelecehan atau pencabulan ya terserah," jelasnya.

Kendati demikian, Putri menyerahkanya keputusan kepada majelis hakim di persidangan yang akan digelar pada Kamis 9 Agustus 2018 pekan depan.

"Apapun hasil dari hakim mungkin tidak melanggar kesusilan ya itu terserah. Yang pasti kami Jaksa Penuntut Umum sudah memiliki keyakinan tersendiri. Terlepas nanti hakim memutus enggak melanggar kesusilan ya itu terserah. Jadi pasalnya tunggal," tuturnya.

Mengenai kasus ini, Pengamat Hukum Pidana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta, Jamhari Hamjah menyatakan, Pasal 281 KUHP tentang kejahatan terhadap kesusilaan yang dijerat kepada terdakwa kasus peremasan payudara sudah salah jalur.

Sebab, kata dia, aksi yang dilakukan pemuda berkacamata terhadap korbannya itu telah masuk dalam kategori perbuatan cabul dan pelecehan seksual.

"Tidak tepat kalau pasal yang diberikan itu 281, karena ini bukan kesusilaan melainkan pencabulan di muka umum. Dasar perbuatan yang dilakukan sudah jelas meremas payudara korban. Ini sudah mengarah pada penyerangan kehormatan kesusilaan," ucapnya saat dihubungi wartawan, Kamis (5/7/2018).

CCTV Kasus Peremas Payudara (Ist) 

Jamhari mengatakan, pasal yang pantas dijerat kepada terdakwa tersebut adalah Pasal 289 KUHP tentang Pencabulan. Di mana dalam pasal itu berbunyi barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan kepada seseorang melakukan perbuatan cabul, dihukum karena merusakkan kesopanan, dengan hukuman penjara selama 9 tahun.

"Ini yang tepat dikenakan kepada pelaku seperti Ilham. Karena perbuatannya itu sudah merusak kesopanan dan harga diri korban yang merupakan seorang wanita. Polisi juga tidak boleh memberikan penangguhan penahan kepada pelaku, karena ini sangat berbahya bagi masyarakat," paparnya.

Sebelumnya diberitakan Okezone, kasus asusila dengan meremas payudara seorang remaja berinisial RA (22) terjadi di Jalan Kuningan RT 01/RW 18, Kelurahan Kemiri Muka, Beji, pada Kamis 11 Januari 2018 sekira pukul 14.29 WIB.

Pelaku dituntut rendah oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan hukuman 4 bulan penjara lantaran terbukti melanggar Pasal 281 ayat 1 KUHP tentang Keasusilaan.

"Dengan menimbang dari segala perbuatan terdakwa telah terbukti dengan sengaja, terbuka melanggar kesusilaan di belakang bank Mandiri KCP Depok. Menjatuhkan tuntutan selama empat bulan penjara," kata JPU Putri Dwi Astrini di ruang sidang II , Depok, Kamis (5/7/2018).

Terdakwa dituntut rendah karena pihak kepolisian menjerat pelaku peremasan payudara itu dengan pasal tunggal yakni Pasal 281 ayat 1 KUHP tentang Kesusilaan. Padahal perbuatan itu sudah dilakukan secara berencana, dengan cara mengamati gerak gerik korban sehingga sudah mengarah ke arah pelecehan seksual.

Selain itu, polisi juga tidak melakukan penahanan terhadap pelaku karena ancaman pidana yang dikenakan di bawah 4 tahun penjara. Sehingga setatus pelaku saat itu menjadi tahanan luar dan wajib lapor.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini