Waspada! Pencemaran Udara di Serpong Dinilai Sudah Bahaya, Ini Penyebabnya

Hambali, Okezone · Senin 03 Desember 2018 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 03 338 1986225 waspada-pencemaran-udara-di-serpong-dinilai-sudah-bahaya-ini-penyebabnya-HOk1oR55qp.jpg Ilustrasi Pencemaran Udara (Foto: Okezone)

TANGERANG SELATAN - Wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel), khususnya yang berada di Kecamatan Serpong berada dalam ancaman polusi udara yang serius. Pasalnya, wilayah itu dikepung oleh beberapa wilayah lain tempat banyak beroperasinya peleburan aki liar.

Fakta itu diperoleh berdasarkan investigasi Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) sejak tahun 2001 silam. Dimana disebutkan, tingkat pencemaran udara di wilayah Serpong rata-rata mencapai 1,8 hingga 6 mikrogram per meter kubik, atau sekira 30 kali lipat dari batasan yang diberikan organisasi kesehatan dunia WHO, yakni hanya 0,2 Mikrogram per meter kubik.

"Ini sudah sangat parah, karena WHO kan hanya memperbolehkan 0,2 saja," kata Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif KPBB kepada Okezone, usai Workshop 'Membangun Pengelolaan Daur Ulang Aki Bekas Ramah Lingkungan' di Puspiptek Serpong, Tangsel, Senin (3/12/2018).

Kecamatan Serpong diapit oleh banyak wilayah yang terdapat peleburan aki-aki bekas liar yang tak berizin, diantaranya Cinangka, Lebak Wangi, Parung Panjang dan Cipondoh, totalnya tercatat ada sekira 71 titik yang tersebar di Jabodetabek. Sedangkan untuk wilayah Kota Tangsel sendiri, belum ditemukan adanya peleburan aki skala kecil.

"Sementara ini kami belum menemukan peleburan aki ilegal itu di Tangsel. Jadi memang Serpong itu hanya wilayah yang terdampak saja ruang udaranya," ucapnya.

Pencemaran Udara

Baca Juga: Waspada! Polusi Udara di Jakarta Semakin Parah, Berikut Penjelasan Dinas Lingkungan Hidup DKI

Menurut Safrudin, investigasi yang dilakukan KPBB berlangsung selama 3 tahun sejak tahun 2001. Lalu pada tahun 2004 barulah diungkap ke publik mengenai temuan pencemaran udara yang berasal dari peleburan aki bekas itu.

Untuk menguatkan hasil investigasi itu, ditambahkan dia, selanjutnya pada tahun 2005 KPBB mengadakan koordinasi dengan banyak pihak, termasuk Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memiliki teknologi untuk mengetahui tingkat pencemaran udara di suatu wilayah.

"Analisis berdasarkan data meteorologi BMKG menguatkan investigasi kita, bahwa memang langit udara Serpong itu dikotori oleh zat-zat hasil peleburan aki bekas," sambungnya.

Timbal atau timbel merupakan unsur kimia yang memiliki nomor atom 82 berlambang Pb. Efek yang ditimbulkan akibat menghirup timbal hasil pembakaran aki bekas tidak langsung dirasakan saat itu juga. Namun kebanyakan, para pekerja yang terlibat aktivitas peleburan aki bekas meninggal di usia yang relatif muda, yakni berkisar 30 hingga usia 40 tahun.

Ditambahkan Safrudin, dampak paling beresiko atas pencemaran udara melalui peleburan aki bekas secara liar berada pada radius 100 meter dari tempat peleburan. Sedangkan yang berada di luar itu hingga jarak 20 kilometer tak beresiko tinggi, meskipun dampaknya masih berbahaya.

"Dampaknya bisa mengurangi intelektual, daya intelektual, IQ-nya bisa turun. Setidak-tidaknya dia mengalami kesulitan belajar, pertumbuhan otak bagi balita bisa terganggu, pertumbuhan janin dan balita bisa mengarah down syndrom, cacat mental dan bisa juga menjadi cacat fisik," ungkapnya.

Timbal mengandung racun bagi tubuh manusia. Zat itu bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi, bahkan juga melalui udara, debu maupun air yang terkontaminasi timbal.

Pencemaran Udara

Batas toleransi timbal di dalam darah manusia tidak boleh lebih dari 5 mikrogram per desiliter. Parahnya, hasil penelitian terhadap masyarakat yang bermukim di sekitar area peleburan aki bekas bisa mencapai 25 hingga 30 mikrogram per desiliter atau lebih dari empat kali lipat dari ambang batas.

Masih kata Safrudin, solusi pencegahan atas pencemaran udara melalui peleburan aki bekas tak berizin itu tak bisa dilakukan sepotong-sepotong, terutama terhadap keberadaan peleburan aki bekas skala kecil yang tersebar di beberapa tempat.

"Jadi solusinya adalah, bagaimana mengajak pengelola peleburan aki bekas skala kecil itu bergabung menjadi satu, melalui koperasi, karena untuk membuat pengelola yang resmi sesuai standar teknologi itu kan biayanya mahal sekira 30 sampai 40 miliar. Sementara mereka yang liar ini hanya cukup modal Rp20 juta sudah bisa beroperasi," tukasnya.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini