Pengamat: Polisi Jangan Pandang Bulu Tindak Ojol Nakal

Achmad Fardiansyah , Okezone · Sabtu 05 Januari 2019 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 04 338 2000186 pengamat-polisi-jangan-pandang-bulu-tindak-ojol-nakal-0HOSovIESa.jpg Ilustrasi ojek online (Foto: Ist)

JAKARTA - Keberadaan transportasi umum berbasis aplikasi seperti ojek online (ojol) hingga kini masih menuai pro kontra. Selain legalitas aturan, standar keamanan berkendara juga menjadi sorotan tajam.

Hal tersebut diakui pengamat transportasi publik dari Institute for Transportation and Development Policy, Yoga Adiwinarto. Pemerintah saat ini, kata Yoga, hanya fokus pada ranah keselamatan si pengemudi maupun penumpang, bukan pada pengaturan terhadap status transportasi umum.

"Katakanlah itu ilegal, memang tidak boleh angkut penumpang. Memang motor enggak boleh angkut penumpang di belakangnya? Kan enggak. Jadi, pemerintah itu hanya melihat di ranah keselamatan, dipastikan bahwa motornya bagus yang kedua harus menggunakan helm yang standar dan macam-macam. Jadi, tanpa ada harus pengakuan di undang-undang secara resmi," ucapnya kepada Okezone belum lama ini.

Menanggapi penggunaan Global Positioning System (GPS) saat berkendara, Yoga mengaku tidak mempersoalkannya sepanjang pengemudi dapat menjaga konsentrasi saat berkendara. Namun, kalau sudah mengganggu konsentrasi, polisi tidak boleh pandang bulu melakukan penindakan hukum. 

"Masalah GPS ya kita kembali lagi pada peraturan pokoknya. Kita jangan beda-bedain antara ojek online sama pengendara motor biasa. Sekarang kalau kita pasang Google Maps atau GPS itu biasanya ada menu di mana langsung ngasih tahu melalui suara. Jadi ya sudah, itu berarti harus diimbau (sosialisasi) memanfaatkan itu," jelasnya.

Inforgrafis

Untuk diketahui, peraturan tentang disiplin berkendara sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Pasal 106 Ayat (1). Di dalamnya disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan raya, wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telefon atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan.

Kemudian, dalam Pasal 283 disebutkan pula bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp750.000.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini