nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Uang Panas Lahan Makam, Sudah Mati pun Masih Harus Keluar Biaya

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Sabtu 12 Januari 2019 09:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 11 338 2003288 uang-panas-lahan-makam-sudah-mati-pun-masih-harus-keluar-biaya-vVxxl0QnsX.JPG TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat (Foto: Puteranegara/Okezone)

JAKARTA - Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan semasa hidup, setelah meninggal dunia manusia juga masih harus keluar uang. Ya, ahli waris jenazah harus merogoh kocek untuk menyiapkan segala sesuatu terkait pemakaman. Kondisi ini lantas dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk meraup keuntungan pribadi.

Ya, praktik peredaran "uang panas" untuk keperluan pemakaman jenazah bukanlah hal tabu. Uang "pelicin" seakan menjadi syarat wajib agar proses gali tutup kuburan urusannya menjadi gampang. Banyak yang harus dipersiapkan ahli waris untuk mengebumikan sanak keluarganya yang meninggal dunia.

Setidaknya, ahli waris harus merogoh kocek awal sekitar Rp500 ribu untuk diberikan kepada penggali kubur, seperti yang terjadi di Taman Pemakaman Umum (TPU) Cipinang, Jakarta Timur. Lima lembar pecahan Rp100 ribu jadi syarat mutlak sebagai upah untuk tiga orang yang berurusan dengan liang lahat.

"Pas mau nguburin tiba-tiba ada tukang gali kubur yang samperin terus bilang ada upah Rp500 ribu buat gali tutup kuburan," kata seorang ahli waris yang memakamkan saudara perempuannya di TPU Cipinang, Wati (29) saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.

TPU Cipinang Jaktim/Okezone

Proses pemakaman di Ibu Kota memang sejatinya tidak dipungut biaya dari pihak pengelola. Sang ahli waris hanya diminta melengkapi syarat administrasi, berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan surat keterangan kematian dari pihak rumah sakit.

Setelah proses itu, pengelola akan menerbitkan surat keterangan bahwa jenazah tersebut akan dimakamkan di TPU yang dituju. Kemudian, pihak keluarga diminta untuk menyerahkan surat tersebut ke petugas gali kubur di pemakaman tersebut.

Tak hanya itu, pengelola makam juga mensosialisasikan bahwa nantinya ada biaya perpanjangan makam satu jasad per tiga tahun sekali. Biayanya bahkan terkadang menembus ratusan ribu rupiah, tergantung di blok mana jasad tersebut ditanam. Selain itu, tidak ada biaya tambahan apapun.

Sebagaimana tertuang dalam aturan tarif pemakaian lahan pemakaman yang diatur dalam Perda DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2015 tentang Retribusi Daerah. 

Nah, pada proses ini seringkali dijadikan celah oleh para oknum penggali kubur untuk mencari keuntungan, di balik kesedihan yang sedang dialami ahli waris. Mereka pasti langsung menyinggung soal biaya kepada keluarga almarhum sebelum liang lahat digali. Padahal, dari pengelola makam sendiri sudah menggratiskannya bagi masyarakat umum.

Infografis Makam

"Saat mengurus administrasi ke pengelola makam di kantornya itu enggak dipungut biaya. Tapi setelah nemuin tukang gali, tiba-tiba langsung dipatok tarif gali," ucap Wati yang menguburkan saudaranya sekitar tiga bulan lalu.

Lantaran sedang dalam suasana berkabung, ahli waris mau tidak mau harus rela menerima tawaran si penggali kubur. Selain itu, rasa iba kepada penjaga makam menjadi dasar keluarga sudi mengeluarkan uang untuk proses pemakaman jenazah.

Biasanya, tim gali kubur beranggotakan tiga orang untuk menggali satu lubang. Nantinya, uang Rp500 ribu itu akan dibagi rata kepada mereka.

Setelah sepakat, penggali kubur akan langsung mengantar ahli waris ke lokasi penguburan. Sesampainya di makam, tukang gali kubur ini langsung meminta pembayaran awal atau DP yang telah disepakati oleh ahli waris. Sedangkan sisanya, setelah prosesi penguburan selesai.

"Ya, namanya dalam keadaan duka saya tidak terlalu permasalahkan uang yang diminta untuk gali kuburan," ujarnya yang saat itu memakamkan almarhum saudarinya. (put)

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini