nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat Warga Bantargebang yang Hidup di Kawasan "Gunung" Sampah

Antara, Jurnalis · Selasa 23 Oktober 2018 22:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 23 338 1968019 curhat-warga-bantargebang-yang-hidup-di-kawasan-gunung-sampah-jUWjH326As.jpg TPST Bantargebang (Foto: Ist)

JAKARTA - Warga di dekat tempat pembuangan sampah Bantargebang Kota Bekasi, Jawa Barat mengharapkan dapat menerima kompensasi yang lebih besar dari warga lainnya karena truk sampah dari DKI Jakarta sudah mulai memasuki kawasan tersebut kembali.

"Kami telah tinggal di sini tahunan tapi saya merasa kepedulian pemerintah kurang terhadap kami apalagi di lingkungan kami di depan pintu gerbang sampah, kami berharap supaya warga yang tinggal lingkungan dekat dengan pembuangan mendapat kompensasi lebih besar," ujar seorang warga Mawasa kepada Antara ketika memantau situasi Bantargebang, Selasa (23/10/2018).

Mawasa menambahkan, daerah sekitaran lahan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang selain mencium bau yang tidak sedap, juga kadang kesulitan air. Air tanah di sekitar lokasi pengolahan sampah tidak bisa diminum, meskipun pemerintah menyiapkan pompa tapi belum didistribusikan langsung kepada warga.

TPST Bantargebang 

Masyarakat sekitar telah mendapat kompensasi atau uang bau dari Pemprov DKI Jakarta tapi warga menyebutkan kompensasi tersebut kurang lantaran hanya sekitar Rp600 ribu per tiga bulan sekali.

Pemerintah Jakarta telah melakukan perjanjian kerja sama dengan Pemerintah Kota Bekasi seperti memperbaiki saluran air lindi di TPST, penambahan sumur artesis dan pipanisasi untuk pemenuhan air bersih, serta penyediaan obat-obatan bagi warga sekitar. Namun, menurut warga perjanjian tersebut belum terlealisasikan dengan baik.

Kompensasi Tambahan Seorang warga, Asan yang tinggal di sekitaran TPST Bantargebang mengharapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bekasi lebih peduli terhadap masyarakat sekitar agar tidak hanya sekadar uang bau melainkan juga menyediakan fasilitas kesehatan dan infrastruktur seperti penerangan jalan dan memperbaiki saluran air.

"Sekarang sudah mulai memasuki musim hujan. Itu sangat merugikan bagi kami karena air tanah akan bercampur dengan air lindi, uang bau belum mampu menutupi kebutuhan hidup kami, setidaknya pemerintah harus lebih mempedulikan kesehatan, karena di sini banyak anak-anak" ujar Asan.

 Bantargebang

Antara telah mendatangi lokasi terlihat sejumlah truk sampah yang berlalu-lalang memasuki kawasan TPST Bantargebang namun pengemudi belum melalui jalur Kota Bekasi karena Pemerintah Kota Bekasi menerapkan pembatasan jam dan belum terselesaikannya kesepakatan kedua belah pihak.

"Saya mengantar sampah melewati jalur Jati Asih. Ada beberapa teman saya memilih untuk melewati Cibubur, karena masalah sampah ini belum terselesaikan lebih baik sehingga cari jalan aman," ujar seorang sopir yang membawa sampah Jakarta, Bibit.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini