Diduga Ini Motif Pembunuhan Satu Keluarga di Bojong Nangka Bekasi

Muhamad Rizky, Okezone · Rabu 14 November 2018 09:14 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 14 338 1977544 diduga-ini-motif-pembunuhan-satu-keluarga-di-bojong-nangka-bekasi-0OXYgddEvJ.jpg TKP pembunuhan satu keluarga di Bojong Nangka Bekasi. (Foto: Ist)

JAKARTA – Satu keluarga yang tinggal di sebuah rumah Jalan Bojong Nangka 2, RT 02 RW 07, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, ditemukan menjadi korban pembunuhan pada Selasa pagi kemarin. Korban yang masing-masing bernama Diperum Nainggolan (38), Maya Boru Ambarita (37), Sarah Boru Nainggolan (9) dan Arya Nainggolan (7) itu didapati sudah dalam keadaan tergeletak dan bersimbah darah.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, berdasarkan berbagai kasus yang dihadapi Polri, biasanya peristiwa seperti ini terjadi atas dasar motif dendam. Namun, tegas dia, pihaknya tidak mau menduga-duga sebab setiap kasus memiliki perbedaan.

(Baca juga: Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi Direncanakan?)

"Kalau pembunuhan yang sadis, dari pengalaman dan dari hasil yang ditangani kepolisian, kalau sadis dan yang dibunuh bukan satu orang, itu ada latar belakang dendam. Ini dari hasil pengalaman yang sudah dikerjakan kepolisian," tutur Dedi ketika berada di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Selasa 13 November 2018.

Ia menegaskan, namun polisi tidak boleh menduga seperti itu, mereka harus melihat dari fakta hukum. "Case per case itu tidak bisa dibandingkan apple to apple. Setiap case punya karakter sendiri, enggak bisa sama. Secara umum oke lah, kalau secara global ya itu bisa dibilang 'diduga'. Tapi, kasus pembunuhan sadis dan lebih dari satu orang, mayoritas karena dendam," sambung Dedi.

Dia mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah mendalami kasus ini dengan teliti. Pihaknya sampai sekarang masih memeriksa tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengungkap pembunuhan tersebut.

"Penyidik akan lihat fakta, apakah kasus pembunuhan atau hanya untuk mengelabui suatu peristiwa. Polisi harus matang, ada Labfor, ada Inafis, itu kita libatkan. Seluruh alat bukti yang ditemukan di TKP itu semuanya di-assesment, semuanya diambil," terang Dedi.

(Baca juga: Motif Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi Masih Didalami Polisi)

Terkait berapa lama penyelidikan TKP, Dedi mengatakan tergantung kasus yang dihadapi, sebab antara satu kasus dengan yang lainnya berbeda. Bahkan, tidak menutup kemungkinan penyelidikan dilakukan berulang-ulang untuk mengungkap kasus tersebut.

"Sangat tergantung pada case-nya. Itu juga penyidik kalau merasa di olah TKP pertama kurang mendapat (informasi), dia kan polanya kan spiral, jadi dari TKP dia keluar nanti misal dia di luar menemukan, dia kembali lagi ke TKP, diolah lagi. Dapat lagi, dia keluar lagi. Gitu terus sampai betul-betul menemukan alat bukti yang betul-betul membuat satu peristiwa itu semua terpenuhi dengan alat bukti," paparnya.

"Sehingga, polisi nanti akan meningkatkan status seseorang itu dari mulai saksi menjadi tersangka," tutupnya.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini