Share

5 ABG Dijual ke Bali Jadi Pemuas Syahwat, 3 di Antaranya dari Bekasi

Wijayakusuma, Okezone · Senin 07 Januari 2019 20:47 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 07 338 2001227 5-abg-dijual-ke-bali-jadi-pemuas-syahwat-3-di-antaranya-dari-bekasi-7oLZVGojM2.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

BEKASI - Lima anak di bawah umur menjadi korban perdagangan anak di Provinsi Bali. Kelima korban dipekerjakan di sebuah tempat hiburan dan dipaksa untuk memuaskan para lelaki hidung belang yang datang ke lokasi.

Dari informasi yang dihimpun Okezone, awalnya ada 6 korban yang masih anak baru gede (ABG), namun hanya 5 yang berhasil diamankan.

Kelima korban sebut saja Bunga (17), Mawar (14), Melati (14), Tulip (15) dan Anggrek (16). Namun, tiga di antaranya, yakni Mawar, Melati dan Anggrek, diketahui merupakan warga Kota Bekasi, Jawa Barat.

(Baca Juga: Nyamar Jadi Pelanggan, Polisi Bongkar Prostitusi Anak Online di Jakarta

Mereka sehari-hari dipajang dan ditawarkan kepada para pelanggan pria oleh sang mucikari. Kasus ini sendiri terbongkar usai polisi melakukan penggerebekan, pada Jumat 4 Januari 2019.

 Ilustrasi

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bekasi hingga saat ini intens menjalin koordinasi dengan KPAID Bali, terkait keberadaan para korban yang masih diamankan di Bali.

"Menurut mereka di Bali, bahwa korban sekarang sudah berada di rumah aman. Alhamdulillah kalau mereka sudah berada di rumah aman, sehingga kita berkoordinasi tentang penjemputan," kata Rusham, Wakil Ketua KPAID Kota Bekasi kepada Okezone saat menyambangi lokasi yang diduga sebagai kediaman salah satu korban, di Jalan Dukuh, Duren Jaya, Bekasi Timur, Senin (7/1/2019).

Dalam proses penjemputan, kata dia, KPAID Bali akan melayangkan surat terlebih dulu ke Pemprov Jawa Barat, dan setelahnya ke KPAID Kota Bekasi. Kemudian, KPAID Kota Bekasi akan berkoordinasi lagi untuk upaya pendampingan dan pemberian konseling kepada para korban, serta menempatkan mereka di rumah aman jika memang diperlukan.

"Persoalan terkait dengan kasus hukum dan lainnya, nanti teman-teman kepolisian yang akan mengusut. Sehingga nanti KPAID dan kepolisian akan berkoordinasi secara terus-menerus. Kami wilayahnya adalah bagaimana menangani si korban secara psikologis. Karena mereka awalnya ditawarkan bekerja di salah satu restoran di Bali. Tapi sampai di Bali ternyata dipekerjakan di suatu tempat hiburan seperti prostitusi," paparnya.

(Baca Juga: ABG di Tangerang Dijual Temannya ke Pria Hidung Belang

Rusham mengaku masih terus melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengetahui secara detail alamat kediaman para korban, yang hingga kini masih belum ditemukan. Lokasi kediaman korban yang didatangi KPAID Kota Bekasi pun, ternyata bukan alamat korban sesungguhnya. KPAID Bali diduga sengaja menyamarkan alamat korban, lantaran kasus masih dalam proses penyidikan Polda Bali.

"Tetapi mungkin oleh teman-teman kepolisian di Bali alamat jelasnya mungkin sehari dua hari ini baru akan di-share ke kami, sehingga nanti bisa kami koordinasi juga dengan orangtuanya terkait dengan advokasi tadi. Sehingga kita memberi kabar agar tidak panik dan seterusnya. Kan butuh konseling juga dari sisi orangtuanya begitu," jelasnya.

Ilustrasi 

Sementara, Dewan Penasehat KPAID Kota Bekasi, Nyimas Sakuntala Dewi mengatakan, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan anak di Provinsi Bali, bisa terjadi akibat lemahnya pengawasan orangtua terhadap anak.

"Para pelaku memanfaatkan situasi lemahnya pengawasan orangtua terhadap anaknya," katanya.

Menurutnya, KPAID Kota Bekasi bersama jajaran dan DP3A Kota Bekasi akan terus berkoordinasi dengan KPAID Provinsi Bali dan P2TP2A Provinsi Bali, untuk memantau perkembangan kasus ini.

Nyimas menyebutkan, Pasal 76F Undang-Undang Perlindungan Anak (UU 35/2014 tentang perubahan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak), menegaskan bahwa "Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh, melakukan, atau turut serta melakukan penculikan, penjualan, atau perdagangan anak.

"Sanksinya pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp60 juta dan paling banyak Rp300 juta," ujarnya.

Nyimas menjelaskan, pengertian perdagangan orang yang dirumuskan dalam Undang-Undang Pemberantasan Perdagangan Orang, yakni menyangkut tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat.

"Sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi," pungkasnya.

Wakapolres Metro Bekasi Kota, AKBP Eka Mulyana saat dikonfirmasi mengatakan, kasus ini masih dalam penyelidikan pihaknya. "Masih dilidik, masih didalami anggota," singkatnya di Mapolres Metro Bekasi Kota.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini