nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tugu Proklamasi, Riwayatmu Kini...

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Sabtu 18 Agustus 2018 09:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 17 338 1938031 tugu-proklamasi-riwayatmu-kini-NiOkB25n3x.jpg Patung Soekarno Hatta di Tugu Proklamasi (Foto: Putera/Okezone)

Soekarno dan Mohammad Hatta berdiri gagah membacakan Naskah Proklamasi Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pernyataan itu digaungkan sebagai tanda bahwa Tanah Air merdeka dari segala bentuk penjajahan yang ada.

Pembacaan Proklamasi itu sendiri berlangsung di kediaman Soekarno yang berada di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat. Momentum ini dikenang setiap tahunnya sebagai peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Kini tempat bersejarah itu berubah nama menjadi Tugu Proklamasi. Dua patung marmer hitam, Soekarno dan Mohammad Hatta yang berdiri gagah menjadi simbolik terbebasnya Indonesia dari belenggu kolonialisme kala itu. Naskah Proklamasi diketik oleh tokoh muda kala itu, Sayuti Melik.

Kompleks Tugu Proklamasi sendiri didirikan dengan tujuan untuk mengenang jasa para Proklamator memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Selain patung Soekarno dan Mohammad Hatta, dilokasi ini juga dipamerkan isi dari Naskah Proklamasi.

"Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja," isi naskah proklamasi dengan ejaan tempo dulu yang tertulis di batu marmer hitam Tugu Proklamasi.

Namun, patung Soekarno, Mohammad Hatta dan naskah Proklamasi bukan lokasi utama teks tersebut dibacakan. Itu semua hanyalah simbolik semata.

Lokasi pembacaan Proklamasi sendiri ditandai dengan sebuah tugu dengan lambang petir diatasnya. Letaknya, disebelah dua patung Proklamator tersebut. Dahulu, Tugu Proklamasi awalnya dinamakan Tugu Petir oleh Soekarno. Namun, rakyat lebih ramah dengan sebutan Tugu Proklamasi.

Tugu Petir ini, kini bertuliskan, "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta".

Tugu Proklamasi satu dari sekian tempat yang menjadi sejarah tercetusnya kemerdekaan Indonesia. Sebelum dibacakan, naskah Proklamasi dirumuskan di di gedung bekas kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Meiji Dori, saat ini dikenal Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

Gedung tempat perumusan Naskah Proklamasi, sekarang ini dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Dilokasi ini, pengelola menyajikan perjalanan panjang merdekanya Indonesia dari segala bentuk penjajahan.

Meskipun dijadikan simbolik peliknya perjuangan tokoh bangsa kala itu. Tugu Proklamasi kini hanyalah sebatas taman luas yang berdiri patung Soekarno, Hatta, teks Proklamasi dan tugu petir.

Nilai sejarah yang tinggi itu, tak menjadi daya tarik para kawula muda dewasa ini. "Generasi zaman now" jarang menyambangi lokasi ini untuk mengenang sejarah. Padahal, Soekarno pernah mengucapkan "Jas Merah" atau jangan sekali-kali melupakan sejarah.

"Jarang kalau anak muda sekarang, ke Tugu Proklamasi untuk belajar sejarah," kata Petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) Tugu Proklamasi, Azis Maulana saat berbincang dengan Okezone, Senin 13 Agustus 2018 lalu.

Lokasi pembacaan naskah Proklamasi ini, lebih sering dikunjungi oleh veteran atau pejuang Indonesia yang sampai saat ini masih hidup. Tempat ini juga ramai di waktu-waktu tertentu.

"Kalau untuk sehari hari seperti sepi pengunjungnya. Paling ramai itu saat ada kegiatan 17 Agustus-an, agenda nasional, kesenian, dan kerohanian," ucap Azis yang sehari-hari mengawasi Tugu Proklamasi.

Sementara itu, warga Manggarai, Jakarta Selatan, Rizky Noor Afiat (20) menyebut, mengetahui sejarah Tugu Proklamasi dari buku sejarah dan gurunya ketika duduk dibangku sekolah.

Namun, Rizky mengungkapkan, Tugu Proklamasi bukanlah tempat favorit yang dijadikan untuk menghabiskan waktunya sehari-hari. Dia mengaku, mengunjungi lokasi itu apabila ada kegiatan besar berlangsung.

Sebagai kaum muda dewasa ini, dia lebih suka menghabiskan waktu di kafe dan pusat perbelanjaan atau mall. Padahal, Soekarno pernah menyampaikan pesan ke generasi penerus dan pelurus bangsa "Ku Titipkan Negeri Ini."

"Kalau Ke Tugu Proklamasi paling kalau pada 17 Agustus-an atau ada acara lainnya. Kalau tak ada agenda seperti itu jarang banget," tutur Rizky yang ditemui disekitaran Tugu Proklamasi.

Selayang Pandang Proklamasi Indonesia

Pembacaan Naskah Proklamasi sendiri melalui proses panjang pada masanya. Singkat cerita, pernyataan kemerdekaan itu merupakan desakan dari kaum muda Indonesia yang dikomandoi oleh Sutan Syahrir. Kala itu, Soekarno dan Hatta merupakan kaum tua yang dijadikan patron rakyat Indonesia.

Syahrir mendesak Soekarno agar mendklarasikan kemerdekaan Indonesia dengan segera. Momentum jatuhnya Jepang ke tangan Amerika dan sekutu atau peristiwa Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki, dijadikan alasan momentum yang tepat untuk menyatakaan Indonesia merdeka.

Sehari sebelum pembacaan, kaum muda bahkan sempat "menculik" Soekarno,Hatta dan beberapa tokoh lainnya ke Rengasdengklok. Hal itu dikenang dengan sebutan Peristiwa Rengasdengklok.

Peristiwa itu menjadi ajang tokoh kaum muda, seperti Chaerul Saleh, Sukarni dan Wikana untuk mendesak Soekarno agar menyatakan kemerdekaan Indonesia. Strategi inipun tercetus setelah tokoh muda kala itu berdiskusi dengan sosok Tan Malaka seorang tokoh nasional yang "diabaikan".

Setelah melalui perdebatan alot antaran kaum tua dan muda, alhasil 16 Agustus 1945 malam, Soekarno menyetujui bahwa Indonesia harus segera menyatakan kemerdekannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini