nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selain 2050, Jakarta Pernah Diprediksi Tenggelam pada 2035

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Kamis 16 Agustus 2018 05:46 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 16 338 1937195 selain-2050-jakarta-pernah-diprediksi-tenggelam-pada-2035-IyqJwxNfb1.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna mengungkapkan, penelitian soal tenggelamnya Jakarta sudah sempat dilakukan oleh beberapa pihak. Dari seluruh riset tersebut, Ibu Kota diprediksi akan tenggelam lantaran permukaan tanah yang terus menurun.

Terbaru, para ahli melakukan penelitian yang menghasilkan bahwa Jakarta Utara akan tenggelam pada tahun 2050 mendatang karena permukaan tanah selalu menurun 25 Cm, sebagaimana dilansir dari BBC News Indonesia. Menurut Yayat, sebelum penelitian itu, ahli lainnya sempat memprediksi Jakarta akan tenggelam pada 2035 mendatang.

"Sebetulnya kajian seperti itu sudah banyak dilakukan bukan 2050 tapi 2035 pernah ada simulasi kajian dari ITB. Kajian itu sudah banyak dilakukan cuma bagaimana antisipasinya," kata Yayat saat berbincang dengan Okezone, Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Menurut Yayat, faktor utama tenggelamnya Jakarta merupakan persoalan besarnya terjadi di darat. Pasalnya, kata dia, penurunan tanah disebabkan lantaran tingginya kebutuhan air bersih yang diambil dari dalam tanah di Ibu Kota.

Apalagi, kata dia, hal tersebut diperparah dengan terus meningkatnya jumlah penduduk di Jakarta. Sehingga kebutuhan air yang diambil dari tanah semakin tinggi.

"Di darat makin tenggelam karena air terbatas ujung-ujungnya kita mengambil air tanah sehingga penurunan tanah. Diperparah lagi bertambahnya jumlah penduduk jadi kebutuhan air makin meningkat jalan pintas ambil air tanah untuk mengatasi krisis air," papar Yayat.

Oleh sebab itu, Yayat menyakinkan bahwa tenggelamnya Ibu Kota Jakarta bukanlah mitos belaka. Mengingat, berdasarkan beberapa kajian dan fakta dilapangan hal tersebut berpotensi besar akan terjadi.

"Jadi ini masalahnya bukan masalah ramalannya aja tapi fakta terjadi karena urgensi air yang makin lama makin penting air di Jakarta makin mahal," ucap Yayat.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini