Saat Penggunaan GPS Ancam Keselamatan Penumpang & Driver Ojek Online

Wijayakusuma, Okezone · Sabtu 05 Januari 2019 12:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 04 338 2000144 saat-penggunaan-gps-ancam-keselamatan-penumpang-driver-ojek-online-PYlnMMHwqo.jpg Foto: Wijayakusuma/Okezone

BEKASI - Perkembangan teknologi yang kian pesat saat ini, membawa dampak yang cukup besar pula bagi kemajuan pembangunan di Tanah Air. Contohnya di bidang transportasi yang mengalami kemajuan cukup signifikan, yang mana salah satunya ditandai dengan bermunculannya ojek online (ojol) di berbagai wilayah.

Seiring waktu, kebutuhan masyarakat terhadap ojek berbasis aplikasi ini semakin tinggi, yang kemudian membuat keberadaan ojol terus menjamur terutama di kota-kota besar. Namun sayangnya, peningkatan jumlah pengemudi (driver) ojol tak diimbangi dengan peningkatan fasilitas keamanan dan keselamatan bagi para penumpangnya.

Driver ojol seperti diketahui selalu menggunakan perangkat GPS saat beroperasi. Kondisi inilah yang kemudian menjadi boomerang, lantaran driver kerap bolak balik memainkan ponsel untuk mengetahui rute jalan yang ditujukan penumpang. Hal ini jelas sangat membahayakan, baik untuk sang driver maupun penumpangnya.

"Yang pertama saya buat cari alamat rumah kan. Nggak mungkin kan kalau kita nggak lihat GPS, kita nggak tahu rumah costumer. Sedangkan kita kadang-kadang kan kalau kita dapat customer, misalkan di kampung orang kan kita nggak tahu wilayah situ, itu penting," kata Arman, seorang driver Gojek kepada Okezone di Bekasi, Kamis (3/1/2019).

Menurut warga Jatimulya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat itu, pemantauan GPS sangat penting bagi driver khususnya untuk mengantar pesanan customer, seperti makanan dan barang lainnya.

"Biasanya dipantau itu kalau kita lagi cari alamat rumah ya. Kalau nganter-nganter sejenis go food, itu biasanya penting itu kalau GPS. Cuma kita nggak selalu setiap saat kita perhatiin lah, paling nggak kita baca dulu," ujarnya.

Meski demikian, Arman mengaku lebih fokus pada keselamatan penumpang, dengan bertanya langsung kepada customer untuk pemilihan rute jalan, ketimbang memantau GPS.

"Makanya kadang-kadang kalau mau ngebaca GPS, saya selalu minggir. Kalau sambil bawa motor saya ngeri juga, takut ketabrak dari belakang. Apalagi kalau posisinya lagi bawa customer, saya nggak berani mainan ponsel. Ada orang nelepon pun, saya nggak berani angkat, karena memang fokus bawa kendaraan," akunya.

"Paling biar lebih enak dan pasti, saya langsung nanya ke customer langsung. Bu, mohon maaf nih, saya kan bukan orang sini. Jadi tolong arahin tempatnya Bu. Kalau dijawab, kan ada GPS mas, iya bu takutnya kan kita kenapa-kenapa, daripada kita berkendaraan kan takutnya bahaya doang. Kan lebih simple ibu tolong arahin lah jalannya," kata Arman menirukan dialognya dengan customer.

Pihak Gojek sendiri diakui Arman sudah pernah membahas terkait masalah ini, namun belum ada kelanjutan. Disinggung juga sama. Waktu kita RDL itu diajarin juga masalah seperti itu. Masalah keselamatan kendaraan, suruh menepi," tandasnya.

Fajar, warga komplek Betos Bekasi Timur mengatakan, selama ini ia terpaksa menggunakan jasa ojol untuk sampai di lokasi kerja, lantaran tidak memiliki sepeda motor. "Ya kita kan di sini kerja dari kampung, belum punya kendaraan sendiri lah. Jadi kita mau nggak mau pasti pakai jasa gitu (ojol)," ujarnya.

Kendati hampir setiap hari, ia mengaku masih diliputi rasa khawatir setiap kali menumpang ojol. Terlebih jika mendapat driver ojol yang sering bermain ponsel saat mengendarai.

"Setiap orang kan pasti ada rasa khawatir tersendiri, apalagi kita posisinya dibonceng ya. Jadi ya beda aja kalau bawa motor sendiri sama dibonceng, lebih takut yang dibonceng. Ya kalau bisa mah saat mengendarai motor itu, di stop dulu lah main handphonenya. Jangan mentang-mentang kita ngejar target, sambil liat-liat ponsel gitu," ungkapnya.

Terkait aksi kejahatan yang juga sering menimpa penumpang ojol, membuat Fajar lebih waspada dan berhati-hati saat menggunakan layanan ini.

"Kalau takut sih pasti takut ya, namanya orang. Terus sekarang kan banyak modus yang pakai ojek online, padahal bukan. Antisipasinya saya lihat dari aplikasi kelihatan ya motornya apa, orangnya kaya gimana. Yang penting kalau sekiranya tujuan sesuai jalur, ya kita ikutin. Kalau sudah melenceng ke tempat-tempat gimana, kita tegur atau kita teriak," imbuhnya.

Sementara, Kasubag Humas Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Erna Ruswing menyampaikan, para driver ojol yang kedapatan bermain ponsel saat berkendara, akan dikenakan sanksi tilang sesuai Undang-Undang Pasal 106 Nomor 22 Tahun 2009.

"Sanksi lain Pasal 287 ayat (3), setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar aturan gerakan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf d, atau tata cara berhenti dan parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf e, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp250ribu," tegasnya.

Menurutnya, sejauh ini sanksi yang dikenakan kepada driver ojol yang melanggar aturan, dinilai sudah cukup efektif untuk memberikan efek jera.

"Tidak hanya sanksi tilang saja, tapi sudah seringkali polisi memberikan sosialisasi kepada masyarakat dengan tidak bosan-bosannya. Semua kembali lagi kepada kesadaran masyarakat itu sendiri. Kalau yang masih ada melanggar, ya berarti mereka belum sadar hukum," imbuhnya.

Ditambahkan Erna, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan penyelenggara ojol untuk melakukan penertiban lalu lintas, ditengah menjamurnya driver ojol saat ini.

"Koordinasi dengan pihak ojek online hanya terkait penyuluhan untuk selalu tertib berlalu lintas dan penindakan apabila melakukan pelanggaran," pungkasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini