nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kali Asem Tercemar Air Lindi TPA Sumur Batu, Warga Bertahun-tahun Tak Konsumsi Air Tanah

Wijayakusuma, Jurnalis · Sabtu 01 Desember 2018 11:51 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 01 338 1985434 kali-asem-tercemar-air-lindi-tpa-sumur-batu-warga-bertahun-tahun-tak-konsumsi-air-tanah-3xbuBwm697.jpg TPA Sumur Batu milik Pemkot Bekasi, Jawa Barat. Foto: Okezone/Wijayakusuma

BEKASI – Pencemaran Kali Asem yang diduga akibat pembuangan air lindi oleh pihak pengelola Tempa Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, menyebabkan air tanah di sekitar wilayah itu menjadi tercemar.

Warga Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang dekat dengan lokasi TPA pun tak bisa menikmati air tanah selama bertahun-tahun.

Kiman Sumarwan, Ketua RW 01 Sumur Batu mengungkapkan, akibat pencemaran kali Asem, warga setempat sudah tidak bisa mengonsumsi air tanah lagi.

"Iya, kalau air tanah sudah tidak bisa diminum, sudah tahunan. Ada di wilayah RT 01 dan 02 (pencemaran air tanah) yang lokasinya nempel dengan TPST Bantargebang. Semestinya untuk pengolahan air lindi itu harus ada," kata Kiman kepada Okezone, Jumat kemarin.

Foto: Okezone/Wijayakusuma

Untuk pemakaian sehari-hari, kata Kiman, warga setempat kini hanya menunggu air sumur artesis yang kini masih dalam tahap pembangunan atas permintaan warga terdampak. Dana yang dikeluarkan untuk membangun berasal dari bantuan keuangan Pemprov DKI Jakarta.

"Warga berharap sumur artesis sesegera mungkin disalurkan untuk membantu kebutuhan air bersih warga Sumur Batu. Namun, kalau ada air lindi dibuang langsung ke Kali Asem, ya gak boleh, itu harus ada pengolahan," tegasnya.

Foto: Okezone/Wijayakusuma

Keluhan lain juga dilontarkan Neni Maryani (35), warga RT 01, RW 03 Kelurahan Sumur Batu. Menurutnya, air tanah yang dulunya biasa dikonsumsi warga, sudah tidak layak konsumsi lagi lantaran telah berubah warna dan berbau.

"Airnya bau dan kalau didiemin, lama-lama jadi kuning, kayak bekas besi direndam gitu. Tegel (batu ubin) kamar mandi juga pada kuning, kayak bekas air sawah gitu. (Air) bau besi, tapi awalnya bau sampah," tutur dia.

Neni mengaku untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, warga terpaksa membeli air mineral maupun isi ulang.

"Jadi warga kalau yang dekat-dekat sini enggak pake (pakai-red) air tanah, minum pake air isi ulang, buat masak juga," ungkapnya.

Foto: Okezone/Wijayakusuma

Neni berharap ada kompensasi yang dikucurkan pemerintah daerah kepada warga setempat, yang telah bertahun-tahun mengalami kerugian akibat pencemaran air tanah dari limbah air lindih yang dibuang ke kali Asem.

"Pemkot Bekasi enggak ngasih apa-apa sama kita. Kalau DKI per bulan kan ada ya. Misal, Lebaran juga nggak ada THR apa-apa, padahal kita yang paling dekat," imbuhnya.

Foto: Okezone/Wijayakusuma

Dugaan temuan pencemaran Kali Asem oleh PT Jatisibu Karya Anugerah selaku pihak ketiga pengelola TPA Sumur Batu, telah dilaporkan ke Pemkot Bekasi oleh Laskar Merah Putih (LMP).

"Jadi mendapati adanya temuan dugaan pencemaran Kali Asem. Dan kita sudah konfirmasi temuan ini ke pihak DLH. Mereka pun berjanji akan melakukan teguran," kata Ketua Departemen Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan LMP, Rusdi Legowo.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga telah melayangkan somasi kepada yang bersangkutan, atas tindakannya yang diduga sengaja membuang limbah air lindi ke kali Asem yang berada di zona II IPAS Bantargebang. Limbah tersebut dinilai sangat membahayakan ekosistem dan juga warga sekitar, karena mengandung unsur B3—Bahan Berbahaya dan Beracun.

"Kita sudah somasi pihak ketiga dan temuan pun kita sudah laporkan ke Pemkot Bekasi. Hal-hal pencemaran lingkungan seperti ini tidak bisa dibiarkan, karena masuk dalam ranah pidana," ujar Rusdi.

Foto: Okezone/Wijayakusuma

Terkait hal ini, pihaknya juga menduga telah terjadi praktik KKN dalam pengolahan limbah air lindi di TPA Sumur Batu.

"Diduga ada praktik KKN, karena untuk pengelolaan air lindi (leachet) ada anggarannya, tidak sembarang membuang ke Kali Asem. Harusnya sudah satu paket dengan proyek rehabilitasi. Lagipula ada tersedia perusahaan yang memiliki izin dari KLHK untuk mengelola limbah industri dan B3, salah satunya PPLI," paparnya.

Dari pantauan Okezone di lokasi, terpampang spanduk yang bertuliskan proyek rehabilitasi zona TPA Sumur Batu, dengan pelaksana proyek PT Jatisibu Karya Anugerah. Tidak tertera nominal pada proyek yang menggunakan dana APBD tersebut. Proyek dengan nomor SPMK 027/SPMK.04-R2TPASB/DINAS LH-PSL itu mencantumkan waktu pelaksanaan 70 hari kalender.

Sekadar diketahui, terdapat beberapa perumahan yang dilintasi kali Asem, di antaranya Dukuh Jamrud, Graha Mustika serta Mutiara Gading Timur (MGT).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini