Dilema Penggunaan GPS bagi Ojol, Takut Nyasar hingga Ditilang Polisi

Achmad Fardiansyah , Okezone · Sabtu 05 Januari 2019 09:03 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 04 338 2000138 dilema-penggunaan-gps-bagi-ojol-takut-nyasar-hingga-ditilang-polisi-GMsopbmwgD.JPG Pengemudi ojek online semakin menjamur di jalanan Ibu Kota Jakarta (Foto: Achmad Fardiansyah/Okezone)

JAKARTA - Terduduk di jok motor sambil asyik melihat layar ponselnya, sesekali pria berjaket hijau itu mengepulkan asap rokok yang dihisapnya. Dia adalah Haryanto, salah seorang pengemudi ojek online yang sehari-harinya mengaspal di jalanan ibu kota.

Pria berusia 39 tahun itu memilih bekerjasama dengan perusahaan transportasi berbasis daring lantaran upah yang ia dapat sebagai cleaning service tak cukup untuk menafkahi keluarganya.

Tak dipungkiri, tranportasi umum berbasis online belakangan semakin menjamur, terlebih di kota besar seperti Jakarta. Bahkan ojol, demikian karib disebut, perlahan sudah masuk ke desa-desa, meski jumlahnya belum signifikan.

Pria yang akrab disapa Yanto itu berhasrat untuk memperbaiki taraf hidupnya dengan menjadi driver ojol. Meski awalnya tak memiliki "kuda besi", Yanto lantas tak kehilangan akal. Ia memberanikan diri untuk meminjam sepeda motor saudaranya.

"Dulu saya pinjam motor ini dari saudara, lalu saya bayarin," kata Yanto mengawali perbincangan dengan Okezone belum lama ini.

Ojol Lipsus

Setelah kepemilikan motor itu resmi berpindah tangan, pemuda asal Cilacap, Jawa Tengah itu kemudian memodifikasi dashboard motornya agar ponsel miliknya tetap menempel pada speedometer. Bahkan, ia sengaja menambah aki khusus untuk meng-charge handphone setianya itu.

"Setelah saya lunasin (motor) saya beli boks buat helm dan jas hujan, terus saya pasang aki khusus buat cas HP sama ini perekat biar enggak jatuh," kata Yanto menjelaskan.

Di awal kariernya sebagai pengemudi ojek online (ojol), beragam pengalaman dialaminya seperti ada konsumen yang tiba-tiba saja membatalkan orderan makanan, hingga ditilang polisi gara-gara tidak fokus saat mengendarai motor.

Pengemudi ojol diakuinya kerap jadi sasaran polisi akibat sering bermain ponsel sambil mengemudi. Yanto tak menampik kerap melihat Global Positioning System (GPS) pada layar ponselnya sebagai penunjuk jalan ke lokasi tujuan, karena seringkali nyasar atau tersesat ketika hendak menjemput penumpang atau mengantar orderan pelanggan.

Saat pertama kali ditilang polisi karena melihat GPS pada telefon genggamnya, Yanto yang kebingungan secara spontan menanyakan alasan polisi menilangnya.

Infografis Ojol

"Pernah saya ditilang, itu pas posisinya saya lagi mau jemput penumpang di daerah perempatan Pasar Senen saya diberhentikan. Katanya saya ditilang karena lihat HP. Awalnya saya enggak tahu kalau itu melanggar," tuturnya.

Sejak saat itu, ia mengaku jadi jarang mengandalkan GPS maupun Google Maps pada smartphone-nya sebagai penunjuk arah. Terlebih risiko kecelakaan diakuinya berpotensi terjadi akibat tidak konsentrasi mengemudi.

"Ia banyak (kecelakaan), ngeri sih ada tapi terkadang kita yang lupa (perhatikan GPS), tapi selama ini belum ada penumpang komplain," ucap Yanto.

Seiring berjalannya waktu menggeluti pekerjaan sebagai pengemudi ojol, perlahan tapi pasti, Yanto mulai menguasai jalanan ibu kota. Ayah dua anak itu kini sudah lihai mencari "jalan tikus" untuk mencari rute tercepat untuk sampai ke tempat tujuan.

"Lama-lama saya tahu lah. Asal patokannya saja. Peta paling bantu pas saya sebelum jalan," katanya di ujung cerita.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini