nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

2050 Jakarta Utara 'Tenggelam', Peneliti Tegaskan Ada Datanya, Bukan Mengada-ngada

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 13 Agustus 2018 09:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 13 338 1935661 2050-jakarta-utara-tenggelam-peneliti-tegaskan-ada-datanya-bukan-mengada-ngada-A3WLiM7thU.jpg (Foto: BBC Indonesia)

SELAMA enam bulan terakhir BBC News Indonesia melakukan investigasi terkait penurunan permukaan tanah di Jakarta. Kami menemukan bahwa potensi tenggelamnya Jakarta bukanlah omong kosong belaka. Berikut berbagai hal yang perlu Anda ketahui dan apa yang bisa dilakukan untuk mengantisipasinya sebelum terlambat.

Sore itu Fortuna tengah bersantai di rumah mewah pinggir lautnya yang dilengkapi dermaga, di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Perempuan ini duduk menatap kanal, tempat berbagai kapal mesin terparkir, bersandar ke masing-masing rumah.

Suasana tenang. Sesekali semilir angin laut mengibas rambut perempuan yang masih berkuliah ini. Namun, Fortuna menyebut kondisi itu bisa berubah drastis, mencekam ketika hujan turun lama dan air laut meninggi.

"Bahkan di sini beberapa kali terjadi banjir. Air laut masuk ke rumah, bahkan sampai melebihi batas telinga", katanya dengan suara tegas.

Foto: BBC Indonesia

Di area kolam renang, Fortuna pun menceritakan bagaimana setiap enam bulan atau setahun sekali, air laut merembes masuk, dan menenggelamkan kolam bewarna kebiruan itu. "Airnya lebih tinggi dari kolam renang. Perabotan-perabotan harus kami naikin ke atas, ke lantai dua".

Dan tidak hanya banjir yang dirasakannya selama tinggal di rumah tersebut empat tahun terakhir. Setiap enam bulan sekali berbagai tiang dan dinding di rumah yang tampak kokoh itu, retak-retak.

"Jadi harus diperbaiki terus. Tukang yang dipekerjakan di sini bilang, penyebab (banjir dan retakan) karena perubahan tanah."

Berdasarkan riset tim peneliti geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), di Jakarta Utara setiap tahunnya telah terjadi penurunan permukaan tanah dengan kedalaman mencapai 25cm.

"Ini adalah salah satu penurunan tanah terbesar di dunia, karena kita bayangkan dalam 10 tahun penurunannya mencapai 2,5 meter," kata Heri Andreas, salah satu doktor di bidang geodesi ITB yang terlibat dalam penelitian ini.

Heri Andreas. Foto: BBC Indonesia

Heri menekankan bahwa peluang Jakarta untuk tenggelam, tidak mengada-ada. Ada data yang berbicara.

Apa penyebabnya?

Saat berkunjung ke Jakarta Utara, Heri mengungkapkan bahwa penyebab utama penurunan tanah ini adalah karena pengambilan air-tanah dalam yang berlebihan.

"80-90% penyebab penurunan tanah karena itu."

Air tanah dalam adalah air tanah yang terletak di kedalaman sekitar 80 sampai 300 meter di bawah permukaan tanah.

Intensnya pengambilan air-tanah dalam di Jakarta, menggunakan sumur dan pompa air, karena Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) hanya bisa memenuhi 40% kebutuhan air bersih, termasuk air minum warga ibukota.

"Sisanya (60% kebutuhan) harus dicari sendiri. Dan yang paling mudah, paling gampang dan paling bagus kualitas airnya itu ya dari tanah," jelas Heri.

Dipompa dari dalam bumi, air ini tidak hanya digunakan oleh gedung-gedung tinggi. Menurut Heri, saat ini sudah banyak perumahan warga yang menggunakan air-tanah dalam, karena air tanah yang lebih dangkal 'sudah tercemar'.

BBC News Indonesia pun mendatangi sebuah kompleks perumahan di Kebon Kacang, Tanah Abang. Suara deru pompa air setiap malam terdengar bising di gang-gang perumahan itu.

Mayoritas perumahan di sana telah diubah menjadi kos-kosan bertingkat, setidaknya dua lantai. Salah satunya dimiliki Hendri. Dia telah menggunakan air tanah sejak kos-kosan itu berdiri 10 tahun lalu.

Foto: BBC Indonesia

"Awalnya airnya hitam sih, ada tanahnya, tapi lama-kelamaan bersih. Lebih gampang juga pakai air tanah, mandiri, enggak bergantung sama PAM. Apalagi kos-kosan begini kan butuh banyak air," kata Hendri.

Dan nyaris seluruh kos-kosan di gang sepanjang 200 meter itu menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih mereka.

Heri menegaskan solusi untuk penurunan tanah sebenarnya sangat sederhana.

"Kalau pengambilan air-tanah dalam dihentikan, penurunan permukaan tanah juga berhenti," tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini