nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Sosok Wijaya, sang Perawat Makam di TPU Karet Bivak

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Sabtu 12 Januari 2019 11:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 11 338 2003299 mengenal-sosok-wijaya-sang-perawat-makam-di-tpu-karet-bivak-EgpiexVwcS.JPG Wijaya, perawat makam di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat (Foto: Puteranegara/Okezone)

JAKARTA - Sore itu, Wijaya sibuk membersihkan dan memasukkan potongan rumput liar yang merusak pemandangan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat. Sampah-sampah itu dikumpulkannya satu persatu bersama tim sesama perawat makam di taman pemakaman itu.

Wijaya, adalah salah satu perawat makam yang biasa bertugas di Blad atau Zona A TPU Karet Bivak. Di kawasan ini, dia bertugas sebagai penanggung jawab. Hidup sehari-hari di kelilingi kuburan sudah jadi hal biasa bagi Wijaya. Total 18 tahun sudah ia bergelut dengan tempat yang dianggap sebagian orang sebagai tempat angker.

"Dari tahun 2000 main kuburan sih. Tapi kerja serabutan juga," kata Wijaya mengawali perbincangan dengan Okezone belum lama ini.

Ia sebelummya tidak menerima gaji bulanan seperti saat ini sebagai petugas makam. Namun, setelah empat tahun belakangan, ia akhirnya menjadi penjaga makam yang mendapatkan gaji tiap bulannya senilai Upah Minimun Regional (UMR) DKI Jakarta Rp3,9 juta. "Gaji itu sudah termasuk perawat makam dan gali kubur juga," tuturnya.

Perawat Makam Karet Bivak

Dengan gajinya, Wijaya berjuang untuk menyekolahkan keempat orang anaknya. Saat ini, dia telah berhasil mengantar dua anaknya ke bangku pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Namun dirinya mengaku, uang yang diterima setiap bulannya hanya cukup untuk menenuhi kebutuhan sehari-hari. Kendati begitu, Wijaya enggan mengeluh. Baginya, apa yang menjadi suratan takdir adalah proses kehidupan yang harus rela diterima.

"Alhamdulillah kami rumah ngontrak dan ada dua anak saya lagi masih belum sekolah. Lagi ngumpulin uang terus untuk anak," paparnya.

Meski sedang membutuhkan uang, Wijaya mengaku tak pernah memanfaatkan profesinya untuk mendapatkan rezeki yang tidak halal.

Infografis Makam

Padahal, sebagai tukang gali kubur dirinya sering ditawari uang oleh ahli waris sebagai upah untuk buka tutup kuburan. Akan tetapi, Wijaya memilih tak menerimanya, lantaran tidak mau menambah duka membebankan keluarga yang ditinggalkan. Terlebih pemakaman di TPU Karet Bivak bebas dari segala biaya untuk warga.

Sekalipun ada biaya, ahli waris hanya diminta untuk membayar biaya retribusi sewa lahan yang dibayarkan per tiga tahun sekali. Paling mahal Rp100 ribu dan termurah tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis.

"Tidaklah (dipungut pungli-red), sudah gratis semua. Kami sudah dipesankan semua, karena dari dalam (pengelola) sudah dijelaskan juga kalau semua gratis," ucap Wijaya mengakhiri.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini