nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kelembapan Udara Cukup Tinggi, 3 Wilayah di DKI Ini Rawan DBD

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 21 Januari 2019 09:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 21 338 2007122 kelembapan-udara-cukup-tinggi-3-wilayah-di-dki-ini-rawan-dbd-3TFiwnnnqF.jpg Ilustrasi nyamuk aedes aegypti. (Foto: Ist)

JAKARTA – Wilayah Jakarta Selatan, Barat, dan Timur merupakan tiga daerah yang rawan diserang penyakit demam berdarah dengeu (DBD) ketika curah hujan meningkat. Berdasarkan penelitian, ketiga wilayah itu memiliki tingkat kelembapan udara yang cukup tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, jika semakin tinggi probabilitas kelembapan udaranya (>75 persen), maka semakin tinggi pertumbuhan nyamuk aedes aegypti. Nyamuk penyebab DBD itu hidup paling banyak pada Januari hingga Maret.

Adapun prediksi probabilitas kesesuaian kelembapan udara pada lima wilayah Ibu Kota pada Januari 2019 yakni di Jakarta Barat: 77 persen; Jakarta Selatan: 76 persen; Jakarta Timur: 77 persen; Jakarta Pusat: 74 persen; Jakarta Utara: 73 persen.

Sementara prediksi pada Februari, Jakarta Timur: 81 persen; Jakarta Selatan: 80 persen; Jakarta Barat: 79 persen; Jakarta Pusat: 77 persen; Jakarta Utara: 77 persen. Lalu terakhir prediksi pada Maret, Jakarta Timur: 81 persen; Jakarta Selatan: 80 persen; Jakarta Barat: 79 persen; Jakarta Pusat: 77 persen; Jakarta Utara: 77 persen.

(Baca juga: Curah Hujan Meningkat, Jakarta "Dihantui" Wabah DBD)

"Dari data tersebut, prediksi angka insidensi DBD bulan Januari yang masuk kategori waspada terdapat di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. Pada bulan Februari dan Maret 2019, seluruh wilayah dalam kategori waspada," jelas dia dalam keterangannya, Senin (21/1/2019).

Widyastuti memaparkan, kasus DBD di DKI Jakarta pada Januari hingga 31 Desember 2018 tercatat 2.947 kasus DBD. Pada awal 2019, tepatnya di bulan ini, telah tercatat sebanyak 111 kasus DBD.

"Namun, tidak terdapat adanya kematian dari kasus tersebut," terangnya.

Ilustrasi pasien demam berdarah. (Foto: Ist)

Dia memaparkan, bentuk sistem kewaspadaan dini dapat dilakukan seluruh lapisan masyarakat dalam rangka antisipasi DBD. Kemudian juga melakukan upaya-upaya pengendalian DBD dengan berbagai kegiatan positif.

(Baca juga: 16 Warga Kabupaten Bengkayang Terserang DBD)

"Seperti melakukan peningkatan PSN 3M (menguras, menutup, mendaur ulang) tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, plus kegiatan lainnya dalam mengurangi gigitan nyamuk," paparnya.

Ia menambahkan, pihaknya melakukan pemantauan ketat melalui sistem surveilans DBD berbasis daring sejak 2005 dengan melibatkan 160 rumah sakit serta puskesmas di seluruh Ibu Kota.

"Bentuk kegiatan pelatihan untuk para jumantik sekolah telah dilakukan oleh puskesmas bekerja sama dengan organisasi profesi maupun perguruan tinggi di beberapa sekolah di wilayah Jakarta," jelasnya.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini