Larangan Penggunaan GPS bagi Ojek Online Masih Perlu Sosialisasi

Mufrod, Okezone · Sabtu 05 Januari 2019 10:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 04 338 2000145 larangan-penggunaan-gps-bagi-ojek-online-masih-perlu-sosialisasi-EVuC4EASje.jpg ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA - Kejar target pendapatan dengan cara berkendara mencari lokasi penumpang melalui Global Positioning System (GPS) kerap kali dilakukan pengendara ojek online sambil berkendara di jalan raya. Perilaku seperti itu tentu sangat berisiko besar akan terjadinya kecelakaan.

Pengendara sepeda motor sendiri sejatinya membutuhkan konsentrasi lebih besar jika dibanding dengan pengemudi mobil. Mengingat, saat berkendara pemotor hanya memiliki waktu sepersekian detik untuk melakukan manuver pengendalian sepeda motornya ketika ada halangan ataupun menghindari penyeberang jalan.

Nah, kondisi pengemudi ojek online yang sering memainkan telefon genggam alias ponsel saat mencari posisi penumpang ketika penjemputan, terkadang sering mengabaikan keselamatan dirinya sendiri.

Bahkan, terkadang banyak pengendara yang melakukan pengendalian sepeda motor dengan satu tangan lantaran sembari memegang ponsel.

Ojol Mangkal

Ketika terjadi hambatan saat berkendara, dapat dipastikan pengendara tidak dalam posisi siap dan berisiko besar terjadi kecelakaan.

Kecepatan sepeda motor dan kurang maksimalnya pengendalian si "kuda besi" merupakan kondisi yang bisa menyebabkan pengendara rentan mengalami kecelakaan.

Pihak berwenang, dalam hal ini Kakorlantas dan Dirlantas Polri sendiri terus melakukan kampanye larangan penggunaan ponsel baik saat sedang berkendara maupun mengemudi. Meski aturan dalam Undang-Undang Nomor 2009 Pasal 160 ayat 1 juncto Pasal 283 tidak secara spesifik mengatur larangan tersebut.

Adapun penggunaan GPS melalui ponsel, sebenarnya tidak ada larangan baku selama tidak mengganggu konsentrasi si pengendara ataupun pengemudi.

Infografis Ojol

"Kakorlantas dan Dirlantas serta seluruh masyarakat peduli (agar) tidak ada yang pakai HP saat mengemudi. Kami minta hal ini disosialisasikan kepada masyarakat," ujar Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi), Edi Hasibuan saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Untuk diketahui, dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Pasal 106 ayat 1 telah disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Sementara itu, dalam Pasal 283 disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp750.000.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini