nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tanah Kosong Makin Langka, Biaya Pemakaman Kian Mahal

Wijayakusuma, Jurnalis · Sabtu 12 Januari 2019 11:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 12 338 2003486 tanah-kosong-makin-langka-biaya-pemakaman-kian-mahal-XLTCuvHXei.jpg Kondisi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pedurenan, Bekasi (foto: Wijayakusuma/Okezone)

BEKASI - Kebutuhan masyarakat terhadap lahan pemakaman menjadi suatu yang penting untuk dipikirkan pemerintah sebagai pihak yang berwenang untuk pengadaan fasilitas ini. Dalam hal ini, tentunya pemerintah juga berhak mengatur kebijakan yang berkaitan erat dengan pemakaman tersebut.

Berbeda dengan zaman dulu, saat ini ketersediaan lahan kosong justru semakin berkurang terutama di kota-kota besar. Hal ini semakin menyulitkan masyarakat seiring harga jual tanah yang terus melambung. Kondisi ini pun berbanding lurus dengan biaya makam baru serta perawatan yang turut mengalami peningkatan.

(Baca Juga: Uang Panas Lahan Makam, Sudah Mati pun Masih Harus Keluar Biaya) 

Infografis Lahan Makam (foto: Okezone)

Seperti yang terjadi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Padurenan, Jalan Bantargebang Setu, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat. Di TPU yang baru beroperasi awal tahun 2016 ini, biaya makam baru dan biaya perawatan dinilai melebihi standar yang ditentukan.

Berdasarkan aturan, biaya pemakaman baru dikenakan Rp100ribu dan perpanjangan sebesar Rp75ribu per tiga tahun sekali. Di samping itu, wacana penghapusan tarif yang menjadi kebijakan Pemkot Bekasi di tahun 2018, nyatanya belum juga terealisasi hingga saat ini.

"Kalau biaya awal sih sekitar Rp250ribu, sudah jadi sama rumput sama marmernya. Kalau perawatan itu sih Rp300ribu (per tahun), perawatan untuk rumputnya," kata Sulistio Wasito, ahli waris warga Kampung Ciketing Asem, Mustikajaya, Kota Bekasi kepada Okezone, saat berziarah ke makam sang ayah.

Tempat Pemakaman Umum (TPU) Padurenan, Bekasi (foto: Wijayakusuma/Okezone)	Tempat Pemakaman Umum (TPU) Padurenan, Bekasi (foto: Wijayakusuma/Okezone) 

Meski demikian, pria bertubuh tambun itu menyebutkan selama ini tidak pernah ada pungutan liar (pungli) yang dimintai petugas maupun pengerja di TPU tersebut. Ia hanya memberikan upah sukarela bagi pengerja makam yang sudah merawat kuburan almarhum ayahnya.

"Enggak ada biaya-biaya lain sih, cuma kalau kita mau kasih ikhlas, ya enggak masalah. Cuma kalau enggak, enggak pernah ditagihin sih kita, enggak pernah dipungut," ujarnya.

Di luar asumsi yang menyebut makam akan ditumpang tindih bila lama tidak membayar perpanjangan sewa, Sulistio mengaku tidak pernah telat untuk membayar kewajibannya sebagai ahli waris makam. Pihak keluarga pun tidak merasa keberatan terkait biaya yang dipatok pengelola TPU Padurenan.

"Waduh kurang tahu deh (soal tumpang tindih), di surat itu saya belum baca sama sekali. Cuma istilahnya namanya orangtua ya kan pasti kita rawat lah, gitu aja," akunya.

Tempat Pemakaman Umum (TPU) Padurenan, Bekasi (foto: Wijayakusuma/Okezone)Tempat Pemakaman Umum (TPU) Padurenan, Bekasi (foto: Wijayakusuma/Okezone) 

Ke depannya Sulistio berharap, pemerintah daerah selaku pihak pengelola dapat lebih meningkatkan pelayanan dalam hal perawatan makam.

"Harapannya sih kalau soal biaya InsyaAllah kita siap, cuma untuk perawatan biar lebih baik aja, lebih ditingkatkan dan benar-benar dirawat aja," imbuhnya.

Sementara Nasir (40) salah seorang perawat makam di TPU Padurenan mengatakan, sehari-hari hanya bergantung pada hasil yang diperoleh dari sumbangan sukarela para peziarah yang datang.

"Saya sudah 7 bulan (bekerja), belum dapat gaji, masih magang. Kalau saya ngandelin dari ahli waris gini, orang ziarah ngasih Rp10-20 ribu," ujar pria warga Kaliabang Utara, Kota Bekasi itu.

(Baca Juga: Biaya Pemakaman di TPU Milik Pemkot Tangerang Sentuh Angka Jutaan Rupiah) 

Meski terbilang kecil, namun Nasir tetap bersyukur masih bisa menghidupi keluarganya dengan rezeki yang halal. "Untuk biaya hidup Alhamdulilah ada aja sih, namanya juga rezeki," akunya.

Nasir mengaku tidak pernah terlibat dalam hal pesanan kavling makam dari kalangan orang berduit. Ia juga tidak pernah mendengar hal tersebut di TPU Padurenan yang memiliki luas 12 hektare tersebut.

"Kalau saya enggak bisa (bantu-bantu jatah kavling makam). Saya juga kurang tahu (soal honornya). Belum pernah dengar sih soal begitu di sini," pungkasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini